Login Form

Pangi Syarwi Chaniago

"Bersama Membangun Bangsa"

Pangi Syarwi Chaniago: Masa Depan Politik Orang (Minang)kabau

Pengamat: Pangi Syarwi Chaniago

Sejarah memberikan kepada seseorang lebih dari sekedar informasi, ia menyusun cara berfikir seseorang saat ini dan menentukan langkah apa yang mau diambil pada masa yang akan datang. “Historiy is a people memory and without a memory, man is demoted ti the lowoer animals” begitu ringkas Malcom-X menjelaskannya. Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam At-Tafkir bahkan menyampaikan kepada kita bahwa “berfikir tidak akan bisa terwujud kecuali dengan adanya informasi terdahulu” dan ini adalah sejarah. Lebih dari pada itu, sejarah adalah informasi, ia akan mempengaruhi siapapun yang membacanya dan membentuknya persis seperti tokoh yang menjadi sentral dalam sejarah.

Read more:

Pangi Syarwi Chaniago:Formula Penguatan Parpol Islam

Pengamat: Pangi Syarwi Chaniago

Partai Islam mulai ditinggalkan oleh pengikutnya karena tak mampu memperjuangkan rangkaian misi suci yang mengusung jargon bersih, anti korupsi, partai moral. Kerap elitenya tak menunjukkan kepribadian yang berbudi pekerti,tak menujukkan jiwa islami yang bersih dan damai. Partai Islam semestinya melahirkan sikap dan perilaku (political behavior) serta budaya politik (political culture) yang berorientasi pada nilai-nilai Islam.

Partai Islam dari dulu sampai sekarang belum pernah menang dalam pemilu. Pada pemilu1955, Soekarno melalui Partai Nasional Indonesia (PNI) pernah menentang partai Masyumi, “kalau memaksakan jadi negara Islam, lihatkan dulu kekuatan partai Islam, kalau ternyata mendapat dukungan dan menjadi kekuatan yang dominan dari umat Islam silahkan terapkan negara Islam”.

Read more:

Pangi Syarwi Chaniago: Malapraktik Politisi Muda

Pengamat: Pangi Syarwi Chaniago

Banyak politisi muda yang terjebak pada kekuasaan pragmatis. Muhammad Nasih mengungkapkan, "Budaya materialistik dan hedonisme juga menghinggapi politisi muda saat ini." Kecenderungan materialistis lebih menonjol. Paradigma pembangunan ekonomi dengan kecenderungan penguasaan materi lebih mendominasi kaum elite. Kondisi itulah yang menyebabkan politisi muda terjebak dalam jaringan korupsi di dalam sistem politik. 

Menurut Nietzshe (1844-1900), naluri yang tak pernah padam dalam diri manusia adalah kehendak untuk berkuasa. Duduk dalam singgasana kekuasaan adalah suatu kenikmatan dan kepuasan tersendiri. Darah elite muda harus tetap mempertahankan keberadaban politik (political civility). Negeri ini merindukan politisi muda yang berselancar dalam politik yang indah, santun, dan cerdas yang menginspirasi. 

Film-film India seperti The End atau The Mission of Complite menggambarkan akhir permainan politik. Politisi senior, Akbar Tanjung, mengatakan dalam peperangan, setelah mati, tak akan hidup lagi. Namun, dalam politik, setelah terbunuh, bisa hidup kembali. Itulah halaman politik. Namun, dalam perjalanannya, banyak cobaan dan tantangan yang dihadapi politisi muda. 

Kegagalan politisi muda bukan karena kurang kapasitas, namun lebih karena tak mampu menahan diri. Banyak politisi muda seperti Andi Malarangeng, Angelina Sondakh, dan Nazarudin terjebak tak mampu menahan diri. Politisi muda seharusnya mendalami dan mengedepankan politik santun. Namun, secara kebahasaan, menurut Jean Austen, pengarang terkemuka abad ke-19 dalam novel Persuasion, mengatakan, "Seseorang yang kata-katanya selalu rapi, diksinya bagus, nada bicaranya juga tertata dengan cermat, pasti memunyai masalah. Mungkin dia berusaha tampak hebat. Mungkin dia tidak tahu yang harus dikatakan." 

Read more:

You are here: Home Opini