Login Form

Pangi Syarwi Chaniago

"Bersama Membangun Bangsa"

Pangi Syarwi Chaniago: Janji Oplosan Sang Caleg

Pengamat Politik: Pangi Syarwi Chaniago

Pemilu lagislatif 2014 tinggal hitungan bulan, tiba-tiba caleg (calon legislatif) rajin menyapa sembari melempar senyum, menemuai konstituen lantas menanyakan permasalahan yang terjadi dan yang bisa dibantu di daerah pemilihan tersebut. Publik mulai curiga, jika sebelumnya tak pernah membuka jendela kaca mobil, sekarang membuka pintu dan turun dari mobil untuk sekedar bersalaman. Aksesori politik keberlimpahan kebaikan caleg sebelum pemilu menyilaukan  keterpesonaan rakyat.

Caleg yang datang menemui rakyat hanya menjelang pemilu, secara tak langsung itu sama artinya telah  menyepelekan rakyat. Tak salah kemudian rakyat juga berbalik menyepelekan caleg yang datang hanya ketika ada maunya.  Pertanyaan rakyat muncul “selama ini kemana saja,  kok baru sekarang rajin menemui masyarakat”. Pertanyaan dan kecurigaan seperti  ini yang sering muncul di otak publik.

Kebanjiran janji caleg mendekati musim pemilu sudah lumrah, janji yang di bayangi derasnya kebohongan dan dusta kaum politik, semakin banyak janji semakin banyak kebohongannya. Inilah awal dimulainya musim perlombaan bohong para caleg pada pemilu legislatif 2014 karena, janji yang abstrak  namun bias kebenaran.

Jika semua berjanji demi egoisme diri maka caleg tak akan lagi malu berjanji menipu publik. Kita harus mewaspadai janji oplosan caleg, sama bahayanya dengan minuman oplosan.  Pusaran kebohongan lewat janji oplosan, itulah yang akan selalu menyelimuti masa depan kita sebagai bangsa.

Bahkan terkadang caleg mengerti, bahwa janji-janji dalam kampanye tak akan mampu ia merealisasikannya,  sebab caleg juga tahu bahwa janjinya tak akan ditagih rakyat. Inilah teori kesadaran palsu dan penyakit (patologi) caleg obral janji irasional asalkan terpilih menjadi wakil rakyat. Inilah yang akan merobohkan kewibawaan politik, mengurangi kemulian elite.

Dengan melihat bentangan empirik selama ini, calegincumbent kembali mengulangi umbar janji-janji kosong meskipun setelah terpilih tidak mampu merealisasikan janji kampanye pada periode sebelumnya. Artinya pidato dusta kaum caleg menistakan keadaban publik.

Paling tidak ada 2 (dua) faktor penyebab caleg berani mengubar janji walaupun tak pernah dipenuhi janji tersebut. Pertama, rakyat terkadang akalnya pendek dan singkat alias pelupa, hampir mereka tidak pernah ingat atau mencatat dan menagih janji caleg pada pemilu sebelumnya. Kedua, faktor  mudah memaafkan ini juga penyebab para caleg tak pernah berhati-hati dan berhenti untuk berjanji utopis.

Calegpun sudah semakin tak normal dalam mengumbar janji, ada caleg berani dan nekat berjanji memberikan 100% gajinya untuk rakyat. Caleg semakin piawai dan cangih membual janjinya, berimplikasi memperbanyak kaum politik parokial yang pada akhirnya membunuh partisipasi publik. Akhirnya bermuara pada gerakan golput sehingga politik tak lagi berdaulat.

Caleg yang piawai membual janji itulah caleg kecap, namanya jual kecap, pasti selalu nomor satu dan terbaik. Mendeteksi caleg bohong dalam berjanji bisa dilihat dari 2 (dua) indikator. Pertama,  janji yang disampaikan ke publik mengandung ketidakpastian, dalam penyampaian janji mereka tidak segera menjawab permasalahan. Kedua, janji yang disampaikan tidak ada relevan dengan topik atau suka melakukan pengalihan isu.Ketiga, caleg berjanji seolah-olah mampu mengerjakan pekerjaan eksekutif padahal tugasnya seorang legislator.

Bila kita cermati, pidato janji politik  saat kampanye di ruang publik tak lebih dari sekadar laporan teknis, namun jauh dari harapan berkurangnya angka penganguran, menurunnya kemiskinan. Hilangnya kepantasan politik, ketakberdasaran janji dan kebohongan yang sama saja dengan membohongi diri sendiri demi sekedar menjaga kekuasaan dan gengsi.

Keadaan seperti ini yang disebut dengan teori kebenaran korespondensi (correspondence theory of truth), menyatakan sesuatu dianggap benar bila arti pernyataan seseorang atau kelompok, sesuai dengan kenyataan. Dengan kata lain harus ada keselarasan antara pernyataan yang diucapkan dengan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Bila kita telaah, dalam fenomena politik, teori ini memegang peranan penting untuk melihat sejauh mana kebenaran para caleg dalam menyatakan janji politiknya.

Para calon legislatif yang berjanji membela kepentingan rakyat kecil hanya dapat dipastikan kejujurannya ketika sunguh-sunguh memperjuangkan jaminan sosial bagi orang miskin di parlemen.

Musuh Politik

Musuh terbesar politik adalah nihilisme atau absennya caleg untuk memenuhi janji- janjinya. Janji yang terlalu muluk-muluk dalam kampanye justru akan membuat publik semakin tak empati.  Janji yang terlalu banyak melongsorkan citra dan kewibawaan sang caleg.

Lebih baik caleg menghindari janji-janji ketika kampanye, saya rasa itu pilihan yang tepat di tengah tingginya krisis kepercayaan rakyat terhadap caleg yang belum memiliki reputasi politik yang mengesankan. Rakyat bingung menentukan pilihan caleg yang tak jelas identitas dan karakternya. Lagi-lagi, rakyat terkondisikan memilih “kucing dalam karung”. Bahkan ada karung berisi “ular” dan “maling”.

Oleh karena itu, janji adalah janji, harus berhati-hati dengan janji sebab nilai (value political) keutamaan dalam politik adalah menyelesaikan hasrat janji agar hidup bermoral.Logika inilah yang menjadi dasar untuk menagih janji caleg yang pernah terucapkan. Sekali lagi janji adalah janji oleh karenanya harus ditepati dan dibayar tunai.

Budaya politik caleg yang kerap menyuguhi janji pepesan kosong akan ditinggalkan rakyatnya kerena rusaknya wibawa dan citra sang caleg. Caleg hebat akan memberikan penekanan pada perilaku-perilaku non aktual seperti oreantasi, serta menjaga sikap, nilai-nilai kepercayaan publik. Berhati-hati lah memilih caleg yang menawarkan janji (oplosan). Salah pilih justru akan membuat bangsa semakin terpuruk, menodai cita-cita politik untuk kemanusian, keteraturan dan kesejahteraan.

Caleg yang tak mau berhenti mengubar janji sampai terpilih dalam pemilu dan kebiasaan datang menemui rakyat ketika ada maunya, perilaku caleg memberi uang sogokan agar dipilih dalam pemilu, janji yang tak dibayar secara cash (tunai). Semua fenomena di atas sesunguhnya menyepelekan rakyat, sudah saatya elite berhenti menyepelekan publik.

You are here: Home Opini Pangi Syarwi Chaniago: Janji Oplosan Sang Caleg