Login Form

Pangi Syarwi Chaniago

"Bersama Membangun Bangsa"

Pangi Syarwi Chaniago: Mengantung Koruptor di Monas

Pengamat: Pangi Syarwi Chaniago

“Sang penguasa boleh bertindak diluar hukum, hukum harus mengikat rakyat demi kepentingan negara, tapi hukum tidak boleh membelengu sang penguasa demi kepentingan negara.” Pernyataan Machevelli sudah mendekati fenomena penegakan hukum yang terjadi sekarang di Republik ini.

Hukum memang sulit kalau sudah berhadapan dengan penguasa, ia menjadi tumpul dan mandul, melelehkan pilar-pilarnya penyangga hukum, galau menghukum para penguasa lewat pengadilan. Hukum hanya beraku ketika rakyat kecil yang melangar, namun berbeda perlakuan dengan penguasa  yang melangar hukum,  perlakuan istimewa diraih. Ternyata ada benarnya apa yang disampaikan oleh Machevelli pada tempo dolue dan benar-benar terwujud bukan sekedar mimpi palsu. Tulisan terapi yang ditulis Machevelli sudah dipraktekkan di zaman sekarang, “Dalam keadaan darurat, hukum tidak boleh membelenggu penguasa”, fakta itulah yang terjadi hari ini.

Dalam pelbagai kasus hukum yang sekarang menyandera ketua umum partai penguasa. Akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh ungkapan Anas Urbaningrum "Saya yakin, satu rupiah saja Anas korupsi di Hambalang, gantung Anas di Monas”.Mengunakan bahasa politis yang sudah sampai pada klimaksnya. Ungkapan Anas yang menghebohkan akhir-akhir ini, mengiring kita bagaimana kalau kemudian koruptor di gantung saja di Monas, karena kepercayaan publik terhadap dunia peradilan semakin  ironis dan melukai rasa keadilan rakyat kecil.

Menariknya lagi, pesan balik juga dilemparkan oleh Nazaruddin  dengan menantang Anas Urbaningrum untuk sumpah pocong terkait atau tidaknya Anas terlibat kasus Wisma Atlet. Memang lucu dan galau negeri ini, indikasi semakin memperkuat bahwa dunia peradilan semakin tidak dipercaya dan kehilangan roh dan semakin sesat. Pengadilan pocong  sekarang di percaya ketimbang pengadilan negeri. Memang semakin tidak waras pengetahuan hukum dan akal sehat anak bangsa  akhir-akhir ini sehingga muncul ungkapan “Jangan percaya hukum”.

Fenomena Anas Urbaningrum siap di gantung di Monas,  ungkapan tersebut paling tidak ada pola bahasa yang perlu di terjemahkan lagi, setidaknya ada pesan yang dikirimkan oleh Anas Urbaningrum ke publik yang penulis tangkap. Pertama,Anas Urbaningrum sudah menyepelekan perangkat-perangkat hukum, di suatu sisi ia mempersilahkan untuk mengungkap kasus tersebut, dan ia percaya kepada hukum biar dibuktikan di pengadilan kalau memang ia terbukti korupsi, namun realitasnya pengadilan belum bisa menjadikan Anas sebagai tersangka, harusnya Anas sudah menjadi tersangka seperti yang di ungkapkan Nazaruddin, namun publik terlanjur duluan menghukum Anas Urbaningrum. Kedua, Anas mengirim pesan melalui pola bahasanya dengan tujuan membangun  kepercayaan publik dan  bahwa dia benar-benar tidak melalukan korupsi.

Ketiga, pesannya adalah ia sudah mulai lelah dan kewalahan dengan berita publik yang tidak henti-hentinya menyebut namanya terlibat kasus korupsi seperti terungkap dalam akun Twiternya "maaf, saya lama-lama boleh merasa agak capek ditanya dan disudutkan terus urusan yang saya tidak tahu dan tidak terlibat : Wisma Atlit dan Hambalang,".

Keempat, ungkapan tersebut bisa saja merugikan Anas sendiri, merusak “positioning”atau pencitraan Anas Urbaningrum selama ini secara tidak langsung, akhirnya  terungkap juga pangung belakangnya Anas, pencitraan yang di bangun selama ini menjadi longsor, sebagai politikus muda yang santun dan terkontrol dalam berbicara, ternyata bisa juga terpancing emosi oleh hukuman publik yang dijatuhkan  rakyat.

