Login Form

Pangi Syarwi

"Bersama Membangun Bangsa"

Pakar Politik|Pangi Syarwi: Pemikiran Marxisme

The Communist Manifesto and Beyond

Pemikiran perjuangan kelas dikemukakan Marx dan Engels adalah sejarah arti semua masyarakat yang ada sampai saat ini merupakan cerita dari perjuangan kelas, kebebasan dan perbudakan, bangsawan, perbudakan, pelayan, para tukang dengan kata lain, penekan dan yang ditekan, berada pada posisi yang bertentangan antara satu dengan yang lainnya, dan berlangsung tanpa terputus.[1]

Ketika kita berbicara tentang konsep perjuangan kelas, Marx dalam karya terbesarnya yang fenomena yaitu , “The Manifesto of The Communist Party” (Manifesto Partai Komonis) yang dicetak pada bulan Februari pada tahun 1848, yang karya ini lebih tepat disebut dengan famlet politik dari pada buku ilmiah, tapi tulisan Marx dan Engels dengan cepat memperoleh popularitas yag luar biasa sejak pertama kali diterbitkan, bagi kaum Marxisme yang terlalu fanatik telah menjadikan  ‘kitap suci’ disamping karya Marx yang lainnya yaitu “Das Capital”.

Namun paling tidak dalam tulisan ini dapat kita lihat inti sari dari buah pikiran Marx itu sendiri, pemikiran penting Marx dan Engels. Pertama, gagasan sentral dan apa yang ada dibalik kenyataan itu adalah fakta bahwa sejarah kehidupan manusia diawali dengan tantangan, pertarungan dan perjuangan diantara kelompok-kelompok manusia, dan dalam bentuk yang transparan perjuangan itu berbentuk perjuangan kelas. Perjuangan kelas itu menurut pemikiran Marx bersifat parmanen dan merupakan bagian inheren dalam kehidupan sosial, perjuangan itu telah terjadi sejak terjadinya kelas-kelas sosial dalam masyarakat kuno.

Kedua, pernyataan juga mengandung proposisi bahwa dalam sejarah perkembangan  manusia terdapat polarisasi. Suatu kelas selalu berada dalam pertentangan antara satu kelas dengan yang lainnya, dan kelas yang bertentangan tersebut adalah kelas tertindas dengan kelas penindas. Marx perpandangan dalam proses perkembangan masyarakat akan selalu terjadi perpecahan yang tidak bisa dipungkiri, yang kemudian terbentuk dua kelas blok kelas yang saling berpecahan, dan kemudian akan membentuk dua kelas yang saling bertentangan yaitu kelas borjuasi kapitalis dengan kelas proletariat.

Menurut Marx kelas borjuasi tidak mungkin bisa tanpa kemudian melakukan revolusionarisasi alat-alat produksi dan berbagai hubungan produksi, borjuasi akan selalu mengembangkan berbagai bentuk produksi jenis baru.

Ini dilakukan dengan cara mengeksploitasi para pekerja, Marx menyaksikan semua ini terjadi, ia sangat prihatin bagaimana kemudian banyaknya yang memakan korban dikalangan para pekerja . Dan ketika kaum borjuase kapitalis menjadi kelas dominan, mereka kemudian membentuk kelas, kondisi-kondisi penindasan  dan bentuk-bentuk perjuangan baru.

Pada dasarnya Marx berharap kelas pekerja menjadi kelas pengusaha bila berhasil berebut kekuasaan dan kaum borjuis kapitalis memusatkan alat-alat produksi ditangan kelas pekerja. Akhir dari perjuangan kelas pekerja adalah menentang kaum kapitalis, sehingga tercipta masyarakat tanpa kelas, jadi ide Marx sangat sederhana sebenarnya. Masyarakat tanpa kelas dan produksi dikuasai oleh negara serta kekuasaan negara akan hilang kharakter politiknya, artinya adalah masyarakat tidak  bersifat opresif dan menindas masyarakat.[2]

Historical Materialism and Dialetic

Ketika kita berbicara tentang pemikiran Marx tentang materialisme  maka tidak bisa kemudian dipisahkan dengan pemikiran Marx tentang dialektika dan materialisme. Konsep ini mendapat posisi yang sangat sentral dalam pemikiran Marx itu sendiri. Dalam merumuskan gagasannya Marx tentang dialektika Marx memperoleh isnpirasi dari gurunya yaitu Hegel. Tidak berlebihan kemudian berani kita mengatakan bahwa pemikiran Marx tentang dialektika adalah pengjungkirbalikkan pemikiran Hegel.

