Login Form

Pangi Syarwi Chaniago

"Bersama Membangun Bangsa"

Pangi Syarwi Chaniago:Pemikiran Sayyid Qutb

Tulisan Bagian Kedua Oleh Pangi Syarwi

2.4 Konsep Pemerintahan Supra Nasional Sayyid Qutb

Hanya ada satu macam Negara yang bisa menopang pemerintahan yang Islami, yaitu negara Islam (Darul Islam). Tatkala aqidah sudah berlainan maka terurailah satu ikatan kerabat dan terbagilah yang satu, karena yang menjadi kata kunci adalah ikatan aqidah. Negara Islam diperuntukkan bagi orang yang mau menerima syariat Islam sebagai tatanan, meski ia bukan seorang muslim. Islam tidak didasarkan pada hubungan tanah kelahiran atau kesukuan, tidak pada ikatan keturunan ataupun pernikahan, dan tidak pula jalinan kabilah ataupun kerabat. Islam tidak akan tegak di bumi yang tidak dikendalikan oleh Islam dan syariatnya.

Hanya ada dua alternatif: Islam atau jahiliyah. Tidak ada pilihan lain, “setengah Islam, setengah jahiliyah”. Islam cukup dikatakan Islam, titik. Islam memiliki kepribadian, konsepsi, dan aturan main sendiri. Islamlah yang akan mewujudkan semua cita-cita kemanusian dan aturan mainya. Keterpurukan yang selama ini dialami umat manusia tidak akan terobati hanya dengan reformasi kecil-kecilan dalam beberapa bagian kecil dari berbagai sistem dan aturan main.

Read more:

Pangi Syarwi Chaniago: Dinamika Politik UU BPJS

BAB II

PEMBAHASAN

Distributive Performance Pemerintah dalam Bidang Kesehatan

Konsep Distributive Performance yang disampaikan dalam koridor pendekatan Sistem oleh Gabriel Almond dan Bingham Powell mengacu pada pengertian alokasi sumber daya oleh agen-agen pemerintah terhadap beragam bentuk seperti barang-barang, pelayanan, gaji, dan kesempatan bagi individu dan kelompok dalam masyarakat[1] Menurut Almond  dan Powell, hal ini dapat diukur dan dibandingkan menurut jumlah/kuantitas dari beberapa indikator, diantaranya; kebutuhan yang didistibusikan, sejauh mana jangkauan dari distribusi tersebut menyentuh kebutuhan masyarakat dan keuntungan apa yang didapatkan oleh mereka, sektor-sektor/klasifikasi masyarakat yang mendapatkan keuntungan dari distribusi ini, dan hubungan antara kebutuhan masyarakat dengan keinginan pemerintah untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

Ukuran tersebut tidak didasarkan pada jumlah pengeluaran pemerintah untuk memenuhi beragam kebutuhan tersebut, akan tetapi ukurannya didasarkan pada usaha pemerintah untuk mendistribusikan sumber daya tersebut. Walaupun, sumber data untuk menjadi ukuran dalam menilai kebijakan pemerintah seringkali adalah data yang dimiliki oleh pemerintah itu sendiri, dimana –menurut Almond- seringkali tidak dapat dijamin kebenarannya dan objektifitasnya, tetap saja data tersebut bersama data-data yang lain, merupakan salah satu indikator awal dalam memberikan analisa dan penilaian terhadap usaha negara memenuhi kebutuhan masyarakatnya[2].  (Dalam menjelaskan konsep Distributive Performance, kita dapat melihat dari Tabel yang disajikan oleh Almond dan Powell sebagai gambaran yang mendeskripsikan perbandingan pengeluaran pemerintah dalam bidang ekonomi dan sosial di 12 negara dalam kurun waktu tahun 1980-1990, yang diteliti oleh Almond dan Powell, terutama dalam bidang kesehatan. Dalam tabel tersebut, pengeluaran negara untuk bidang-bidang tersebut diukur dari dari pembagian antara keseluruhan pendapatan per kapita negara tersebut dalam Gross National Product (GNP) per kapita yang juga dikonversikan dalam U.S dolar per kapita (penyesuaian kurs), dengan persentasi yang diberikan pemerintah dari GNP per kapita tersebut untuk beberapa bidang diantaranya untuk pengeluaran bidang Militer dan Pertahanan, Pendidikan dan juga Kesehatan.

Read more:

Pangi Syarwi Chaniago: Penyebab Gagalnya Otsus Papua

BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Dasar Pemikiran Otonomi Khusus Papua

Merasa terharu mendengar lagu ciptaan Franky Sahilatua yang petikan lyricnya ”tanah papua tanah yang kaya, Surga kecil jatuh ke bumi, seluas tanah sebanyak batu adalah harta harapan. Hitam kulit keriting rambut aku papua biar nanti langit terbelahaku papua”lagu ini sering diputar dibeberapa media TV swasta akhir-akhir ini.

Aceh ingin mardeka lewat organisasi Gerakan Aceh Mardeka, Papua ingin mardeka lewat perjuangan Gerakan Organisasi Papua Mardeka, keduanya sama-sama punya keinginan  mardeka, namun mengapa Aceh bisa diselesaikan dan tercipta kedamaian sekarang disana, sementara Papua tidak?

