Login Form

Pangi Syarwi

"Bersama Membangun Bangsa"

Analisis |Pangi Syarwi: Birokrasi

Oleh Pangi Syarwi

Teori Dan Perkembangan Birokrasi

Tujuan-tujuan ilmu adalah memperbaiki keakuratan dan ruang lingkup eksplanasi-eksplanasi berbagai fenomena sebagai basis dari prediktabilitas dan control yang baik. Suatu sistem proposisi-proposisi eksplanotoris yang berkaitan antara satu dengan yang lainnya, yang merupakan suatu teori yang ilmiah, tapi tidak semua pandangan merupakan proposisi yang ilmiah, istilah ini hanya merujuk kepada preposisi- preposisi yang memiliki imsplikasi emperis yang dapat diperkuat dalam penelitian yang sistematik yang tidak berlaku bagi semua eksplanasi.

Fakta-fakta yang tidak penting masih memiliki kegunaaan dan begitu juga dengan  imajinasi tanpa disiplin, namun untuk penelitian emperis dan pandangan-pandangan teoritis untuk membangun suatu ilmu yang objektif dan sistematis, semua ini harus dipadukan kedalam satu kesatuan yang utuh, teori hanya mengarahkan penelitian bahwa peneliti harus dioreantasikan kepada penetapan generasi-generasi teoritis.

Konsep Birokrasi

Pola struktur birokrasi dalam kasus tive ideal

1.Berbagai aktifitas regular yang diperlukan untuk pencapaian tujuan-tujuan organisasi yang didistribusikan dengan suatu cara yang baku sebagai kewajiban-kewajiban yang resmi, pembagian kerja yang jelas memungkinkan birokrasi mengunakan pakar-pakar spesialisasi dalam setiap posisi-posisi tertentu, dan membuat pertangungjawaban atas tenaga efektif yang harus diselesaikan.

2. Prinsip hirarkis dalam organisasi atau kantor, artinya adalah setiap kantor berada dibawah control dan pengawasan control yang lebih tinggi, setiap pejabat dalam hirarki administrative yang bertangung jawab terhadap atasan-atasan  masing-masing atas  keputusan bawahannya dan juga terhadap tindakan tindakan sendiri.

3. Yang konsisten dan terdiri  atas penerapan kaidah –kaidah terhadap kasus-kasus spesifik, yang  dipertahankan untuk uniformitas yang terdapat dalam kerja setiap tugas, tanpa memandang jumlah personalia yang terlibat di dalamnya dan kordinasi atas tugas yang berlainan.

4. Pejabat yang ideal menjalankan kantornya, berdasarkan imporsonalitas formalistik tanpa kebencian dan tanpa kegairahan dan karena tanpa antuisme dan afeksi.

5. Perekrutan dalam birokrasi didasarkan pada kualifikasi-kualifikasi yang teksnis yang terhindar dari tindakan tindakan pemecatan yang sewenang-wenang.

6. Pengalaman secara universal cenderung memperlihatkan bahwa tive organisasi administrasi yang murni birokratis  dari sudut pandang teknis murni yang mampu mencapai tingkat efesiensi yang lebih tinggi.

Weber memberikan suatu analisis  fungsional birokrasi, dalam analisis ini weber menjelaskan dan memperlihatkan bagaimana setiap-setiap elemen memberikan kontribusinya  terhadap persistensi dan efektifitas birokrasi, akan tetapi penetapan ini juga ada konsekuensinya yaitu gangguan yang ditimbulkan oleh berbagai elemen dan struktul social, untuk itu perlu kemudian mengembangkan suatu analisis yang tidak hanya terkungkung pada pertimbangan-pertimbangan fungsi.

Dalam ilustrator-faktor yang sama mampu meningkatkan efisiensi dalam suatu aspek seringkali menjadi ancaman bagi aspek-aspek lainnya, barangkali memiliki konsekuensi-konsekuensi fungsional dan disfungsional, weber menyadari kecenderungan kontradiktif dalam struktur birokrasi.

