Login Form

Pangi Syarwi Chaniago

"Bersama Membangun Bangsa"

Pangi Syarwi Chaniago: Marketing Politik (Bagian 2)

 

Identitas Buku ke 2 (Dua): Adman Nursal, 2004, Political Marketing, Strategi Memenangkan Pemilu Sebuah Pendekatan Baru Kampanye Pemilihan DPR,DPD. Jakarta: PT Gramedia.

Reading Course Pangi Syarwi    

Judul Buku

Political Marketing:Strategi Memenangkan Pemilu Sebuah Pendekatan Baru Kampanye Pemilihan DPR,DPD.

Pengarang

Adman Nursal

Penerbit

PT Gramedia

Tahun Terbit

2004

 

 

Sistematika resume bab tersebut akan disusun sebagai berikut:

1.    Positioning, Targeting

2.    Policy

3.    Person

4.    Party

5.    Presentation

6.    Puss Marketing

7.    Pull Marketing

8.    Polling and Survey

 

Satu buah buku yang cukup panjang dan padat dalam buku Political Marketing:Strategi Memenangkan Pemilu Sebuah Pendekatan Baru Kampanye Pemilihan DPR, DPD. ini sebenarnya merupakan sebuah ringkasan dari buku karya Adman Nursal. Tulisan tersebut memberi gambaran yang cukup luas,  dan sangat menarik untuk dibaca sebagai referensi dan kajian literatur yang tidak terpisah untuk memperdalam dan mempermudah penelitian penulis dalam pembuatan proposal.

Marketing politik semakin tumbuh dan berkembang di Indonesia selain Indonesia mengunakan sistem multipartai juga, di pengaruhi oleh Swim Voter, banyak pemilih di Indonesia yang selalu memilih partai yang relatif baru, dan pilihan yang selalu berubah, sekedar mencontohkan tingginya Swim Voter di Indonesia terbukkti kemenangan partai politik setiap pemilu selalu berubah, pada tahun 1999 pemenang pemilu PDI perjuangan, pada pemilu legislatif 2004 di menangkan oleh partai Golkar dan pada pemilu 2009 di menangkan oleh partai Demokrat, ini adalah realita yang membuat marketing politik semakin diterima, siapa yang bisa memenangkan marketing politik di indonesia maka besar harapan memenangkan pemilu kedepannya.[1]

Read more:

Pangi Syarwi Chaniago: Penyebab Gagalnya Otsus Papua

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebagian besar dari aktor masyarakat sipil Papua berpendapat bahwa Otonomi Khusus Papua muncul sebagai reaksi terhadap aksi politik, dalam hal ini tuntutan merdeka yang dikumandangkan sebagian kalangan masyarakat sipil di Papua. Tuntutan itu sendiri muncul sebagai akumulasi dari berbagai ketidakpuasan yang terdiferensiasi dalam berbagai konteks historis. Tokoh-tokoh organisasi massa masih mempermasalahkan masalah proses Penentuan Pendapat Rakyat tahun 1969 yang dinilai tidak partisipatif dan representatif.

Ini berdampak kemudian pada kebijakan represif orde baru dalam menghadapi apa yang disebut dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Masalah distribusi ekonomi yang tidak menyentuh penduduk asli Papua hanyalah salah satu pilar yang menumbuhkan aspirasi merdeka. Artinya, mereka masih memandang bahwa penuntasan masalah Papua lebih kental unsur politis yang diikuti dengan pendekatan keamanan oleh TNI-Polri. Beberapa tokoh malah memberikan pendapat lebih keras dengan menyatakan, Otsus tidak lebih dari gula-gula dari Jakarta untuk melenakan penduduk Papua dari perut yang lapar. Mereka menangkap kesan tidak serius pemerintah pusat dalam menciptakan rasa aman dan kesejahteraan di Papua dengan kebijakan Otsus ini. Yang kentara terlihat malah keinginan Jakarta untuk memastikan bahwa Papua masih berada dalam lingkup NKRI. [1]

Tetapi ada juga tokoh yang coba berpikir positif, bahwa disamping kental unsur politisnya, Otsus Papua sebenarnya memberi peluang besar bagi masyarakat Papua untuk menata dirinya sendiri dengan kewenangan yang lebih luas. Hanya saja mereka melihat, kewenangan yang luas ini tidak diikuti oleh reformasi struktural aparat pemerintahan daerah yang menjadi aktor dalam pelaksanaan Otsus. Akibatnya seringkali pelaksanaan kebijakan masih menunggu hasil “konsultasi” pemerintah daerah ke Jakarta.

Read more:

Pengamat Politik|Pangi Syarwi: Dinamika Politik UU BPJS

A. Latar Belakang Permasalahan

A.1 Negara dan Penyediaan Jaminan Sosial

Francis Fukuyama dalam buku State-Building: Governance and World Order in the 21st Century, menunjukkan bahwa pengurangan peran negara dalam hal-hal yang memang merupakan fungsinya hanya akan menimbulkan problematika baru. Bukan hanya memperparah kemiskinan dan kesenjangan sosial, melainkan pula menyulut konflik sosial dan perang sipil yang meminta korban jutaan jiwa. Keruntuhan atau kelemahan negara telah menciptakan berbagai malapetaka kemanusiaan dan hak azasi manusia selama tahun 1990-an di Somalia, Haiti, Kamboja, Bosnia, Kosovo, dan Timor Timur[1]. Selain memperlihatkan kejujuran ilmiah Fukuyama, buku tersebut sekaligus menjelaskan perubahan pemikiran Fukuyama dari buku sebelumnya. Dalam bukunya yang terdahulu, The End of History and The Last Men yang ditulisnya pada tahun 1992 dimana Fukuyama dengan yakin menyatakan bahwa sejarah peradaban manusia (seakan) telah berakhir. Pertarungan antara komunisme dan kapitalisme juga telah usai dengan kemenangan kapitalisme (neoliberalisme)[2].