Kelima,pernyataan Anas akan mengundang pro dan kontra, dan ini adalah bahasa yang sudah di tungu oleh partai lawan politik, ini menjadi tambahan poin untuk lawan politik, seperti main pimpong kesalahan orang lain menambah poin kita, dan poin juga akan bertambah dari keterampilan bermain. Tentu ungkapan Anas Urbaningrum menguntungkan bagi lawan politiknya.

Reformasi Perlakuan Bagi Koruptor

Fenomena yang sangat langkah, politisi yang berani yang siap  untuk di gantung, tentu pelbagai persoalan  korupsi yang sedang berlangsung. Hukum terkadang sangat tidak adil, begitu tumpul, hanya tajam ke bawah namun tumpul keatas, sekedar contoh kongkrit pencuri sandal dan dan buah-buahan di hukum berat, namun koruptor yang sudah tersangka mendapat perlakuan istimewa, seperti Angelina Sondakh misalnya, masih bisa tertawa-tawa di depan publik.

Betul-betul miris, gerah, marah besar ketika menyaksikan bagaimana koruptor yang mengasak uang rakyat menjacapai 30 Miliar hanya divonis 2 tahun penjara, belum lagi memperoleh remisi dan berkelakuan baik selama tahanan, sisa hukuman tinggal 1 tahun penjara yang dijalankan. Sangat tidak adil dengan besarnya jumlah uang yang  dikorupsi  mencapai miliyaran rupiah dengan hukuman ringan yang diterima, relatif tidak ada efek jerahnya.

Bangsa yang sekarang sedang galau dan kehilangan akal sehat dalam mengatasi korupsi, sangsi yang dijatuhkan untuk koruptor harus berat, pidana penjara seumur hidup, atau hukuman gantung “Lihat Cina 1982 kampanye perang melawaneconomic crime 30 orang dijatuhi hukuman mati dan penjara seumur hidup untuk memberantas korupsi”. Tujuannya adalah sebagai shock therapy agar timbul efek jerah bagi pelaku koruptor maupun calon-calon. Perlu kemudian hukum pidana di republik ini direvisi, lucunya hukum pidana kita dari dulu sampai sekarang masih mengunakan hukum pidana produk Belanda.

Galaunya Mentalitas Bangsa

Republik ini benar-benar lucu, rendahnya kepercayaan publik terhadap penegakan hukum di negeri ini, banyak kemudian hal-hal yang terkadang tidak commen sensemuncul, seperti “sumpah pocong”, meskipun tidak masuk akal, karena ini bukanlah lagi menyangkut masalah duniawi atau tentang apa pun yang bisa di selewengkan di dunia. Bukan tidak mungkin Indonesia menjadi negara sumpah pocong, bukan lagi negara hukum.

Mental bangsa kita semakin keropos, karena pendidikan hanya menghasilkan manusia dan elit-elit yang instan, nilai kejujuran begitu mahal di republik ini, terbukti kasus nyata yang ada satu keluarga diusir dari kampung gara-gara melaporkan gurunya memaksa membagikan kunci contekan, mereka dimarahi, karena diangap telah membuat citra sekolah buruk.

Entah mengapa negeri ini bisa ber-perilaku tidak elok dan kehilangan rasa malu. Padahal jujur itu hebat, namun di republik ini yang jujur kurus dan tersingkirkan, karena integritas mereka sulit untuk diterima, karena sistem yang di bangun dari awal sudah sedemikian rusak, akibatnya ustadz level 10 pun kalau masuk ke sistem juga ikut dirusak.

Bukan tidak mungkin suatu saat hukuman untuk koruptor adalah hukuman gantung, sama seperti yang digagas oleh Anas Urbaningrum di Monumen Nasional, rakyat menungu kapan eksekusi tersebut dilaksanakan, dan rakyat sangat merindukan koruptor digantung di Monas yang langsung disaksikan oleh alit di negeri ini.

Indonesia sebagai negara yang beragama dan berbudaya, seperti yang ditulis Zuhairi Direktur Moderate Muslim Society “Politik kebohongan di kalangan elit bangsa karena agama hanya dimanfaatkan sebagai pencitraan, tidak ada penghayatan terhadap nilai-nilai agama yang begitu mulia, nilai-nilai agama tidak memberikan dampak apa-apa bagi kehidupan realitas elit politik.”Semoga!

You are here: Home Opini Pangi Syarwi Chaniago: Mengantung Koruptor di Monas