Mengapa sulit  mencapai kedamaian dan kesejahteraan di tanah Papua? Secara teoritis, konsep otonomi khusus sesungguhnya bagus. Dana otonomi khusus begitu banyak dikucurkan selama periode 2002 sampai 2010 sebesar Rp 28,8 triliun. Jabatan pemimpin (Gubernur dan Bupati) sudah diberikan kepada putra asli Papua.Selain itu, orang asli Papua sudah ditempatkan sebagai pelaku utama pembangunan di tanah leluhurnya sendiri. Namun apa yang salah dari semua pendekatan pembangunan ekonomi politik di tanah Papua selama ini?

Dasar pemikiran kebijakan Otonomi Khusus merupakan kebijakan yang bertujuan untuk memperbaiki berbagai ketertinggalan serta ketimpangan yang ada di Provinsi Papua. Provinsi Papua merupakan provinsi di wilayah timur Indonesia yang menghadapi berbagai persoalan mendasar terkait dengan fakta ketertinggalan wilayah. Daerah yang sebenarnya sangat kaya dengan potensi sumberdaya alam (SDA) ternyata pada tataran riil menghadapi fakta yang bertolak belakang. Ketertinggalan perekonomian masyarakat, minimnya penyelenggaraan pelayanan publik yang berkualitas, jaringan infrastruktur yang masih memprihatinkan, hingga persoalan rendahnya kualitas sumberdaya manusia (SDM) merupakan permasalahan mendasar di wilayah ini.

Read more:

Pangi Syarwi Chaniago: Marketing Politik

 

Identitas Tesis ke 5 (Lima): Sofyan Imam, 2007, Marketing Politik Kandidat Dalam Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Bojonegoro: Universitas Airlangga.

Judul Tesis

Marketing Politik Kandidat Dalam Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Bojonegoro

Penulis

Sofyan Imam

Penerbit

Univeristas Airlangga

Tahun Terbit

2007

 

Marketing Politik Dan Industri Citra

Kandidat dapat mencitrakan diri sebagai orang atau partai yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi sehingga imbasnya memperoleh simpati khalayak. Sebuah peristiwa luar biasa, dengan sendirinya memikat media untuk meliput. Sehingga partisipasi dalam peristiwa semacam itu, sangat menguntungkan kandidat. paid publicity sebagai cara mempopulerkan diri lewat pembelian rubrik atau program di media massa. Misalnya, pemasangan advertorial, iklan spot, iklan kolom, display atau pun juga blocking time program di media massa. Secara sederhananya dengan menyediakan anggaran khusus untuk belanja media.

Masyarakat luas masih banyak yang mempunyai persepsi negatif terhadap istilah marketing politik. Hal ini bisa terjadi karena marketing politik diidentifikasikan sebagai penjualan sebuah produk industri dan bahkan sebagian orang menganggap marketing politik sebagai bentuk dari komersialisasi atau Amerikanisasi politik.

Read more:

Pangi Syarwi Chaniago: Marketing Politik

Identitas Buku ke 3 (tiga): Peter Schroder, 2000, Strategi Politik (Politische Strategien): Edisi Revisi Untuk Pemilu 2009. Jerman: Nomos, Baden-Badeni

Reading Course Pangi Syarwi

Judul Buku

Strategi Politik (Politische Strategien): Edisi Revisi Untuk Pemilu 2009

Pengarang

Peter Schroder

Penerbit

Nomos, Baden-Baden

Tahun Terbit

2000


Adapun Bab-Bab yang menarik bagian-bagian utama yang memungkinkan saya memilih Bab-Bab atau bagian-bagian yang menarik secara terpisah dalam buku tersebut.

Bab 1 dan Bab 2 mengambarkan perkembangan pemikiran strategis, aplikasi-aplikasinya dewasa ini serta pendekatan pendekatan    dan metode yang tersedia bagi perencana strategis.

Bab 3 berisi tinjauan atas metode-metode “perencanaan konseptual, dan juga diuraikan dalam buku tersebut jenis-jenis pemilih di Indonesia” yang menjadi inti buku ini.

Bab 4 dan Bab 9 memaparkan langkah-langkah metodologi awal yang menitiberatkan pada penilaian situsional, yang menjadi dasar bagi setiap pertimbangan strategis.

Bab 12 dan 17 lebih kepada alat yang digunakan untuk membuka jalan bagi implementasi starategi dan demikian menetapkan kerangka taktis yang pada gilirannya ditentukan oleh strategi.

Bab 1 dalam buku ini menjelaskan pengertian strategi, dan taktik tujuannya adalah bukannya hanya kemenangan namun strategi itu sendiri adalah ajaran tentang pemanfaatan pertempuran untuk tujuan perang. Menurut Clausewitz, angkatan perang merupakan sarana untuk mencapai tujuan perang itu sendiri, yaitu memperoleh kemenangan, namun kemenangan itu hanya merupakan  sarana untuk mencapai tujuan akhir dari strategi yakni perdamian, dengan demikian semakin tinggi tingkat strategi, akan semakin mewujud menjadi politik yang berkesinambungan hingga tidak ada lagi perubahan.

Read more:

You are here: Home Makalah