Dialektika Marx adalah merupakan bagian dari pemikiran Hegel. Namun yang menjadi pertanyaan oleh kita kemudian  adalah bagaimana dengan  dialektika Hegel itu sendiri? Hegel berpendapat bahwa dialektika  merupakan proses dari antagonisme  tesis versus anti tesis yang kemudian melahirkan sistesis. Dari sintesis tersebut muncul kemudian anti tesis dan tesis baru, demikian seterusnya proses itu berlangsung. Proses dialektika Hegel berlangsung pada dunia gagasan atau jiwa. Hegel percaya dengan adanya jiwa suatu entitas mistis  yang menjadi penyebab perkembangan sejarah manusia melalui proses dialektika.[3]Proses dialektika itu baru berhenti bila sudah tercapai ide mutlak.

Marx berpendapat dialektika merujuk kepada pertentangan, kontradiksi, antagonisme atau konflik antara tesis dengan antitesis yang kemudian melahirkan sintesis. Persis sama seperti pandangan Hegel, menurut Marx proses dialektika tidak hanya terjadi pada dunia gagasan atau ide melainkan dunia material. Pemahaman mengenai dialektika untuk mengubah dunia tidak dimaksudkan oleh Hegel yaitu hanya sekedar memahami dunia, karena itu Marx mengklaim dialektikanya tidak saja berbeda dengan dialektika Hegel akan tetapi juga bertentangan.[4]

Marx tidak mengakui adanya persamaan dialektiknya dengan Hegel  secara keseluruhan, artinya adalah secara substansi gagasan dialektika sebagai antagonis tesis versus anti tesis tidak memiliki perbedaan yang secara signifikan. Jadi penolakan Marx itu mengherankan, sulit diakui kebenarannya. Untuk mengetahui dealektika sejarah kita juga harus paham materialisme Marx. Materialisme sebenarnya adalah paham kebendaan, tingkat kesejahteraan atau pemuasan kebutuhan hanya terpenuhi ketika kita bisa mengumpulkan benda sebanyak-banyaknya. Untuk mencapai kebahagian dapat diperoleh jika kita mempunyai benda yang banyak. 

Jadi materi baik dalam bentuk modal maupun kekuatan-kekuatan maupun alat-alat produksi merupakan basis sedangkan sosial, politik, agama dan seni dengan skala perkembangannya dan dinamika merupakan  suprastruktur. Inilah paham materialisme Marx yang kemudian menjadi konsep intelektual determinasi ekonomi dalam sejarah.[5]Pemikiran Marx juga kemudian menjadi dasar klafikasi sejarah peradaban Eropa kedalam empat tahap; komonisme primitif, perbudakan, feodalisme, kapitalisme.

Negara Alat Penindas

Masyarakat tanpa kelas adalah mimpi dari pemikiran Marx ternyata hanya menjadi ide dan pada tataran utopia saja, utopia yang menyesatkan, dalam pemikiran Marx nampak menurut Magnis ‘bahwa dalam masyarakat tanpa kelas tidak ada lagi penindasan manusia atas manusia, tidak ada lagi yang mencuri dan merampok dan memperkosa, ini jelas utopianisme. Apalagi ketika Marx dan engels memehami masyarakat tanpa kelas merupakan sebagai kerajaan kebebasan dimana setiap orang dapat bekerja berdasarkan selera dan kreatifitas dirinya sendiri.

Seluruh Paham Marx menurut Magnis pemahaman Marx tentang komonisme, masyarakat tanpa kelas tanpa pembagian pekerjaan, tanpa paksaan terlihat absurd. Masyarakat sebagai tujuan perkembangan manusia hanya utopia yang menyesatkan karena hanya bersifat kontradiktif dan hanya mengalihkan perhatian mansusia dari hal yang bersifat usaha yang lebih nyata untuk memperbaiki kehidupan masyarakat.

