Login Form

Pangi Syarwi Chaniago

"Bersama Membangun Bangsa"

Pangi Syarwi Chaniago: Metode Kualitatif Dalam Ilmu Politik

Pangi Syarwi Chaniago

Metode kualitatif telah memainkan peran utama, mskipun agak diremehkan dalam ilmu politik, mulai dari penelitian individu dan kelompok dalam kancah politik formal, hingga sikap dan prilaku masyarakat, baik pemilih maupun anggota elit diluarnya.

Observasi partisipan utama digunakan  untuk mempelajari budaya, dalam penelitian ini peneliti diharuskan untuk  meleburkan diri dalam setting social, mengamati orang-orang dalam lingkungan alami mereka, dan ikut serta dalam lingkungan mereka, dalam penelitian ini menulis catatan lapanagan yang mendalam.

Wawancara, membutuhkan teknik yang mendalam dibandingkan dengan observasi , yang didasarkan pada panduan wawancara  berupa pertanyaan penelitian, pertanyaan-pertanyaan terbuka  dan penyelidikan informal untuk  memfasilitasi isu-isu  dengan cara yang setengah terstruktur  atau tidak terstruktur, panduan acara digunakan untuk sebuah ceklis topic yang akan di cakup, meskipun pembahasannya belum ditentukan sebelumnya, pertanyaan terbuka digunakan untuk memungkinkan terwawancara untuk berbicara lebar tentang suatu topic , akhirnya , berbagai bentuk penyelidikan digunakan untuk meminta terwawancara untuk menguraikan  apa yang telah mereka ungkapkan[1].

Dari paparan singkat tentang metode kualitiatif ini, jelas penelitian ini akan lebih tepat digunakan ketika  tujuan riset adalah mengeksplorasi pengalaman subjektif seseorang, makna kemudian mereka hubungkan dengan pengalaman-pengalaman mereka , wawancara intensif misalnya memungkinkan seseorang untuk  berbicara bebas untuk menafsirkan sesuatu fenomena terhadap pristiwa penting..

Metode kualitatif juga menarik untuk digunakan untuk menelisik kedalam pemikiran proses atau narasi yang di konstuksi oleh masyarakat. Wawancara mendalam juga memungkinkan seseorang untuk menceritakan pengalaman mereka sendiri kedalam bahasa yang akrab .

Namun yang jelas, metode kualitiatif telah banyak sebenarnya digunkan dalam sub-bidang ilmu politik karena partisipan dalam dunia politik mau berbicara tentang keterlibatan mereka dalam kelompok , peran mereka dalam jabatan kekuasaan formal, pandangan mereka tentang system politik dan sebagainya, para ilmuan politik misalnya sering mewawancarai para aktivis kelompok penekan[2].

Kelompok partai politik dan pejabat partai politik  telah diwawancarai secara mendalam tentang perkembangan dalam organisasi politik, strategi dan seterusnya. Sejumlah teknik riset tergolong dalam riset kualitatif  yang telah digunakan oleh para sosiolog  dan para ilmuan yang memilih satu atau lebih diantaranya untuk mengumpulkan pengalam subjektif seseorang.

Landasan Epistemologis Metode Kualitatif

Pandangan pengetahuan positivism didasarkan pada sesuatu yang objektif  dan bias diraba, dan para peneliti bekerja di dalam paradigma ini yang disibukkan dengan usaha yang mnciptakan  kondisi dimana data objektif bias dikumpulkan. Metode kualitatif  telah diidentikkan dengan epistitemologi intepretif  dengan menekankan sikap dinamis, terkonstruksi dan bertumbuhnya realitas social, dalam pandangan ini tidak ada ilmu yang objektif bias menegakkan kebenaran yang universal yang bisa eksis secara indevenden dari keyakinan, nilai dan konsep yang diciptakan untuk memahami dunia , berbagai perhatian ini menjadi cirri khas dari ilmu social, dan menjadi penyebab  perbedaan metode yang digunakan dalam ilmu social dan ilmu alam.

Dasar epistimologis, ilmu-ilmu social telah ditentang  oleh postmodernisme  yang mengangap pencarian  pengetahuan yang handal dalam jagad ilmu social yang telah salah arah[3]. Kaum pemikiran postmoderm mempunyai implikasi besar untuk pertanyaan  tentang epistimologi  dan metode, berkaitan dengan yang sebelumnya, postmodernisme bisa dipandang sebagai sebuah kritik terhadap nilai, tujuan dan dari analisis dari abad pencerahan  hingga saat ini, adapun yang menjadi rujukan yang sesudahnya, alternative terhadap kepuasaan fundasionalisme  modernism menjadi maxim, bahwa praktik riset telah menghadapkan para peneliti emperis dengan krisis ganda , krisis representasi dan krisis legitimasi.

Krisis Representasi.

 Krisis pertama didasarkan pada kenyataan  pada status kepakaran para peneliti, karena kebenaran adalah sesuatu kebetulan, dan tidak ada yang ditempatkan diluar kemungkinan revisi. Tidak dimungkinkan untuk menangkap pengalaman nyata secara langsung karena peneliti sekedar seorang penafsir yang pendapat sendiri tidak punya klaim lebih besar terhadap kebenaran dibandingkan dengan pendapat orang lain.

