Login Form

Pangi Syarwi Chaniago

"Bersama Membangun Bangsa"

“Barbara Harvey Sillar, Permesta, Pemberontakan Setengah Hati, Jakarta: Grafiti, Bab 4. Dari Kemelut ke Pertentangan”

Pangi Syarwi Chaniago

Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (biasa disingkat dengan PRRI) merupakan salah satu gerakan pertentangan antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat (Jakarta) yang dideklarasikan pada tanggal 15 Februari 1958 dengan keluarnya ultimatum dari Dewan Perjuangan yang dipimpin waktu itu oleh Letnan Kolonel Achmad Husein di kota Padang, provinsi Sumatera Barat, Indonesia.

Kemudian gerakan ini mendapat sambutan dari wilayah Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah, dimana pada tanggal 17 Februari 1958 kawasan tersebut menyatakan mendukung PRRI. Konflik yang terjadi ini sangat dipengaruhi oleh tuntutan keinginan akan adanya otonomi daerah yang lebih luas. Selain itu ultimatum yang dideklarasikan itu bukan tuntutan pembentukan negara baru maupun pemberontakan, tetapi lebih kepada konstitusi dijalankan. Pada masa bersamaan kondisi pemerintahan di Indonesia masih belum stabil pasca agresi Belanda, hal ini juga memengaruhi hubungan pemerintah pusat dengan daerah serta menimbulkan berbagai ketimpangan dalam pembangunan, terutama pada daerah-daerah di luar pulau Jawa.

Read more:

Pangi Syarwi Chaniago: Penguatan Nation State

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

Saat ini bangsa Indonesia, masih mengalami krisis multidimensi yang menggoncang kehidupan kita. Sebagai salah satu masalah utama dari krisis besar itu adalah ancaman disintegrasi bangsa yang hingga saat ini masih belum mereda. Secara umum integrasi nasional mencerminkan proses persatuan orang-orang dari berbagai wilayah yang berbeda, atau memiliki berbagai perbedaan baik etnisitis, social budaya, atau latar belakang ekonomi, menjadi satu bangsa terutama karena pengalaman sejarah dan politik yang realatif sama.

Proses pembentukan persatuan bangsa dengan adanya semboyan Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Proses integrasi nasional bangsa Indonesia telah dipaparkan dalam dimensi sejarah, sebuah jawaban yang sangat panjang atas pertanyaan “apa yang terjadi dengan proses integrasi nasional kita”. Inti historis jawabnya adalah bahwa kita telah membangun suatu bangsa dan mencapai integrasi nasional. Harus diakui bahwa kita masih menyimpan banyak masalah yang harus diselesaikan, dan kita meninggalkan luka yang masih menyakitkan pada diri kita sebagai bangsa yang harus kita sembuhkan.

Read more:

Pangi Syarwi Chaniago: Strategi Partai Demokrat

STRATEGI KAMPANYE PARTAI DEMOKRAT PADA PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2009: STUDI BAPPILU DPP PARTAI DEMOKRAT

Pangi Syarwi

ABSTRACK

Strategi kampanye yang dilakukan oleh Bappilu Partai Demokrat melaluistrategi manajemen Dapil (menempatkan caleg sebanyak banyaknya perdapil)gool getter Partai Demokrat,mengambil caleg yang relatif telah teruji elektabilitasnya yang tinggi, seperti caleg yang relatif banyak berasal dari pensiunan birokrat dan PNS seperti camat dan lain-lain, yang sudah berpengalaman dan dekat selama ini dengan rakyat.

Pengaruh figur SBY lebih dominan pengaruhnya terhadap kemenangan Partai Demokrat.lebih banyak mengunakanpengaruhfigur (person) SBYsebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat yang menjual politik santun mengedepankan nasionalis dan relegius dan gaya kepemimpinan SBY yang soft, setiap foto caleg selalu disamping gambar ada foto SBY. Door to door, dilakukan dengan cara caleg mendatangi langsung para pemilih, lebih dominan dilakukan oleh caleg Partai Demokrat  pada pemilu legislatif 2009.

 Kerja Bappilu DPP Partai Demokrat relatif tidak terlalu maksimal dan belum optimal,  namun pengaruh figur SBY dan penitia internal pemilihan umum membantu kerja-kerja Bappilu DPP Partai Demokrat dalam memenangkan pemilu legislatif 2009 di Indonesia. Mesin politik Partai Demokrat dan kelengkapan kebawahnya  belum sempurna, seperti ada di daerah yang pengurus Partai Demokrat belum ada tapi yang menariknya Partai Demokrat justru menang di dearah tersebut.

Read more:

Pangi Syarwi Chaniago: Politik Privatisasi Air

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Air, benda ini yang menjadi alasan mengapa jutaan penduduk dunia di belahan bumi selatan yang notabene merupakan tempat hidup orang-orang miskin menderita kelaparan setiap harinya. Sebanyak 1,8 juta anak mati tiap tahunnya karena diare yang diakibatkan oleh buruknya sanitasi air. Sekitar 1,1 milyar orang di negara berkembang tidak memiliki akses yang cukup untuk air, dan 2.6 miliar kekurangan sanitasi dasar.

Masa depan, hidup dan kehidupan dunia akan semakin sulit karena air untuk hidup semakin langka. Segala sektor politik, ekonomi, budaya akan dipengaruhi oleh kepasrahan penduduk dunia terhadap krisis air sebagai akibat dari ulah para pendahulunya. Air sebagai benda primer yang mempengaruhi kondisi bumi secara otomatis menjadi barang penting yang kemudian akan diperebutkan. Perubahan iklim, peningkatan frekwensi bencana alam dan faktor huru-hara dunia lain akan semakin sering terjadi. Fenomena ini akan menjadi efek bola salju yang semakin bergulir dan membesar seiring perilaku dan waktu. Perubahan tatanan kehidupan makhluk bumi juga akan terus berubah ke arah kepanikan. [1]

 

Read more:

Pangi Syarwi Chaniago: Reformasi Militer di Indonesia

Pengamat:  Pangi Syarwi Chaniago

BAB I

PENDAHULUA

Latar Belakang

Gerakan reformasi  telah menghadapkan TNI pada berbagai tantangan. Hingga saat ini, militer belum sepenuhnya professional, walaupun demikian upaya TNI untuk keluar dari kancah politik dan menata dirinya tetap. Krisis kredibilitas yang pernah dialamatkan  ke institusi tentara akibat tindakan-tindakan diluar norma-norma profesionalisme militer. Reformasi militer di tubuh TNI belum sepenuhnya melepaskan TNI sebagai tentera politik. Hal ini diakui oleh elit TNI yang menyatakan reformasi kultural membutuhkan waktu yang lama. Sebagai tentara politik, militer memiliki kharakter inti yang dipopulerkan  Finer dan Janowits, yaitu meliter secara sistematis mengembangkan keterkaitan sejarah dengan perkembangan bangsa  serta arah revolusi negara. [1]

Read more:

You are here: Home Makalah