Marx menilai terjadinya eksploitasi kelas Borjuis kapitalis terhadap kelas proletar adalah eksistensi Negara. Negara ternyata hanya dijadikan sebagai alat penindasan. Bagi kelas Borjuis Negara hanya semata-mata untuk mempertahankan status qua hegemoni ekonomi dan politik mereka. Kelas proletar karena tidak menguasai alat dan model produksi yang merupakan sumber kekuasaan, tidak memiliki sedikitpun akses terhadap negara.

Marx adalah manusia Eropa abad XIX yang peradaban industrinya menunjukkan keberpihakan kepada kelompok minoritas kaum borjuasi kapitalis yang menyengsarakan  kelompok mayoritas proletar. Proses indistrilisasi industri, telah menciptakan kesengsaraan luar biasa kepada kaum buruh, tidak hanya buruh laki-laki tapi juga anak-anak dan wanita, tewasnya para buruh wanita yang hamil yang kelaparan yang disaksikan oleh Marx membenarkan asumsi bahwa negara kapitalis akan selalu berwajah binatang buas. Negara mejadi srigala bagi warga negerannya sendiri.

Negara hanya dijadikan sebagai alat penindasan saja, kalau Negara tidak hilang apakah penindasan juga akan terus berlangsung. Marx mengakui bahwa Negara  tidak dapat langsung lenyap. Kaum proletar harus bisa terlebih dahulu harus bisa mnghancurkan kekuasaan kelas kapitalis dan mengkonsolidasi kekuasaan sendiri . Ini berarti pada pasca revolusi akan tatap ada kelompok berkuasa atau masyarakat.[6]

Karl Marx adalah seorang sosok pemikir barat yang lahir pada tahun 1818, yang merupakan keturunan Yahudi penganut christianiy, akan tetapi pada akhirnya menganut paham atheis (tidak bertuhan), yang dikarenakan faktor keluarga dan pergolakan sosial yang terjadi pada masa itu. Di tahun 1848 Marx, mengambil peran di Jerman dalam revolusi perancis yang mengharapkan pada revolusi sosial. Dalam bukunya “communist manifesto “dipresentasikan sebagai analisis sejarah yang mengarah pada pembebasan kasta (tingkatan) dalam sosial masyarakat (class struggle). Dalam teorinya historical materialism, suatu metode yang mencatat pada perkembangan dan perubahan yang terjadi pada sejarah peradaban manusia sesuai dengan perkembangan material ekonomi. 

Marxisme/Komunisme lahir dari konteks masyarakat industri Eropa abad ke-19, dengan semua ketidak adilan, eksploitasi manusia khususnya kelas bahwa / kelas buruh. Menurut analisa Marx, kondisi-kondisi dan kemungkinan-kemungkinan teknis sudah berkembang dan merubah proses produksi industrial, tetapi struktur organisasi proses produksi dan struktur masyarakat masih bertahan pada tingkat lama yang ditentukan oleh kepentingan-kepentingan kelas atas. Jadi, banyak orang yang dibutuhkan untuk bekerja, tetapi hanya sedikit yang mengemudikan proses produksi dan mendapat keuntungan. Karena maksud kerja manusia yang sebenarnya adalah menguasai alam sendiri dan merealisasikan cita-cita dirinya sendiri, sehingga terjadi keterasingan manusia dari harkatnya dan dari buah/hasil kerjanya. Karena keterasingan manusia dari hasil kerjanya terjadi dalam jumlah besar (kerja massa) dan global, pemecahannya harus juga bersifat kolektif dan global.

Pemahaman Marxisme ini sendiri sebenarnya bukan merupakan suatu filsafat baru (menurut Marx, filsafat hanya sibuk menginterpretasikan sejarah dan kenyataan), tetapi bermaksud mengganti filsafat itu sendiri (dengan tujuan mengubah sejarah dan kenyataan). Friedrich Engels dan Karl Marx pada Tahun 1847 mendeklarasikan suatu "manifesto Komunis" dimana sistem kapitalisme dilawan tanpa kompromis.

