Login Form

Pangi Syarwi

"Bersama Membangun Bangsa"

Negara Nasional: Identitas Nasional, Nasionalisme dan Kewarganegaraan

Oleh Pangi Syarwi

Ancaman terbesar dari “nation state” yaitu bentuk“new social movment”  diskriminasi, terbentuknya kelompok-kelompok baru yang berbasis etnisitas, agama, bahasa. Nilai- nilai lokal tidak bisa untuk dihapuskan, sebab kesetiaan-kesetian yang awal yang dibawa sejak manusia lahir jauh ada sebelum negara bangsa ada, tapi bagaimana kemudian nilai-nilai lokal, etnisitas, adat istiadat, agama, primordialisme, bahasa diperkuat menjadi identitas nasional, ini memang tidak mudah butuh waktu, kesabaran. Loyalitas kesetiaan nasional pada negara bangsa sangat penting “nation state”.

Nation- stateatau negara bangsa  bukan merupakan identitas yang alamiah, tapi melalui proses yang cukup lama, seperti di Amerika Serikat dan Perancis melalui revolusi modernisasi dan industri, nasionalisme merupakan rasionasitas dari kebangsaan. Ketika berbicara nasionalisme, bukan pada level simbol-simbol negara seperti penghormatan kepada bendera, dan lagu kebangsaan Indonesia raya, dari SD sampai SLTA kita upacara bendera setiap senen.

Namun yang sulitnya adalah menguatkan nilai-nilai nasionalisme menuju nilai-nilai identitas nasional, mempertahankan NKRI dengan nilai-nilai anti kekerasan, toleran, mampu memilihara pluralism, etnosentrisme dan Bhineka Tunggal Ika, karena kita bangsa yang heterogen, keterwakilan dan perlindungan terhadap kaum minoritas menuju bangsa yang “strong nation state” negara yang bermartabat, kuat dan negara berbudaya, Indonesia emas “Political State”.

Primordialisme, ketika negara tidak mampu memeliharanya dengan baik akan berujung kepada gerakan-gerakan seperatisme seperti GAM, RMS, konsekuensinya mengancam NKRI, kenapa ini bisa terjadi? Adalah karena ketidak adilan pembagian sumber daya ekonomi, kemiskinan. Sekedar mencontohkan marginalisasi Menteri di isi oleh orang-orang pusat, pembangunan yang tidak merata, dana perimbangan dari pusat kedaerah “tricle down effect”. Namun nilai-nilai primordialisme, etnosentrisme tidak bisa dihapus tapi dikembangkan menjadi identitas nasional.

Partai punya tugas untuk mempromosikan orang tanpa melihat daerah dan suku, dan menempatkan  untuk keterwakilan kaum minoritas dalam pemerintahan, munculnya partai lokal di Aceh misalnya, menurut penulis tidak salah, dan itu bagian dari demokrasi consensus, untuk kterwakilan minoritas, asumsi partai Aceh berbahaya untuk identitas nasional tidak terbukti,  selama pemerintah mampu memiliharanya dengan baik.

Etnis Tioanghoa, bukti emperis bagaimana negara untuk melindunggi etnis minoritas, sudah masuknya etnis Cina ke parlemen menjadi anggota DPR, membuktikan bahwa negara bisa memelihara pluralism di republik ini, sebab “political equality” kedudukan yang sama dalam politik adalah kemajuan dalam edentitas nasional. Nation state akan kuat ketika diskriminasi semakin berkurang dan sebaliknya.  Pertanyaannya bagaimana peran negara dalam menjaga, memilihara nilai- primordialisme untuk memperkuatnation state?

 

Penulis adalah Mahasiswa Master Political Science University of Indonesia dan Penerima Beasiswa Unggulan Kemendiknas RI

You are here: Home Opini Negara Nasional: Identitas Nasional, Nasionalisme dan Kewarganegaraan