Login Form

Pangi Syarwi Chaniago

"Bersama Membangun Bangsa"

Pangi Syarwi Chaniago: Momentum Politik Jokowi

Percaya atau tak percaya Jokowi berada di puncak popularitas, tak sedikit pemerhati politik  mengatakan sekarang adalah waktu yang terbaik untuk PDI-P mencalonkan Jokowi menjadi calon Presiden.Nama Jokowi sangat dikenal dan disukai oleh masyarakat, bahkan banyak hasil survei menyebutkan popularitas Jokowi mampu meningkatkan elektabilitas PDI-P pada pemilu legislatif 2014.

Popularitas jokowi terbentuk oleh political branding dan bisa juga secara alami. Political branding merupakan salah satu strategi dalam membangun citra politik (political image). Secara spesifik, konsep political branding mengacu pada taktikyang digunakan oleh politisi untuk meraih popularitas. Dewasa ini, political branding tidak sebatas menggunakan metode periklanan politik tradisional, namun lebih pada penggunaan metode kampanye identitas diri dan kampanye pemasaran menyeluruh, (Scammell 2007).

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan November 2013 oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS ), mengungkapkan bahwa dukungan untuk PDI-P telah terus tumbuh 17,6 persen dari sebelumnya 11,6 persen pada Juli lalu. Menurut hasil studi riset CSIS, PDI-P memperoleh 29,9 persen dari 1.180 orang yang diwawancarai, 20 orang diantaranya mengatakan mereka akan memilih PDI-P jika partai mencalonkan Jokowi sebagai calon presiden, sementara partai Golkar yang mencalonkan Aburizal Bakrie memperoleh 15,1 persen suara dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dengan jumlah 9,2 persen suara.

Pemilu presiden 2014 merupakan masa keemasan popularitas figur Jokowi (golden person). Ini momentum tepat Jokowi mencalonkan diri menjadi presiden kalau tidak Jokowi akan kehilangan momentum politik, tak ada jaminan popularitas Jokowi akan terus naik sampai pemilu presiden berikutnya. Konon cerita, Amin Rais dulu tak mau mencalonkan diri menjadi calon presiden tahun 1999, seandainya Amin Rais bersedia menjadi calon presiden pada waktu itu hampir dipastikan akan terpilih, sebab Amin Rais sedang menunggang popularitas (puncak popularitas) sebagai tokoh reformasi 1998, tidak ada yang bisa menyaingi popularitasnya pada masa itu.

Namun sayang beribu sayang Amin Rais baru mencalonkan diri pada pemilu presiden 2004, hasilnya Amin Rais tak terpilih menjadi presiden sebab momentum menunggang popularitas baginya sudah lewat. Jokowi mestinya belajar dari peristiwa hilangnya momentum politik Amin Rais ini, kalau tidak di masa pemilu yang akan datang bisa saja muncul tokoh dengan figur baru yang bisa menandingi popularitas Jokowi.

Ada dua karakter  kuat yang melekat  pada bangsa kita, pertama adalah cepat bosan dan  yang kedua cepat lupa.  SBY tahun 2004 dan 2009 sangat disukai dan dikenal oleh rakyat. Namun tahun 2013 banyak yang bosan dengan figur SBY sebagai pribadi yang santun, ramah, penyabar, dan bijak. Sehingga kini ia tak lagi menjadi primadona media karena kejenuhan publik. Justru keadaan berbalik sekarang, menyukai karakter Jokowi yang merakyat, apa adanya tanpa dibuat-buat. Memijarnya popularitas Jokowi sebagai calon presiden menjelang pemilu 2014 juga pernah dialami Susilo Bambang Yudhoyono sehingga terpilih menjadi presiden untuk kedua kalinya, Jokowi mestinya belajar dari presiden SBY dalam menunggang popularitas.

PersonJokowi dan SBY

Menurut Dan Nimmo, dalam political marketing produk politik terbagi menjadi empat, yakni; 1) policy; kebijakan, isu, dan program kerja, 2) person; figur kandidat dan figur pendukung, 3) party; ideologi, struktur, visi-misi dari partai yang mencalonkan, 4) presentation; medium komunikasi atau konteks simbolis (Pradhanawati 2011, h. 9). Keempat produk politik tersebut harus ada dalam political marketing. Jokowi melengkapi ke empat elemen political marketing di atas, punya figur (person) yang dikenal dan disukai, memiliki  program kerja (policy) yang diterima oleh rakyat, memiliki mesin partai (party) dan mampu mengemas (presentation) dengan baik  sehingga membentuk popularitas. Namun dari  keempat elemen di atas bagian elemenperson (figur) yang paling menonjol dari Jokowi.

Pada elemen figur(person), ada satu hal yang tidak berbeda ketika kita berbicara tentang keberhasilan partai demokrat pada pemilu 2009, yakni bicara tentang tokoh utamanya, figur sentral Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sosok figur (person) SBY dikenal sebagai pribadi yang santun, ramah, penyabar dalam membalas kritikan dan bicaranya yang teratur. Saat itu publik mendambakan citra ideal seperti yang melekat padanya.Figur tersebut memiliki dampak yang mampu meningkatkan elektabilitas partai demokrat pada pemilu legislatif 2009. Figur Jokowi yang apa adanya, bicaranya yang tidak teratur juga bisa berpeluang meningkatkan elektabilitas PDI-P pada pemilu legislatif 2014 mendatang.

Efek “blusukan” juga berhasil membentuk figur (person) Jokowi. Dampak (trickle effect)  “blusukan” yang dilakukan oleh Jokowi akan berbeda hasilnya jika yang melakukan elite politik lain. Apabila Jokowi melakukan blusukan maka dianggap alami atau asli (original), namun kalau yang melakukan tokoh lain  seperti Aburizal Bakri terlihat tidak asli. Ketika Jokowi makan di Warteg tentu jauh berbeda pesan (message) yang muncul di otak rakyat dibandingkan Prabowo Subianto dan Aburizal Bakri makan di warteg, terkesan dipaksakan.

Peluang besar menjadi presiden apabila figur calon presiden dikenal di atas  90%, artinya  dikenal positif (rekam jejak dan nama baik). Kalau dikenal hanya di bawah 50% maka sulit akan terpilih. Hasil survei LSI November 2013 calon Presiden  2014 yang dikenal di atas 50% hanya ada sembilan orang kandidat presiden. Menurut LSI Jokowi dikenal 93%, jadi hampir dipastikan peluang Jokowi menjadi presiden sangat besar.

Penasbihan popularitas Jokowi berjalan secara alamiahkarena gaya kepemimpinannya yang sering nyeleneh tur sembodo’ dan sesekali melawan mainstream, digadang-gadang inilah yang menjadi daya magnet luar biasa yang kemudian menjadi alternatif pilihan berita sehingga figur Jokowi dikenal dan disukai rakyat. Semoga rakyat tak bosan dan jenuh dengan figur Jokowi yang khas dan langka.

Penulis adalah Alumnus Program Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI),Peneliti di Indonesian Progressive Institute (IPI)

You are here: Home Opini Pangi Syarwi Chaniago: Momentum Politik Jokowi