Login Form

Pangi Syarwi Chaniago

"Bersama Membangun Bangsa"

Pangi Syarwi Chaniago: Menyoal Ketamakan Elite

Pengamat: Pangi Syarwi Chaniago

Elite politik mempertontonkan ketamakan dengan menggerogotij uang rakyat secara brutal. Penyakit lemah karakter yang menumbuhkan jiwa korup, penyimpangan, kemegahan, dan lupa diri boleh jadi tumbuh dalam virus mentalitas rendah diri yang meretakkan bayangan kebangsaan.

Kalau ditelusuri, korupsi berakar pada salah satu sifat jelek nafsu manusia, yaitu tamak dan tergesa-gesa. Ketamakan yang dilakukan secara sistematis melahirkan kejahatan yang sangat terencana dan terukur. Dulu dalam masyarakat tradisional dikenal ‘munjung’, babi-ngepet, dan tuyul sebagai ‘teknologi’ untuk mendapatkan kekayaan secara instan dan tidak wajar tanpa kerja keras. Tapi, penyakit tamak yang seperti ini tidak pernah menjadi wabah yang begitu luas seperti korupsi.

Suap dan Penegakan Hukum

Sumber kejahatan korupsi adalah suap, akibatnyapenegakan hukum sampai pada titik nadir yang paling rendah, hukum menjadi pasal-pasal tanpa makna, hukum yang tertulis yang awalnya untuk menegakkan keadilan dan kebenaran menjadi permainan dan senda gurau belaka.  Jika para pejabat tak bisa di suap, Indonesia masih bisa berharap, mereka yang hidupnya bersih, pasti tak takut menjadi orang yang tersisih dan konsisten dalam perilakunya anti suap.

Menderita menjadi jalan hidupnya karena tak mau mengkhianati rakyat, menahan diri  sejenak dari menguak pragmatisme politik.  Seperti Mohammad Hatta, setelah menyelesaikan studinya di Universitas Rotterdam Belanda memperoleh banyak tawaran yang menggiurkan, mulai dari rumah, mobil dan kekuasaan dari VOC Belanda, namun semua  ditolak Hatta, menderita dan berjuang bersama rakyat  menjadi pilihan hidupnya daripada mengkhianati rakyat, elite politisi harus belajar dengan Hatta, mampu menahan diri sejenak.

Dibutuhkan elite negarawan yang memimpin lewat kecerdasan hati dan kecerdasan otak. Memimpin bukan demi kekayaan, tak mau kaya lewat jalan pintas (instan). Otak koruptor berfikir pendek, singkat, terpasung pada ruang yang sempit dan pengap, tanpa proses dan kerja keras lalu kaya, akhirnya korupsi menjadi jalan hidupnya, inilah gaya hidup koruptor masa kini.

Dipundak pemimpin yang bebas korupsi, disitulah masa depan negeri kita. Pemimpin yang harta dan penghasilan pribadi, mereka publikasi tanpa ditutup-tutupi, dengan jurus transparansi, mereka hadang gerak gerik para pencuri, pemimpin seperti ini yang kita rindukan, elite politik penuh tauladan.

Spiral yang menodai hukum, sebab koruptor masih sempat tersenyum ketika ketok palu vonis telah dijatuhkan, aneh tapi itulah kenyataan ekspresi hukum di negeri ini. Inilah titik klimaks koruptor menari dan berpesta di atas putusan vonis hakim.  Fenomena yang sulit kita temukan di negara lain, sebab hukuman berat  sudah menanti.

Penjara sudah penuh oleh koruptor, mari bersama kita tanyakan untuk apa gunanya memenjarakan koruptor? penjara mewah bagi koruptor dengan fasilitas yang memanjakan itulah pertanyaan historisnya. Artinya hukuman yang ringan dan penjara mewah tak akan membuat efek jera, inilah kejahatan negara terhadap rakyatnya, menyediakan fasilitas penjara mewah bagi koruptor.

Bila maling ayam dihajar massa sampai mati, copet di kereta api tertangkap tangan langsung nasibnya sudah bisa ditebak dihakimi massa, padahal yang dirugikan hanya satu orang yang menjadi korban pencopetan, namun kemarahan besar  massa terjadi. Berbeda kemarahan rakyat terhadap koruptor tidak terlalu besar, jarang kita melihat koruptor di hajar massa di pengadilan justru koruptor bisa tersenyum dan tertawa.

Tak ada maksud penulis agar koruptor dihakimi massa, namun maksudnya hukuman seberat-beratnya harus disiapkan untuk koruptor. Akhirnya hukum tak lagi dipercaya sebagai tempat untuk mencari kebenaran, pengadilan juga tak lagi diyakini sebagai tempat untuk mencari keadilan.

Strategi Penghancuran Ketamakan

Strategi mencegah ketamakan elite;  pertama, negara harus mempersiapkan hukuman berat dan memiskinkan para koruptor. Sungguh nikmat jadi koruptor di negeri ini, nikmat karena hukuman penjara dan denda yang diberikan tak sebanding dengan besarnya kerugian negara. Tanpa remisipun koruptor tinggal di dalam penjara tak lebih dari 50-60% dari masa hukuman, hukuman untuk koruptor masih membuat nyaman dan aman, sehingga itulah kemudian tak melahirkan efek jera. Negara gagal dalam memberikan pelajaran kepada para koruptor. Kedua, negara harus mempersiapkan segera regulasi bahwa mantan koruptor yang keluar dari penjara dicabut hak politiknya  artinya mereka kehilangan hak untuk memilih dan dipilih selamanya, sehingga tak ada lagi mantan terpidana korupsi menjadi pejabat negara.

Ketiga,membangun kesadaran prilaku elite agar tidak komsumtif. Prilaku yang selalu mengikuti gaya hidup (tren) yang tak pernah habis-habisnya. Inilah kemudian yang memicu budaya konsumtif yang berakhir perilaku korupsi dan tamak.

Membasmi ketamakan elite harus dimulai dari penegakan hukum. Jangan sampai hukum hanya tajam kepada kaum lemah yang tak berduit namun bagi mereka yang kuat kekuatan hukum menjadi bengkok, nyaris tak terdengar. Kita takut kalau kemudian pedang keadilan diambil alih oleh rakyat, itu artinya akan melahirkan main hakim sendiri yang berakhir kondisi kekacauan (dis-order) dan anarkisme. Semoga ini tak terjadi!

You are here: Home Opini Pangi Syarwi Chaniago: Menyoal Ketamakan Elite