Login Form

Pangi Syarwi Chaniago

"Bersama Membangun Bangsa"

Pangi Syarwi Chaniago: Misi Politik Untuk Kemanusian

Oleh: Pangi Syarwi

Mengutip pendapat presiden ke-35 Amerika Serikat John F Kennedy, “My loyalty to my party ends where my loyalty to my country begins.“ (loyalitas politikus terhadap partai berakhir ketika pengabdiannya terhadap negara dimulai), inilah misi politik untuk rakyat presiden John F Kennedy.

Mohammad Hatta adalah sedikit contoh elite yang menjalankan misi politik untuk rakyat. Memilih keluar-masuk penjara, menderita menjadi jalan hidupnya dari pada mengkhianati rakyatnya sendiri. Hatta mampu menahan diri sejenak, menolak rumah mewah, mobil dan fasilitas lain yang ditawarkan Belanda pada waktu itu dan lebih separoh hidupnya berjuang bersama rakyat untuk mencapai kemerdekaan. Dibutuhkan elite negarawan yang memimpin lewat kecerdasan hati dan kecerdasan otak seperti Hatta, mereka memimpin bukan demi kekayaan.

Cita pemilu melahirkan pemimpin yang memiliki misi politik untuk rakyat, dicintai dan mencintai rakyatnya. Meminjam ungkapan Syafi’i Maarif, “aktor elite yang tuna moral dan tuna tanggung jawab, ke­lak­uan kebanyakan politisi hari ini terpasung da­lam ruang yang sempit, pengap dan jangka pendek, sehingga demokratisasi konstitusional pincang serta lumpuh akibat pelbagai penegakan hukum yang penuh dengan pasal-pasal tanpa makna”.

Macet total lahirnya elite politik yang berkarakhter yang menjalankan misi politik untuk rakyat, masih adakah Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, Haji Agus Salim dan pak Natsir? Tak ada lagi yang mau menjaga, mengenang dan me­ne­ruskan jiwa mereka yaitu berpolitik untuk rakyat. Bangsa ini sedang mengalami kelumpuhan karakhter, karena perilaku politisi yang menyimpang dari jalur etika dan moral agama. Lumpuhnya karakhter politisi bangsa Indonesia jelas-jelas tercermin dari kondisi bangsa yang memilukan hari ini.

Memilukan sebab koruptor masih sempat tersenyum ketika ketok palu vonis telah dijatuhkan, aneh tapi itulah kenyataan ekspresi hukum di negeri ini. Bila maling ayam dihajar massa sampai mati, copet di kereta api tertangkap tangan langsung nasibnya sudah bisa ditebak dihakimi massa. Berbeda kemarahan rakyat terhadap koruptor tak seperti pencopet.

Kesibukan para calon pemimpin politik bukanlah “menawarkan isi” melainkan “kemasan” bukanlah mendalami basis moral dan visi republik. Perilaku elite masih sibuk dengan urusannya sendiri, sementara tingkat pembelaannya terhadap rakyat masih jauh dan rendah. Mereka ini yang mendarahi kesucian rahim demokrasi sehingga  hukum dan keadilan tidak tegak.

Pemilu Jembatan Emas Penuh Jebakan

Salah satu agenda politik yang paling hangat  adalah pesta demokrasi mulai dari pemilihan Presiden, Anggota Legislatif, DPD pada tahun 2014. Partai akan merekrut calon elite yang akan memimpin Indonesia untuk menentukan arah pembangunan dan masa depan bangsa. Pemilu jembatan emas yang penuh jebakan, disatu sisi melahirkan elite negarawan, saat yang sama juga bisa melahirkan politisi preman yang berfikir pragmatis, elite koruptor penggasak uang rakyat.

Ditunggu pemilu 2014 (Bupati, Walikota, Gubernur, DPR, DPD, DPRD Menteri dan Presiden) yang menjalankan misi politik untuk rakyat. Kita sepakat menolak  politisi yanghanya datang menemui konstituen jelang pemilu dengan mengubar janji.Elite politik yang sibuk dengan politik “pencitraan” namun  miskin  sekali dengan “politik pelayanan”. Perilaku elite politikyang sering absen dalam tugas utamanya namun sangat rajin dalam aktifitas-aktifitas illegal seperti korupsi.

Bayangkan apa yang terjadi jika yang duduk di Parlemen dan Lembaga Eksekutif serta Lembaga Penegak Hukum adalah orang-orang yang bermoral jelek, kompetensi minus, tentu cara berpolitiknya jauh dari misi politik untuk rakyat, karena yang menjadi ob­se­si­nya hanyalah popularitas dan ke­kua­saan yang mendahulukan misi pribadi dari pada misi rakyat.

Dalam literatur yunani kuno dan literatur keagamaan yang sepanjang penulis ketahui, ada kesamaan antara penguasa, pejabat nagara dan politisi haruslah orang-orang yang “bersih moralnya”, dan memiliki kompetensi dan narasi memimpin. Analog dengan tubuh manusia, Plato berpandangan, elite politik mestinya sosok seorang filusuf- ibarat kepala mampu melihat ke depan, berfikir rasional dan mencintai kebijaksanaan (wisdom). Sedangkan di dalam tradisi agama, sosok pemimpin dicontohkan oleh figur-figur nabi. Para nabi merupakan sosok pengembala yang penuh tangungjawab dalam memegang amanah. Artinya adalah, mencintai gembalanya dan tahu betul ke mana harus berjalan membawa umatnya.  

Cita-cita pemilu 2014 melahirkan elite politik yang anti suap.Jika para elite pejabat tak bisa di suap, Indonesia masih bisa berharap, mereka yang hidupnya bersih, pasti tak takut menjadi orang yang tersisih dan konsisten dalam perilakunya anti suap.

Penulis Adalah Dosen Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Peneliti di Indonesian Progressive Institute 

You are here: Home Opini Pangi Syarwi Chaniago: Misi Politik Untuk Kemanusian