Login Form

Pangi Syarwi

"Bersama Membangun Bangsa"

Pakar Politik|Pangi Syarwi: Kekuasaan Dalam Kebudayaan Jawa

Tugas  Critical Review

Oleh: Pangi Syarwi

Konsep-konsep tentang kekuasaan oleh konsepsi Jawa  berbeda secara radikal , beberapa filusuf  yang telah menuangkan pemikirannya tentang kekuasaan  adalah Machevelli dan Hobbes, para pemikir barat ini lebih fokus kepada, sifat, sumber dan pengunaan kekuasaan. Untuk menjelaskan kekuasaan Jawa mungkin tidak mudah, kalau berbicara pada  kekuasaan yang dibandingkan dengan konsep Eropa moderen dapat disimpulkan dibawah empat judul

Pertama, kekusaan itu bersifat abstrak , kekuasaan itu tidak ada, kekuasaan itu biasannya untuk menerangkan suatu hubungan atau lebih, seperti menjelaskan kewibawaan atau keabsahaan, maka kekuasaan abstraksi, sesuatu rumusan dengan pola-pola interaksi sosial yang suatu kebetulan sedang diamati. Jadi biasannya kita menyimpulkan kekuasan itu ada dalam berbagai macam keadaan, dimana dalam suatu kegiatan orang patuh terhadap kemauan orang lain, baik secara sukarela maupun tidak. Kita dapat melihat kekuasaan itu sendiri ketika terjadi interaksi hubungan sebab akibat antara perintah dan pelaksanaannya. Kedua, sumber-sumber kekuasaan bersifat heterogen, karena kekuasaan dapat disimpulkan dalam pola-pola hubungan sosial tertentu, sehingga banyak para filusuf  barat kemudian memikirkan klatifikasikan dan menganalisis pola-pola hubungan-hubungan ini. Mencurahkan pemikirannya bagaimana kemudian membedakan berbagai sumber kekuasaan.  Maka orang barat telah menerima sumber kekuasaan itu sendiri berupa harta kekayaan, status sosial, jabatan formal atau organisasi, senjata, jumlah penduduk dan sebagainya.

Ketiga,akumulasi kekuasaan tidak ada batasnya yang inheren, kerena kekuasaan hanya mengambarkan suatu abstraksi yang mengambarkan hubungan tertentu antara manusia, maka kekuasaan itu secara inheren tidak membatasi diri. Orang Barat mengangap kekuasaan mencakup senjata, kekayaan, organisasi  dan teknologi maka mereka harus mengakui bahwa sekurang kurangnya dalam akumulasi kekuasaan tidak ada batasnya. Keempat, tidak mempersoalkan keabsahan, karena kekuasaan dari dahulu berasal dari sumber tunggal yang homogen, maka kekuasaan itu lebih dahulu dari pada masalah- masalah buruk atau baik, menurut cara pemikiran orang Jawa, menuntut hak kekuasaan  berasal dari sumber-sumber  kekuasaan yang berbeda, kekuasaan yang hanya berdasarkan kepada kekayaan adalah absah, sedangkan kekuasaan yang hanya berdasarkan kepada senjata adalah tidak absah. Jadi orang Jawa memandang kekuasaan bersifat konkrit, homogen, tetap jumlah keseluruhannya, yang tidak memunculkan implikasi moral yang inheren.

Mencari Kekuasaan, kekuasaan tidak hanya berbicara bagaimana mengunakan kekuasaan, melainkan bagaimana menghimpunnya, sebagian besar kepustakaan tradisional lebih mengutamakan bagaimana memusatkan dan mempertahankan kekuasaan, dari pada masalah bagaimana mengunakannya dengan wajar, di Jawa kekuasaan dapat diperoleh dengan mempraktekkan yoga dengan cara berpuasa, tidak tidur, bersemadi dan tidak melakukan hubungan suami istri, pemurnian ritual untuk menyempurnakan sesajian. Semuannya untuk memusatkan dan memfokuskan kekuasaan. Orang percaya para pembuat keris, legendaries zaman dahulu mampu menempa mata keris yang terbuat dari besi, dengan pamornya yang indah dengan panas yang terpusat pada ibu jari mereka , dalam cerita wayang pada bagian gara- gara yang khas dimana orang pertapa tidak dikenal namanya bersemedih maka perwujudan yang paling menyolok dari kosentrasinya adalah, seperti yang dikatakan para dalang , lautan mulai mendidih dan bergolak.

