Login Form

Pangi Syarwi Chaniago

"Bersama Membangun Bangsa"

Pangi Syarwi Chaniago: Titik Balik Century

Putusan Mahkamah Agung yang mengabulkan peninjauan Kembali (PK) Muhammad Misbakhun membuat partai keadilan Sejahtera PKS percaya diri, dipercaya meningkatkan citra PKS yang selama ini tersudutkan (Jawa Pos, 29/07).

Pengajuan peninjauan kembali, yang diajukan oleh Misbakhun ke Mahkamah Agung (MA). Putusan PK tersebut menyebutkan Misbakhun diputus bebas atas perkara  dugaan pemalsuan  ‘letter of credit’ (L/C) fiktif Bank Century senilaiUS$ 22,5 juta. Putusan hakim yang memvonis Misbakhun dengan dakwaan alternatif Pasal 263 KUHP tentang membuat surat palsu tahun 2010, ada indikasi cenderung dipaksakan dari perdata didorong ke pidana tanpa bukti yang kuat, ketika ditanya dimana pidananya hakim juga tak bisa menjelaskan.

Indikasi ini paling tidak sudah sangat membantu untuk menjelaskan ada yang tak beres pelbagai penegakan hukum di republik ini, benarkah kasus Misbakhun adalah kasus rekayasa politik murni dari Istana, kelanjutan dari intimidasi  yang dilakukan Istana kepada politisi inisiator kasus Century. Kalau betul itu terjadi, maka pertanyaan selanjutnya  benarkah Indonesia negara hukum?

Misbakhun adalah tim sembilan inisiator Panwas kasus Century dianggap terlalu vokal selama menjadi anggota DPR, berani mengusut kasus yang diduga melibatkan sejumlah pejabat negara, yang outputnya bisa menggoyang kekuasaan, menyeret petinggi Bank Indonesia (BI), tentu berimplikasi terhadap keberlangsungan kekuasaan penguasa.Ada kecurigaan Misbakhun dilumpuhkan dan dimatikan karirnya secara politik, meskipun dari awal sudah ada sinyal teguran dan intervensi yang dikirim namun Misbakhun tetap rada keras kepala untuk tetap menyuarakan kasus Century. Putusan bebas Misbakhun oleh Mahkamah Agung, adalah  bukti indikasi kriminalisasi dan rekayasa politik terhadap dirinya oleh rezim yang berkuasa.

Intervensi  dan ikut campur tangan ajaib  penguasa  terhadap penegak hukum bisa saja terjadi. Karena  dalam teorinya, pekerjaan yang paling menentukan hukum dibuat oleh para wakil rakyat atau politisiā€politisi yang duduk di parlemen, ternyata tak lepas dari pelbagai pengaruh kekuatan politik dan ekonomi di luar tembok  parlemen. Begitu juga penerapan hukumnya oleh para hakim, sangat berpontensi dicampuri kepentingan  dan intervensi luar yang menginginkan (atau memesan) suatu keputusan hukum (dengan sandaran hukum pula) oleh rezim yang sedang berkuasa. Supremasi hukum di level ‘rule creation’ dan ‘rule application’ telah menimbulkan keraguan di banyak kalangan terhadap putusan hakim.

Telisik Rekam Jejak

ICW misalnya marah besar, menyatakan dan akan mengadukan hakim Mahkamah Agung yang membebaskan Misbakhun. Mempertanyakan putusan PK Mahkamah Agung yang penuh dengan kejanggalan, sebab perlakuan  tak sama antara Misbakhun yang PK-nya diterima, sementara peninjauan kembali Franky Ongkowardjojo, justru ditolak Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, ditambah lagi pada waktu putusan vonis bebas Misbakhun masih terdapat perbedaan sikap hakim Mahkamah Agung, tak salah dan wajar ICW curiga dan marah terhadap putusan hakim Artidjo Alkostar dan anggotannya.