Sekarang, dalam bukunya State-Building dengan lantang Fukuyama berkata bahwa “negara harus diperkuat!”. Kesejahteraan, kata Fukuyama, tidak mungkin tercapai tanpa hadirnya negara yang kuat; yang mampu menjalankan perannya secara efektif. Begitu pula sebaliknya, negara yang kuat tidak akan bertahan lama jika tidak mampu menciptakan kesejahteraan warganya. Pentingnya penguatan negara ini terutama sangat signifikan dalam konteks kebijakan sosial. Negara adalah institusi paling absah yang memiliki kewenangan menarik pajak dari rakyat, dan karenanya paling berkewajiban menyediakan pelayanan sosial dasar bagi warganya[3].

Dalam masyarakat yang beradab, negara tidak boleh membiarkan satu orang pun yang berada dalam posisi tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. Globalisasi dan kegagalan pasar sering dicatat sebagai faktor penyebab mencuatnya persaingan yang tidak sehat, monopoli dan oligopoli, kesenjangan ekonomi di tingkat global dan nasional, kemiskinan dan keterbelakangan di negara berkembang, serta ketidakmampuan dan keengganan perusahaan swasta mencukupi kebutuhan publik, seperti jaminan sosial, pelayanan kesehatan dan pendidikan. Salah satu analogi menarik yang disampaikan Fukuyama dalam konteks negara yang Hands-on atau Hands-off terhadap perannya di sektor publik masyarakat dapat dilihat dari kasus yang disajikan olehnya dalam buku tersebut. Salah satunya adalah mengenai keluhan dari masyarakat Amerika Serikat terhadap ketatnya peraturan lalu-lintas di Amerika. Menurut Fukuyama, mereka yang mengeluh harus pergi ke Jakarta untuk melihat bahwa kelonggaran peraturan ternyata menghasilkan situasi yang lebih mengerikan[4].  

Read more:

Pangi Syarwi Chaniago: Pemikiran Sayyid Qutb

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sayyid Qutbh adalah seorang ilmuwan, sastrawan sekaligus pemikir dari Mesir. Sayyid Qutb namanya ia lahir di daerah Asyut, Mesir tahun 1906-1966, Kairo. Kendati ia diilhami oleh gagasan Al-maududi, memiliki teori-teori yang berbeda tentang Islam. Qutb seorang penyair dan guru. Dia tidak pernah menikah, dan sakit-sakitan sepanjang hidupnya. Sebuah jabatan di Departemen Pendidikan membawanya ke Amerika Serikat (1948-1950).[1] Dia sangat kaget melihat maraknya rasisme dan kebebasan seksual di sana; didalam bukunya The American That I Saw, ia mengambarkan kemajuan Amerika semata-mata sebagai kemajuan ”produksi, nalar, organisasi dan kerja” tidak memperlihatkan kemajuan ”kepemimpinan sosial dan kemanusian dan tidak pula pada prilaku dan emosi.[2]

Kesempatan yang diperolehnya untuk lebih berkembang di luar kota asal tidak disia-siakan oleh Qutb. Semangat dan kemampuan belajar yang tinggi ia tunjukkan pada kedua orang tuanya. Sebagai buktinya, ia berhasil masuk pada perguruan tinggi Tajhisziyah Daral Ulum, sekarang Universitas Cairo. Kala itu, tidak sembarang orang bisa meraih pendidikan tinggi di tanah Mesir, dan Qutb beruntung menjadi salah satunya. Tentunya dengan kerja keras dan belajar. Tahun 1933 Qutb dapat menyabet gelar sarjana pendidikan. Sayyid Qutb dikirim ke Amerika untuk menuntut ilmu lebih tinggi dari sebelumnya. Qutb memanfaatkan betul waktunya ketika berada di Amerika, tidak tanggung-tanggung ia menuntut ilmu di tiga perguruan tinggi di Negeri Paman Sam itu. Wilson’s Teacher’s College, di Washington ia jelajahi, Greeley College di Colorado ia timba ilmunya, juga Stanford University di California tidak ketinggalan diselami pula.

Read more:

Pangi Syarwi Chaniago: Marketing Politik (Bagian 3)

   READING COURSE 

  OLEH: PANGI SYARWI

  JUDUL PROPOSAL TESIS: Political Marketing Partai Demokrat Pada Pemilu Legislatif 2009 Di Sumatera Barat Identitas Buku 1 (Pertama): Firmanzah(2007),Marketing Politik:Antara Pemahaman dan Realitas. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Judul Buku

Marketing Politik:Antara Pemahaman dan Realitas

Pengarang

Firmanzah

Penerbit

Yayasan Obor Indonesia

Tahun Terbit

2007

 

Read more:

You are here: Home Makalah