Para ortodoks berbiacara tentang jalan kekuasaan, di Jawa juga terdapat keterodoks, seperti pribadi raja Singosari yang terakhir yaitu raja Kertanegara, kekuasaan dicari melalui mabuk- mabukkan, pesta seks, dan pembunuhan ritual (tradisi Bhairavis). Ajaran yang mengikuti hawa nafsu yang secara sistimatis dalam bentuk yang paling ekstrem adalah menghabiskan nafsu itu sendiri, sehingga tidak menghalangi seseorang untuk memusatkan kekusaannya. Menurut tradisi Jawa lama, para penguasa harus mengumpulkan sesuatu yang mengangap atau mempunyai kekuatan, seperti di kraton banyak alat-alat yang dipenuhi oleh banda-benda pusaka, seperti keris tombak, alat-alat musik suci dan lain-lain.

Pratanda-pratanda kekuasaan, sebagai tradisi pemikiran politik Jawa, sebagai pratanda-pratanda  pemusatan kekuasaan, bukan pada perbuatan memperlihatkan, pemakaian dan pengunaannya. Pratanda ini dicari orang baik sebagai pemegang kekuasaan maupun didalam masyarakat dimana ia memegang kekuasaanya. Konsep yang penting menurut orang Jawa  adalah hubungan batin seseorang dan kemampuan untuk mengendalikan lingkungannya. Jadi pratanda sebenarnya orang yang mempunyai kekuasaan adalah kemampuannya untuk berkosentrasi, memfokuskan kekuasaan individunya sendiri, menyerap kekuasaan dan memusatkan dalam dirinya dalam hal-hal yang kelihatannya bertentangan. Para pengamat asing dari pristiwa-pristiwa yang terjadi di Indonesia, sering mengatakan bahwa kegiatan seksual Soekarno yang disebarkan secara luas, kelihatannya tidak merugikan dari segi politik, malah dikatakan orang  Jawa merasa memang sudah kodratnya, jika para penguasa bertindak seperti itu, jika analisis diatas memang benar maka aspek-aspek kehidupan pribadi Soekarno tidak diperhatikan dalam perspektif seperti itu. Sebab pratanda-pratanda kejantanan penguasa adalah petunjuk-petunjuk politik bahwa ia masih mempunyai kekuasaan, sebaliknya penurunan menyolok dalam seksual dapat diangap sebagai tanda surutnya kekuasaan dalam hal-hal lain. Istana ketika itu yang selalu menyiarkan kehidupan pribadi Soekarno tidak lebih tujuannya adalah untuk mempertahankan kewibawaaan itu sendiri.

Kekuasaan dan sejarah, pandangan Jawa tradisional tentang sifat dan struktur proses sejarah Sartono mengatakan bahwa perbedaan pokok antara pandangan Jawa tradisional tentang sejarah dan perspektif Barat modern adalah sejarah dipandang sebagain suatu gerakan yang mengikuti garis lurus yang berjalan mengikuti waktu, sedangkan orang Jawa seringkali mengangap sejarah mereka sebagai rangkaian lingkaran yang terjadi berulang-ulang. Kesatuan dan pusat, masyarakat yang baik tidak bersifat hirarkis secara ketat, karena hirarkis memerlukan sebuah otonomi pada masa tertentu yang masing-masing berbeda tingkatannya. Cahaya lampu yang berangsur-angsur meredup secara tidak putus-putus dengan semakin jauhnya cahaya tersebut dari bola lampunya, adalah bentuk perumpamaan konsepsi Jawa yang tepat mengenai hubungan pusat dan daerah juga kedaulatan teritorial. Sementara cahayannya tidak berbeda- beda ini menunjukkan homogenitas kekuasaan, maka warna cahaya yang putih yang merupakan persenyawaan sinkritisme dari semua spktrum cahaya itu, melambangkan aspek-aspek yang memperstukan dan memusatkan. Penguasa dan kelas yang berkuasa, structural kekuasaan kerajaan Jawa sebelum masa penjajahan perluasan rumah tangga dan staff pribadi raja, para pejabat diberi kedudukan dan keuntungan yang menyertai pangkat, sebagai anugrah raja dan dapat dipecat dan diberhentikan sekehendak raja. Konsep kawula gusti atau poros gusti, dimana kekuasaan gusti yang tertinggi yaitu yang terdiri dari kelompok gusti yang sampai pada akhirnya kaum petani, jadi status raja jelas berbeda dengan anggota keluarga dekat yang biasa.