Siapa sebenarnya hakim Artidjo Alkostar? Ia selama ini digolongkan sebagai salah satu hakim Mahkamah Agung paling idealis saat ini, memiliki kapasitas, kapabilitas, intelektualitas, juga mempunyai rekam jejak dan integritas yang baik. “Setidaknya itu bisa kita lihat dari putusan yang dikeluarkan yang banyak mencerminkan rasa keadilan masyarakat”. Salah satu contohnya, ketika Artidjo mengajukan ‘dissenting opinion’ atau perbedaan pendapat dalam Sidang Majelis Kasasi atas perkara Rasminah, nenek yang dituduh mencuri piring oleh majikannya 31 Mei 2011 yang lalu, dengan menyatakan Rasminah tidak bersalah.

Tak Boleh Lagi

Adapun yang menjadi rekomendasi dan solusi terhadap pelbagai persoalan diatas, maka yang harus dilakukan antara lain; Pertama, pengadilan hendaknya membebaskan Franky Ongkowardjojo dari tuntutan hukum seperti MA yang membebaskan Misbakhun dari tuntutan hukum. Jika Misbakhun divonis bebas, mengapa Franky Ongkowardjojo, direktur di PT Selalang tidak? Hukum harus tegak  tak boleh “miring” tak boleh ada keistimewaan khusus dari pengadilan, supaya tak ada kecurigaan dibalik kasus vonis bebas Misbakhun.

Kedua, sesuai dengan putusan hakim agar nama baik Misbakhun direhabilitasi kembali dan juga posisinya dikembalikan. Pertanyaan adalah mungkinkah Misbakhun bisa kembali duduk di Parlemen untuk kembali lantang menyuarakan membangkitkan kasus Century yang sudah lama terkubur? Persoalannya, Misbakhun telanjur diberhentikan dari DPR melalui proses pergantian antar-waktu (PAW), dengan begitu peluang Misbakhun kembali ke DPR sangat sulit. Fraksi/parpol harus menjalankan putusan hakim Mahkmah Agung, yaitu mengembalikan pada posisi semula yaitu parlemen.

Ketiga, putusan hakim tak boleh salah lagi, Ahmad Syafi’i Maarif mengatakan “pasang telinga ke bumi” setiap putusan hakim akan diminta pertanggung jawaban dunia dan akhirat. Setiap putusan hakim harus adil, tak miring serta mandiri, lepas dari intervensi politik ‘the humanitarian intervention state’, karena hukum biarlah berjalan sendiri  dan tak boleh dirusak oleh intervensi politik. Hukum tak boleh tajam kebawah namun tumpul keatas, akibatnya hukum menjadi yatim piatu, tercabut  dari akar tunggang keadilan dan kebenaran.

Keempat, proses hukum tak boleh lagi tersandera politik, “saling sandera”  ungkapan ini menjadi trending topics perpolitikan dan wajah penegakan hukum. Si A tokoh partai anu, menjadikan kasus si B sebagai senjata menyerang lawan politiknya. Si Z, tokoh besar partai lain, tak tinggal diam. Perlawanan diberikan dengan menjadikan kasus C sebagai peluru untuk menyerang balik si A. Jadilah saling sandera sebagai babak baru perpolitikan di republik ini.

Sekedar mencontohkan, kasus Century tumbalnya Misbakhun dan Sri Mulyani, kasus cicak versus buaya antara institusi Polri dengan KPK, tumbalnya Susno Duaji dan Antasari Azhar, kasus Hambalang dan Wima Atlet, barisan yang dikorbankan Mindo Rosalina, Wafid Muharam, tapi hukum tak mampu menangkap pemain panggung belakangnya.

Taverne mengungkapkan ”Berikan pada saya hakim dan jaksa yang baik, maka dengan peraturan yang buruk sekalipun, putusan yang baik dapat dibuatnya”. Putusan bebas Misbakhun semestinya menjadi titik balik membongkar kasus Century yang sudah terkubur lama.

Pangi Syarwi Adalah Analisis Pada Program Pascasarjana (PPs) Fisip Universitas Indonesia.

You are here: Home Opini Pangi Syarwi Chaniago: Titik Balik Century