Implikasi-Implikasi Kontruk Tipe Ideal

Birokrasi yang sempurna tidak pernah bisa diwujudkan, tidak ada satupun organisasi emperis yang memiliki struktur yang sama  persis dengan konstruksi ilmiah. Model tipe birokrasi yang ideal sebenarnya bukanlah satu skema konseptual semata, tidak hanya mencakup definisi-definisi konsep, tetapi generalisasi implisit tentang hubungan antara generasi itu secara khusus hubungan hipotesa bahwa berbagai kharakteristik birokrasi beragam mendorong efesiensi adnministrasi.

Ketika tidak ada hubungan antara otoritas hirarki yang ketat tidak ada hubungan  dengan efesiensi bekerja, ini membuktikan bahwa tidak ada semacam ini dalam birokrasi tipe ideal, temuan ini membuktikan bahwa organisasi-organisasi yang belum mengalami perkembangan birokrasi secara penuh karena generalisasi-generalisasi tentang Negara-Negara ideal menentang pengujian sistematis, mereka tidak memiliki tempat dalam ilmu.

Organisasi-organisasi informal diperlukan oleh berbagai organisasi. Pola-pola informal ini berlainan dengan kejadian-kejadian pengecualian merupakan suatu regular dari organisasi-organisasi birokrasi  oleh karenanya perlu dilibatkan  anlisis analisis pola birokrasi.

Ada banyak bukti yang mengatakan kesimpulan yang sebaliknya, hubungan-hubungan informal dalam praktek-praktek tak resmi sering memberi konstribusi terhadap efesiensi birokrasi operasi-operasi. Penulis sangat setuju dengan pendapat diatas, terkadang organisasi eksternal yang mendukung justru kuat dalam membantu tim utama dalam organisasi, karena mereka tidak terlalu terjebak dengan kerja-kerja institusi tapi lebih kepada kerja professional.

Seperti KPK misalnya perannya dalam pemberantasan korupsi, penulis ingin mengatakan ketika organisasi formal pemberantasan korupsi dan penegakan tidak mampu bekerja secara baik, bahkan relative kehilangan kekuatan yang dibuat tidak berdaya seperti Kejaksaan, Polisi, oleh para mafia. Muncul KPK sebagai lembaga Negara yang dinamakan Komisi Pemberantasan Korupsi, justru kerja KPK lebih efisein dibandingkan dengan dengan organisasi formal selama ini Kejaksaan dan kepolisian misalnya.

Birokrasi bisa menjadi alat untuk mempertahankan kekuasaan, seperti yang terjadi pada rezim orde baru, ketika Soeharto mengunakan birokrasi untuk mempertahankan kekuasaanya selama 32 tahun, Soeharto mengunakan birokrasi misalnya korpri, satuan yang diikat Korpri bagian dari PNS, yang outputnya PNS wajib memilih Golkar, dan semua orang sudah tahu dengan istilah ini barangkali, selain militer sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaanya, ini hanya pandangan penulis dalam konteks birokrasi politik orde baru.

Dalam dunia kita, harapan bukanlah kuda dan pengemis tidak menungang kuda. Kebutuhan-kebutuhan sosial, seperti halnya kebutuhan-kebutuhan individu, seringkali tetap ada tanpa pernah bisa dipenuhi. Namun dalam masyarakat modern ini persoalan birokrasi juga belum selesai, tetap masih banyak patologi-patologi birokrasi dalam perjalanannya, artinya adalah sudah habis teori digudang untuk membedah dan menganalisis kenapa birokrasi membutuhkan waktu yang lama, tidak efesiensi, tidak akuntabil, dan berbelit belit, membutuhkan biaya yang mahal. Persoalannya menurut penulis bukan salah teorinya tetapi lebih kepada individu-individu yang menjalankan birokrasi itu sendiri, bahkan tidak jarang para mafia memanfaatkan yang namanya uang pelicin untuk memudahkan dan melancarkan pelayanan khusus kepada orang yang mampu memberi banyak uang kepada petugas, kenapa ini bisa terjadi?  Kondisi struktural budaya masyarakat itu mncerminkan bagaimana mereka melayani dalam urusan birokrasi yang berlaku sama antara pelayanan si miskin dengan si kaya. Semoga saja, birokrasi di era modern ini ada solosi, dengan mengunakan alat digital untuk membantunya.

You are here: Home Makalah Analisis |Pangi Syarwi: Birokrasi