Krisis Legitimasi.

Krisis legitimasi muncul dari pemikiran ulang terhadap konsep seperti kesahihan, reliablitas, dan generalisabilitas. Usaha untuk mengklaim kesahihan untuk suatu riset tergantung terhadap konsep dunia diluar sana yang  secara jujur dan akurat dipotret oleh metode sipeneliti, oleh karena itu kaum posmodernisme menolak criteria spesifik  untuk menilai riset dan meragukan semua criteria dan privilese.

Kritik Terhadap Riset Kualitatif

Ada yang masi mengangap riset kualitatif sebagai bersifat impresionis, tidak sistematis, bahkan aneh. Riset kuantitatif dipandang sebagai representative dan andal. Analisis statistik yang mnjamin penemuan riset dan interpretasinya sangat kuat. Riset kualitatif dapat ditiru dan bisa diperbandingkan, dan generalisasi dapat dibuat dengan derajat keyakinan yang tinggi. Survai social menghasilkan data ilmiah yang kuat , sebaliknya riset kualitatif seringkali ditolak dengan alas an tidak representative dan tidak lazim, relasi dilapangan menhasilkan persoalan yang bias, sementara presentasi bahan  bisa sangat subjektif dan tidak terbuka terhadap pensahihan dari luar. Akhirnya riset kualitatif tidak dapat direplikasi atau tidak bisa diperbandingkan , riset kualitatif menghasilkan hasil yang lemah dan tidak ilmiah, kritikan terhadap kualitatif tampaknya mnghancurkan

Objektif dan Bias

Riset kualitatif seringkali ditolak karena bias dan tidak adanya objektivitas dalam pengumpulan bahan emperis, relasi antara pewanacara dengan terwancara tidaklah renggang , kerana pewancara berpartisipasi dalam percakapan. Relasitidaklah boleh renggang, jika informasi pribadi rahasia akan dibeberkan atau ketika tema sensitive didiskusikan.

Semua pertimbangan ini menuntut agar pewancara sadar akan jalannya sebuah wawancara atau sebuah episode , sambil melakukan observasi , partisipan bahwa mereka berfikir tentang interaksi apa yang dikatakan, bagaimana itu dikatakan.

Interpretasi

Semua bahan emperis, untuk berjenis kuantitatif dan kualitatif , mengalami intrerpretasi , dan tidak ada interpretasi definitive  yang menyatakan  kebenaran . Meski demikian, peneliti kualitatif  harus menunjukkan  kemasukakalan interpretasi mereka, seperti halnya rekan kuantitatif  mereka. Ada berbagai cara untuk meningkatkan kesahihan interpretasi. Interpretasi terhadap bahan wawancara bisa dibahas dengan satu kelompok  peneliti untuk memperoleh consensus tentang interpretasi.

Generalisabilitas

Akhirnya, riset kualitatif seringkali ditolak karena tidak dimungkinkan untuk mengenalisir temuan dari sebuah penelitian yang membatasi diri pada sejumlah kecil atau setting khusus. Para peneliti kualitatif harus bersifat sementara, tentang pembuatan kesimpulan  dan sejumlah kecil kasus terhadap populasi secara kseluruhan . Namun para peneliti kualitatif mampu mendesain yang membantu  pemahaman terhadap situasi-situasi lain, temuan dalam satu riset yang mendalam bisa diperkuat dengan riset untuk menentukan persamaan dan perbedaan

Contoh Riset Kualitatif

Riset kualitatif bisa dibilang tidak menyentuh  bidang prilaku pemilu, mungkin pemilu hanya cocok untuk penelitian kuantitatif sejalan dengan survai pemilu di inggris dan hal ini telah mengangu dan menghambat penguanaan metode penelitian dan teknik lain.

Hasil penelitian, Tony Blair dipuji karena mampu mengubah partai buruh menjadi partai politik yang bisa memenangkan pemilu. Meski banyak yang tidak yakin dengan Kinnock , Blair dipandang bersunguh-sunguh sepertinya memegangn janji yang telah dibuat. Yang paling penting , anggapan tentang kekuatan dan ketegasannya dalam memimpin partainya dalam oposisi dan mempersiapkan dalam pemerintahan yang mengesankan para terwancara. Kepemimpinan tampak menarik pemilih muda, yang belum dibebani oleh masa lalu partai buruh konservatif menuju partai buruh.

Kesimpulan dalam metode penelitian kualitatif ilmu politik ini, menjelaskan bahwa riset kualitatif telah member andil yang signifika dalam ilmu politik, meskipun demikian masih ada ilmuan yang memusuhi riset kualitatif , meskipun dalam percakapan pribadi bukan tulisan yang terpublikasikan. Mereka tetap skeptic tentang apa yang dipandang sebagai pendekatan yangn mahal

 

 


[1] Fielding 1993:140-141

[2] Grant dan Marsh 1997; Mills 1993

[3] Denzin 1997A

You are here: Home Makalah Pangi Syarwi Chaniago: Metode Kualitatif Dalam Ilmu Politik