Login Form

Pangi Syarwi Chaniago

"Bersama Membangun Bangsa"

Pangi Syarwi Chaniago: Malapraktik Politisi Muda

Pengamat: Pangi Syarwi Chaniago

Banyak politisi muda yang terjebak pada kekuasaan pragmatis. Muhammad Nasih mengungkapkan, "Budaya materialistik dan hedonisme juga menghinggapi politisi muda saat ini." Kecenderungan materialistis lebih menonjol. Paradigma pembangunan ekonomi dengan kecenderungan penguasaan materi lebih mendominasi kaum elite. Kondisi itulah yang menyebabkan politisi muda terjebak dalam jaringan korupsi di dalam sistem politik. 

Menurut Nietzshe (1844-1900), naluri yang tak pernah padam dalam diri manusia adalah kehendak untuk berkuasa. Duduk dalam singgasana kekuasaan adalah suatu kenikmatan dan kepuasan tersendiri. Darah elite muda harus tetap mempertahankan keberadaban politik (political civility). Negeri ini merindukan politisi muda yang berselancar dalam politik yang indah, santun, dan cerdas yang menginspirasi. 

Film-film India seperti The End atau The Mission of Complite menggambarkan akhir permainan politik. Politisi senior, Akbar Tanjung, mengatakan dalam peperangan, setelah mati, tak akan hidup lagi. Namun, dalam politik, setelah terbunuh, bisa hidup kembali. Itulah halaman politik. Namun, dalam perjalanannya, banyak cobaan dan tantangan yang dihadapi politisi muda. 

Kegagalan politisi muda bukan karena kurang kapasitas, namun lebih karena tak mampu menahan diri. Banyak politisi muda seperti Andi Malarangeng, Angelina Sondakh, dan Nazarudin terjebak tak mampu menahan diri. Politisi muda seharusnya mendalami dan mengedepankan politik santun. Namun, secara kebahasaan, menurut Jean Austen, pengarang terkemuka abad ke-19 dalam novel Persuasion, mengatakan, "Seseorang yang kata-katanya selalu rapi, diksinya bagus, nada bicaranya juga tertata dengan cermat, pasti memunyai masalah. Mungkin dia berusaha tampak hebat. Mungkin dia tidak tahu yang harus dikatakan." 

 

Ini pernah dikutip pengarang Budi Darma dalam esainya, "Bahasa yang Indah" (2012). Banyak masyarakat menaruh harapan pada elite muda yang ada di partai. Namun, kepercayaan masyarakat sedikit sirna ketika harus menghadapi kenyataan bahwa perilaku politisi muda yang tidak mampu menahan keingingan berkuasa. 

Mereka harus melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji, menggerogoti keuangan negara demi mencari dan mengejar atau mempertahankan kekuasaan. Pikiran dan nurani mereka tergerus uang. Politik dan kekuasaan mungkin telah mengubah gaya hidup. Untuk mempertahankan gaya hidup yang telah terbang tinggi, mereka perlu banyak uang. 
Memang harus diakui bahwa peran politisi muda sepertinya telah terkontaminasi oleh kepentingan atau sistem politik konservatif yang didominasi politisi tua. Tambah lagi budaya paternalistik masih cukup kuat di negeri ini. Mereka yang hidup di era 1998 dan 1966 tak jauh berbeda ketika masuk ke sistem kekuasaan. Ini misalnya diungkapkan Eep Saefullah, "regime changes, elite continues." 

Pemerintahan berganti, tapi elitenya berlanjut. Para politisi muda sering mengikuti jejak seniornya yang cenderung KKN dan korup. Perjalanan sejarah negeri ini tak lepas dari peran generasi muda yang agresif dan revolusioner. Sebut saja Bung Karno ketika memulai perjuangan di usianya yang relatif muda, 20 tahun. 

Ketika itu, dia sudah memimpin Partai Nasional Indonesia dan kemudian dilantik menjadi Presiden pertama RI baru berusia 40 tahun. Bung Hatta menjadi wakil presiden pada usia 37 tahun. Beberapa tokoh lain pada masa itu pun menduduki posisi penting di usia yang relatif muda, seperti Sutan Sjahrir yang menjabat perdana menteri di usia 30. 

Gerontokrasi (kekuasaan di tangan orang-orang tua) juga pekat dengan sifat-sifat khas yang melekat kuat. Tak lain adalah karakter sukar berubah, menjaga status quo, keras kepala, berego tinggi, pemberang, dan sangat benci perubahan. Maka, sukar dibayangkan ada rona politik progresif, dinamis, dan kreatif jika status kekuasaan berada dalam genggaman orang-orang tua. 

Namun, satu hal yang harus diperhatikan adalah etika berpolitik yang terkesan semakin terpinggirkan. Para kandidat mestinya tidak terjebak dalam kepentingan jangka pendek dan pragmatis untuk meraih kekuasaan dengan melancarkan berbagai cara tanpa memedulikan etika dan dan pendidikan politik bagi masyarakat secara keseluruhan. 

Pada titik inilah, sebagaimana Buya Syafii Maarif katakan, "Seharusnya politisi belajar menjadi negarawan." Inilah yang absen dari jiwa para politisi. Batasan paling sederhana tentang negarawan, mengutip Buya Maarif, adalah "sosok pemimpin yang bersedia larut untuk membela kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan bangsa dan negara secara keseluruhan, berhadapan dengan kepentingan-kepentingan lain yang lebih kecil." 

Sosok pemimpin muda autentik yang berkarakter bersih dan berintegritas menjadi harapan besar publik. Kasus korupsi yang melibatkan sejumlah politisi muda telah mengganggu citra mereka secara luas. Problem anak muda saat ini adalah tak mampu menahan diri sejenak sehingga memunculkan dorongan untuk lebih cepat dan lebih banyak mendapat materi dan kekuasaan dengan jalan pintas. Terjadilah korupsi. 

Kini, realitasnya, ada kesadaran situasional antara politisi muda dan tua. Namun persoalannya, negara menunggu negarawan yang bisa membawa negara ini keluar dari kesemrawutan politik. Lumpuhnya karakter dasar politisi muda Indonesia jelas-jelas tecermin dari ayat publik selama ini. 

Sikap malapraktik politisi muda terjadi karena hanya sebatas pada semangat pragmatis dan oportunis. Mereka cenderung hanya mengejar keuntungan sesaat. Mereka tak memikirkan kesejahteraan rakyat. Politisi muda harus kembali pada arah politik yang mengupayakan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. 

Para filsuf Yunani umumnya memandang politik sebagai seni dan ilmu yang sangat terhormat. Sepatutnya politisi muda di republik ini tetap mempertahankan kualitas moral dan intelektual yang tinggi, yaitu high political (politik kelas tinggi) yang bermuara pada kebaikan dan keteraturan bersama. Bila politisi tak bermoral dan tidak memiliki kapasitas intelektual, tak akan mungkin tercipta masyarakat teratur, indah, dan beradab. 

 

Dipublikasikan di kolom opini Koran Jakarta 1/maret/2013

You are here: Home Opini Pangi Syarwi Chaniago: Malapraktik Politisi Muda