Login Form

Pangi Syarwi Chaniago

"Bersama Membangun Bangsa"

Pangi Syarwi Chaniago: Mengapa Parpol Islam Tak Pernah Menang Pemilu?

Pangi Syarwi Chaniago

Partai Islam mulai ditinggalkan oleh pengikutnya karena tak mampu memperjuangkan rangkaian misi suci yang mengusung jargon bersih, anti korupsi, partai moral. Kerap elitenya tak menunjukkan kepribadian yang berbudi pekerti,tak menujukkan jiwa islami yang bersih dan damai. Partai Islam semestinya melahirkan sikap dan perilaku (political behavior) serta budaya politik (political culture) yang berorientasi pada nilai-nilai Islam.

Partai Islam dari dulu sampai sekarang belum pernah menjadi jagoan (menang) dalam pemilu. Pada pemilu1955, Soekarno melalui Partai Nasional Indonesia (PNI) pernah menentang partai Masyumi, “kalau memaksakan jadi negara Islam, lihatkan dulu kekuatan partai Islam, kalau ternyata mendapat dukungan dan menjadi kekuatan yang dominan dari umat Islam silahkan terapkan negara Islam”.

 Namun Masyumi sebagai partai Islam terbesar saat itu tak muncul sebagai kekuatan dominan pemenang pemilu 1955. Artinya, seandainya partai Masyumi menang pemilu 1955, berkemungkinan Indonesia menjadi negara Islam sampai sekarang. Lima besar pemenang pemilu 1955, Partai Nasional Indonesia mendapatkan 22,3 persen, Masyumi 20,9 persen, Nahdlatul Ulama 18,4 persen, Partai Komunis Indonesia 16,4 persen, dan Partai Syarikat Islam Indonesia 2,89 persen.

Begitu juga pada era- Orde Baru, partai Islam tak memiliki ruang gerak yang lebih luas dan panjang, Soeharto menyatukan (fusi) partai Islam di bawah bendera PPP, pahitnya partai ini tidak pernah menang dalam waktu 32 tahun hanya menjadi kaki tangan rezim Soeharto.

Pada era reformasi, partai Islam juga tak mampu menjadi kekuatan yang dominan. Pemilu 1999 dimenangkan oleh PDI-Perjuangan, pemilu 2004 dimenangkan oleh partai Golkar dan pemilu 2009 dimenangkan oleh partai “Nasionalis Relegius” yaitu partai Demokrat.

Dalam tiga pemilu yang dilangsungkan di Indonesia pasca-Reformasi 1998, jumlah perolehan suara partai Islam terus mengalami kemunduran dibanding Pemilu 1955 (44 persen). Partai Islam  tak pernah ‘take off’ dalam sejarah panjang perjalanan pemilu di Indonesia. 

Seperti yang ditulis oleh oleh Ahmad Najib Burhani (2013), perolehan suara seluruh partai Islam (PPP, PKS, PBB, PAN, PKB) pada Pemilu 1999 sekitar 37%, sedikit naik pada Pemilu 2004 menjadi 38%  dan kemudian terjun bebas menjadi 29% pada Pemilu 2009.

Pada pemilu 2014, ada lima partai Islam yang akan ikut berkompetisi yakni PKS, PKB, PAN, PPP, dan PBB. Dari kelima partai politik Islam di atas, PKS merupakan penyumbang terbesar perolehan suara partai Islam pada Pemilu 2009 silam. Dengan raihan sebesar 7,88% suara, elektabilitas PKS berada di atas PKB (4,94%), PAN (6,01%), PPP (5,32%), dan PBB (1,79%). Berbeda jika dikomperatifkan dengan pemilu 1955, apabila suara partai Islam digabungkan, partai Islam tetap lebih dominan suaranya dibandingkan dengan partai nasionalis.

Kalau kita analisis problematika partai Islam sejak pemilu 1955, penyebab kalah dalam ring pemilu dan trend kecenderungan turunnya suara partai Islam di bandingkan dengan partai nasionalis secara umum disebabkan;pertama,  partai Islam di Indonesia secara umum belum berhasil mencapai efektifitas politik. Salah satu pangkal efektifitas politik menurut Allan A. Samson adalah kepemimpinan. Kepemimpinan partai politik belum mampu memfungsikan partai sebagai medium ‘artikulasi’ kepentingan politik umat Islam itu sendiri. 

Kedua, adanya overestimasi, partai Islam terlalu berharap pada kekuatan mayoritas umat Islam. Ketiga,opini publik terhadap partai Islam yang buruk sehingga terbangun pencitraan (positioning) negatif akibat pemberitaan tak berimbang, pada akhirnya bermuara pada bingkai (framing) partai “baca bismillah” dengan partai yang “tak baca bismillah” sama saja, sama-sama korup.

Keempat,mengutip buku mengapa partai Islam kalah? Ditulis Abdurrahman Wahid dan kawan-kawan mengatakan bahwa, partai Islam belum mampu mengambil alih peranan sebagai “katarsis”, sentimen yang digunakan untuk membangun solidaritas pemilih dikalangan partai Islam yang masih saja sentimen lama yang klasik, berkaitan dengan “Islamic schism” menjadi garis polarisasi umat.

Kelima,hasil survei yang dipublikasikan lewat media, secara tak langsung mempengaruhi perilaku memilih (voting behavioral) masyarakat sehingga mebentuk opini ‘untuk apa memilih partai Islam, sudah pasti kalah.’ Terakhir krisiskepemimpinan di lingkungan partai Islam, tokoh dari Partai Islam kalah jauh dibandingkan  dengan tokoh partai nasional.

Partai Islam mengalami komplikasi, solusi meningkatkan suara partai Islam pada pemilu 2014 dengan cara;pertama, partai Islam semestinya memiliki nilai (velue) dan punya gaya berpolitik yang berbeda (diferensiasi) dengan partai nasionalis.

Kedua, Partai Islam harus tetap konsisten membawa misi kenabian yaitu politik kelas tinggi (high political) amar ma’aruf nahi mungkar, seperti menciptakan ketaraturan dalam masyarakat, keadilan, ketertiban, membangun sistem politik yang bersih. Selama ini partai Islam menjadi ginju, hanya terlihat tapi tak terasa kontribusinya.

Ketiga, partai Islam seperti PKS, jangan hanya mengandalkan basis massa muslim perkotaan dan kaum intelektual, harus mau membuka diri bertemu kiyai, muslim santri pedesaan dan menancapkan cengkramannya ritual-ritual Islam tradisional seperti Islam nahdiyin dan begitu juga sebaliknya PKB meski berselancar pada pemilih perkotaan dan massa intelektual.  

Sekali lagi, kita menginginkan agar  partai Islam terus mampu meningkatkan kapasitas organisatorisnya, terus mampu membangun dirinya, terus mampu meningkatkan pengabdian kiprah dan perannya bagi kepentingan ummat, bangsa dan negara.Kita tak menginginkan partai Islam terkubur dalam liang lahat karena ditinggalkan pengikutnya!

You are here: Home Opini Pangi Syarwi Chaniago: Mengapa Parpol Islam Tak Pernah Menang Pemilu?