Login Form

Pangi Syarwi Chaniago

"Bersama Membangun Bangsa"

Pangi Syarwi Chaniago: Darurat Etika Politik

Etika politik adalah filsafat moral tentang dimensi politis kehidupan manusia.Di sini ada tiga kata kunci yang perlu dipahami terlebih dahulu: etika, moral, politis. Etika mempersoalkan tanggung jawab dan kewajiban manusia.

Penguatan etika politik adalah pertaruhan masa depan demokrasi di Indonesia. Masalah korupsi dan kelemahan pertanggungjawaban publik di negeri ini bukanlah karena defisit hukum, tetapi terutama karena erosi etika politik. Padahal, etika politik yang menghubungkan hukum dengan ideal kehidupan sosial-politik, kesejahteraan bersama, dan keadilan sosial. Seperti kata Paul Ricoeur, etika politik adalah kekuatan reflektif untuk membongkar argumen yang melegitimasi kebijakan publik dengan menempatkan diri dalam posisi dan dimensi moral orang lain.

Dengan kata lain, etika politik mempersoalkan kebaikan dan tanggung jawab manusia sebagai manusia serta manusia sebagai warga negara-terhadap negara, hukum yang berlaku serta tatanan publik lainnya. Kebaikan manusia sebagai manusia tidak selalu identik dengan kebaikan manusia sebagai warga negara. Keidentikan antara manusia yang baik dengan warga negara yang baik bisa berlangsung dalam suatu negara yang baik (Aristoleles). Negara yang baik membawa kebajikan manusia sebagai manusia serta manusia sebagai warga negara.

Kita tidak ingin semua tindakan aktor politik keluar dari etika dan moralitas universal yang juga diajarkan oleh agama, sekali lagi hendaklah  tingkah laku elite politik yang mendahuluinya etika. bayangkan apa yang terjadi jika yang duduk di DPR dan lembaga penegak hukum dan lembaga negara, ternyata Menteri, Jaksa Agung, Polri yang bermoral busuk, kompetensi minus, berpolitik jauh dari nilai etika, yang menjadi obsinya hanya popularitas jabatan.

Memper(tanya)kan Etika Elite?

Hancurnya etika politik yang dipertontonkan langsung ke rakyat oleh elite politisi. Hanya menuruti dan menghampa kepada hawa nafsu yang dekat dengan “kejahatan” mandat suci yang dipundakkan pada sang wakil rakyat yang kemudian diselewengkan sedemikian rupa. Dalam teori etika politik, setiap perbuatan harus bersandarkan pada pertimbangan yang etis yang berhubungan dengan kepantasan, menerima mandat dan amanah oleh elite politik yang kemudian harus menjadi tauladan  dan memberi kemaslahatan.

Lunturnya etika para elit politik akibat gaya politik yang pragmatis, miskin  idealisme dan  sering absen dalam tugas pokok namun sangat rajin dalam aktifitas-aktifitas ilegal. Gurat kegalauan semakin tergambar jelas pada wajah demokrasi bangsa. Akibatnya hukum telah terbeli, maka hukum dijual murah di grosir oleh kepentingan politik “bandit”. Hukum dikalahkan oleh keputusan politik yang disetting oleh para bandar politik. dan yang paling menyedihkan dan merisaukan di republik ini adalah hukum betul-betul hancur karena hampir semua proses hukum bermasalah.

Kultur dari penegak hukum yang kumuh, terjadinya pengingkaran sumpah dan transaksi kepentingan pragmatis, cerdas otak namun tidak cerdas hati, dan seringkali mengunakan dalil-dalil hukum untuk pembohongan publik. Meminjam ungkapan Buya Syafi’i Maarif, “aktor elite yang tuna moral dan tuna tanggung jawab, kelakuan kebanyakan politisi terpasung dalam ruang yang sempit, pengap dan jangka pendek, sehingga demokratisasi konstitusional pincang serta lumpuh akibat pelbagai penegakkan hukum masuk lubang hitam kebohongan”.

Macet total lahirnya elite politik yang berkharakter, masih adakah Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, Haji Agus Salim. Tak ada lagi yang mau menjaga, mengenang dan meneruskan jiwa dan etika mereka, pemimpin yang memilih jalan hidupnya menderita dari pada berkhianat pada bangsa.Bangsa ini sedang mengalami kelumpuhan karakter, karena perilaku politisi yang menyimpang dari jalur etika dan moral agama, lumpuhnya karakter politisi bangsa Indonesia jelas-jelas tercermin dari ayat publik selama ini.

Politisi malapraktik seringkali hanya sebatas pada semangat pragmatis dan oportunis, cenderung hanya sebatas pada masalah untung­­­­­-rugi, dan jauh dari masalah kemaslahatan rakyat.Membangun etika politik elite membutuhkan jalan yang panjang yang melelahkan, dalam perjalanan banyak batu sandungan seperti pragmatisme yang merusak etika politik elite.

 

You are here: Home Opini Pangi Syarwi Chaniago: Darurat Etika Politik