Kekuasaan dan etika Jawa tradisional yang terdiri dari priyayi merupakan sebutan paling umum mengandung nilai-nilai etika, sifat dari priyayi untuk membedakan dengan kelompok lain adalah dari kehalusan sifat mereka. Kehalusan jiwa berarti penguasaan diri dan kehalusan penampilan tampan dan bercita rasa, tata krama, dan perasaan peka. Kekebalan yang halus merupakan sifat khas satria yang sangat didambakan, baik sebagai tokoh militer maupun negarawan yang lawannya adalah pamrih yang sangat membahayakan.

Penulis meilhat orang yang berkuasa berarti mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan  yang lainnya, nilai lebih ini dapat berupa kharisma, harta, jabatan, tapi dalam konsepesi Jawa kekuasaan tidak bersifat kongkrit, kekuasaan diperoleh atau didapat bisa bersifat spiritual atau utopis, yang dititipkan oleh kekuatan raja di raja, untuk mengatur atau memerintah kawula, tidak ada yang menentang perintah raja karena raja adalah tangan tuhan, yang menarik lagi konsep kekuasaan tradisional Jawa adalah diperoleh dengan memuaskan hawa nafsu, seperti mengorbankan para gadis untuk dikorbankan, pertaapaan dan semedih atau puasa. Kemudian mereka berani mengatakan sudah memiliki kekuasaan yang dititipkan kepadanya.

Kekuasaan  masyarakat Barat itu lebih emperisme atau konkrit seperti pemilihan sekarang melalui legitimasi kekuasaan, hasil preferensi pemilu, ini kemudian orang tersebut ketika menang baru berkuasa, berbeda pada masa tradisional yang banyak mengandung kekuatan yang tidak jelas, tapi bisa mempengaruhi rakyat untuk berkerja bersama dengan raja, raja tidak pernah dilawan karena raja adalah titipan tangan tuhan untuk mengatur. Kalau tidak terjadi harmonisasi antara kawula dan gusti ada kemungkinan kekuasaannya akan hancur, bdersamaan dengan kerajaannya, keetika kawulanya meninggalkan kerajaan, karena terlalu di tindas, dan mereka pindah kerajaan. Maka semakin berkirang rakyat kerajaan maka titik kehancuran keranjaan akan semakin dekat.

Penulis  menganalis kekuasaan dapat diperoleh melalui pengetahuan ini adalah kekuasaan hari ini, berbeda dengan kekuasan zaman tradisonal jawa yang kekuasaan dapat diperoleh melalui konsep kesaktian spiritual dan batiniah. Pendidikan Jawa tradisionalisme  hari ini dapat kita lihat pesantren yang banyak berdiri di pulau Jawa dari pengaruh wali songgo, dibandingkan dengan pulau lain, di bawah pengaruh guru atau kiai, melalui tingakatan yang telah diatur mulai dari tingkatan ilmu dasar sampai tingakatan yang esoteric yang rahasia tentang mengenai ada tentang tuhan. Konsepsi kekuasaan jawa tidak dapat dipisahkan dari charisma itu sendiri menjadi sumber kekuasaan pada hari ini, karena charisma benar-benar terletak pada seorang pemimpin , seorang pemimpin yang kadangkala dinagap luar biasa yang kadang-kadang mengemban tugas sejarah yang diangap dari tuhan.

Sampai hari ini kekusaan kiyai masih kita rasakan di tanah Jawa, sangat dihormati, bahkan berdoa di kuburan kiyai mendapatkan berkah dan bertambah rezeki. Kiyai pernah berkuasa walaupun secara fisik tidak memenuhi syarat untuk berkuasa tapi karena pengaruh kharisma yang dominan, misalnya Gusdus pernah jadi Presiden di negeri ini begitu dihormati dan sanjung,  kiyai di terima pemikiranya secara taken for granted bahkan bekas air basuh kakinya di minum supaya berkah dan sehat, ketika Gusdur meninggal, tanah kuburannya diambil, begitu kuatnya kekuataan spiritual yang berpengaruh di kehidupan Jawa. Kekuasaan ini yang dimiliki oleh kiyai sampai hari ini .

 

 

 

 

You are here: Home Perkuliahan Makalah Pakar Politik|Pangi Syarwi: Kekuasaan Dalam Kebudayaan Jawa