Login Form

Pangi Syarwi Chaniago

"Bersama Membangun Bangsa"

Pangi Syarwi Chaniago: Masa Depan Politik Orang (Minang)kabau

Pengamat: Pangi Syarwi Chaniago

Sejarah memberikan kepada seseorang lebih dari sekedar informasi, ia menyusun cara berfikir seseorang saat ini dan menentukan langkah apa yang mau diambil pada masa yang akan datang. “Historiy is a people memory and without a memory, man is demoted ti the lowoer animals” begitu ringkas Malcom-X menjelaskannya. Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam At-Tafkir bahkan menyampaikan kepada kita bahwa “berfikir tidak akan bisa terwujud kecuali dengan adanya informasi terdahulu” dan ini adalah sejarah. Lebih dari pada itu, sejarah adalah informasi, ia akan mempengaruhi siapapun yang membacanya dan membentuknya persis seperti tokoh yang menjadi sentral dalam sejarah.

Berawal percikan tulisan di atas membuat saya berfikir untuk menulis tulisan tentang cerita masa depan politik orang Minangkabau di pentas nasional, yang harus dilakukan dan dipikirkan anak muda Minangkabau  hari ini adalah  menentukan cara berfikir  langkah apa yang akan diambil.

Sejarah telah memberikan informasi banyak tentang kehebatan tokoh Minangkabau ‘tempo duloe’. Sebenarnya modal pokok anak muda minangkabau sangat besar, karena rahim Minangkabau telah banyak melahirkan tokoh nasional yang mendunia. Menelisik sejarah Indonesia, maka kita akan menemukan deretan nama tokoh nasional yang memiliki darah keturunan Minangkabau. Banyak tercatat dalam sejarah Indonesia orang Minangkabau memainkan kiprahnya di pentas nasional, mulai dari bidang politik, budaya dan sastra, agama, dan juga ekonomi.

Tak bisa dinafikan pendiri bangsa Indonesia kebanyakan berasal dari orang Minangkabau, sejarah telah membuktikan  tiga dari empat orang  yang dijuluki sebagai “bapak pendiri Republik Indonesia merupakan orang minang dengan karakter nama yang agak berbeda seperti Tan Malaka, Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Tokoh Minangkabau lain seperti bapak Mohammad Natsir, Agus Salim, Mohammad Yamin, Buya Hamka, Tuanku Iman Bonjol dan Assaat.

Deretan nama di atas memberi kekuatan dan kepercayaan diri anak muda Minangkabau meneruskan tradisi peradaban berfikirnya. Setelah kita membaca dan memperoleh informasi tentang kejayaan tokoh Minangkabau yang tergolong muda pada masa lalu. Hendaknya ini menjadi api sejarah pemicu kembali bergairahnya kepercayaan diri anak muda Minangkabau untuk bangkit di pentas nasional dan dunia.

Sejarah telah  telah banyak memberikan informasi tentang perjalanan hidupnya, membaca pemikiran dan gagasan  tokoh di atas sudah semestinya membingkai otak anak muda orang Minangkabau untuk memulai memetakan (mapping) langkah apa yang akan diambil untuk menentukan masa depan orang Minangkabau di pentas nasional, artinya adalah apa yang dilakukan dan dipikirkan  anak muda Minangkabau hari ini menentukan masa depan orang Minangkabau ke depannya.

Kita tak boleh berada dalam kesadaran palsu, merasakan betul kian berkurangnya peran tokoh Minangkabau di pentas nasional, baik dari sisi ekonomi maupun politik, dua bidang ini terasa menonjol sebelum kemerdekaan. Menurut Taufik Abdullah(1992) sekitar 1930-an orang Minangkabau yang masuk lingkaran elite nasional ada sekitar 30%, sementara tahun 1950-an 11%. Namun jumlah ini terus menurun walaupun sebahagian orang Minangkabau tetap menepuk dada bahwa orang Minangkabau masih dominan. Barangkali inilah yang menjadi kerisauan dan kegelisahan kita akan masa depan orang Minangkabau di pentas nasional dan dunia pada masa depan.

Misi Politik Untuk Rakyat

Natsir, Sjahrir, Hatta dan lain-lain masing-masing mereka membawa gagasan misi politik untuk rakyat dan gerakan pemikiran yang kemudian membawa orang singgah membaca pemikiran mereka, pemikiran yang membetuk karakter mulia dalam berpolitik (high potical), membentuk nilai ‘leadership’ yang kuat sebab mereka melatih idealisme dan membuang sifat pragmatisme,  inilah kemudian yang melahirkan pemimpin yang membawa ‘misi politik untuk rakyat’ menderita menjadi jalan hidupnya bersama rakyat karena mampu menahan diri sejenak.

Agus salim dikenal karena kepiawaian dalam berdiplomasi, kefasihannya dalam berdiplomasi membuat dia dipercaya untuk menjalankan berbagai misi politik berdiplomatik dengan tujuan memperkenalkan negara baru Republik Indonesia ke dunia luar, serta bagian dari diplomasi dalam mempertahankan kemerdekaan.

Hatta dikenang dan disegani di kancah pergaulan dunia karena memiliki segudang gagasan dan pemikiran besar yang orisinal, kepiawaian Hatta adalah keteguhan tekad dan konsistensi, tanpa memedulikan getirnya konsekuensi dari tindakan dan langkahnya. Bung Hatta juga merupakan politisi yang piawai memainkan langkah-langkah cerdas. Bung Hatta menunjukkan integritasnya sebagai sosok tidak (ter)korupsi(kan), meski kesempatan baginya terbuka lebar dan dapat diciptakan. Meneladani sosok dan integritasnya disegala bidang semestinya menjadi inspirasi bagi anak muda Minangkabau untuk membawa gagasan dan pemikiran ketika menjadi pemimpin.

Bapak Natsir dikenal karena gagasan Mosi Integral.Setelah Mosi Integral berhasil, Natsir dipercaya jadi perdana menteri karena Natsir punya konsepsi untuk menyelamatkan Republik melalui konstitusi. Masing-masing tokoh Minangkabau seperti Hatta, Natsir Sjahrir dan lain-lain telah mengukir konsep, pemikiran, gagasan, ide sehingga dikenanglah mereka. Tokoh muda Minangkabau hari ini apakah sudah membawa gagasan pemikiran, paradigma dan perspektif ketika menjadi politisi? Itulah pertanyaan historis yang perlu kita jawab bersama.

Natsir, Hatta, Sjahrir, Hamka, Agus Salim, Tan Malaka dan lain-lain telah meninggalkan modal besar untuk kampung Minangkabau, telah membuat kita bangga dan bernostalgia dengan kiprah dan kejayaan tokoh minangkabau di masa dulu. Menjadi inspirasi sebuah kepastian bagi anak muda Minangkabau. Mampukah rahim Minangkabau melahirkan kembali anak muda seperti Hatta, Sjahrir dan Natsir yang berkiprah di pentas nasional dan dunia? Allah a’lam bi al-shawab.

 

You are here: Home Opini Pangi Syarwi Chaniago: Masa Depan Politik Orang (Minang)kabau