Kaum tertindas, terutama proletariat (kaum buruh) harus diperdayakan, dan mereka yang harus menjadi subjek sejarah secara revolutioner untuk mengubah sistem masyarakat menjadi suatu masyarakat yang adil, tanpa kelas (classless society), atau bahkan tanpa negara (stateless society). Kekayaan dan sarana-sarana produksi harus dimiliki bukan oleh suatu minoritas / kelas atas secara pribadi, tetapi oleh bangsa secara kolektif. Setiap individu disini memperoleh bagiannya tidak lagi berdasarkan status sosialnya, kapitalnya atau jasanya, tetapi berdasarkan kebutuhannya. 

Menurut Marxisme, norma-norma etis yang dimiliki oleh suatu masyarakat atau kelas tertentu, bukan merupakan nilai-nilai yang berdasarkan pernyataan atau hukum-hukum yang abadi, melainkan mencerminkan dan berakar dari keadaan materil masyarakat. Oleh karena itu, keadaan dan struktur masyarakat harus diubah (misalnya dari masyarakat kelas/golongan ke masyarakat sosialis), supaya bangsa dan manusia (yang direpresentasikan oleh proletariat) dapat mengembangkan semua potensinya dan kemungkinannya (yang selama ini hanya dieksploitasi untuk kepentingan-kepentingan kelas atas) untuk "keselamatan" seluruh bangsa.

Jika dilihat dari sudut pandang antropologi (gambar tentang manusia), marxisme dapat dikatakan sangat optimis. Manusia adalah bagian dari alam, dimana melalui kerja manusia, alam dapat dikuasai, diubah dan dijadikan milik manusia. Manusia melalui kerjanya menguasai materi (materialisme). Ini bukan proses individual, tetapi proses kolektif yang melayani pemenuhan kebutuhan masyarakat. Proses ini terjadi bukan secara evolusioner, melainkan melalui munculnya pertentangan-pertentangan di masyarakat yang dipecahkan secara revolusioner untuk mencapai tingkat baru sejarah (materialisme dialektis). Hakikat manusia dipenuhi melalui proses masyarakat, di mana semua pemisahan antara manusia (kelas, negara dll) ditiadakan. Karena manusia sendiri adalah subjek perubahan yang hakiki (yang berkembang secara revolutioner), akhirnya manusia adalah pencipta dan penebus dirinya sendiri.[7]

Disini muncul jurang yang sangat besar antara teori dan praktek marxisme, antara ideologi komunisme dan sosialisme real. Negeri yang pertama kali menerapkan sistem komunisme adalah Uni Soviet, 1917 di bawah pimpinan Lenin (Stalin, Krushev, Brezhnev, Gorbachev), dan banyak negara lain yang ikut, sampai sesudah perang dunia II, dunia dibagi menjadi dua: dunia "kapitalis" dan "dunia komunis" yang saling memusuhi dalam "perang dingin".

Bahkan ada negara yang dibagikan, seperti Korea Selatan dan Korea Utara atau Jerman Barat dan Jerman Timur. Kita memang bisa lihat beberapa contoh, di mana nilai-nilai sosial komunisme diwujudkan dengan cara yang menyakinkan, namun secara garis besar kita dapat bilang bahwa nilai-nilai itu akhirnya membuktikan diri bahwa tidak dapat diwujudkan dalam sistem politik dengan cara yang menguntungkan masyarakat. Melainkan, nilai-nilai sosial sering dikurbankan untuk kepentingan-kepentingan politik dan kekuasaan dalam konteks nasional dan internasional.

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa teori marxisme berkebalikan dengan teori liberalisasi ekonomi klasik  (Smith dan Ricardo), dimana menurut Marxisme sejarah manusia adalah pertarungan antarkelas (proletar dan borjuis) dan revolusi menghilangkan private property, di mana satu orang adalah sama dengan orang lain.

Dilain pihak ada satu aspek positif pemikiran marx dalam filsafat, kita tidak dapat mengubah suatu struktur sosial tanpa adanya susunan ekonomi dalam sosial tersebut. Merupakan suatu kesuksesan besar yang petut dibanggakan karena filsafat Karl marx telah diterima oleh berbagai negara seperti Cina dan Rusia yang intinya bertujuan pada pembebasan sosial dari pertentangan antar kalangan dan tingkatan dalam sosial. Beberapa personality yang berbeda dapat diambil dari ideologi Karl marx kemudian diimplementasikan dalam negara, membawa pada perubahan yang nyata.

 

You are here: Home Makalah Pakar Politik|Pangi Syarwi: Pemikiran Marxisme