Login Form

Pangi Syarwi Chaniago

"Bersama Membangun Bangsa"

Pangi Syarwi Chaniago: Risensi Buku Titik Balik Demokrasi

“KELUAR DARI MITOS DEMOKRASI”

Oleh: Dr.rer.pol. Mada Sukmajati (Dosen Jurusan Politik dan Pemerintahan JPP FISIPOL UGM)

Pembedah Buku Titik Balik Demokrasi, Yogyakarta 28 Maret 2012

 

Judul     : Titik Balik Demokrasi

Penulis   : Pangi Syarwi

Penerbit : Pustaka Intelegensia, Januari 2012

Tebal      : 189 halaman

 

Salah satu mainstream dalam studi-studi tentang demokrasi adalah teori transisi. Dikembangkan dari pengalaman negara-negara di Eropa Selatan dan Amerika Latin oleh O’donnel, Schmitter dan Whitehead, teori ini mengasumsikan adanya periode interval antara ambruknya satu rejim politik dan terbentuknya rejim politik lain. Dalam konteks inilah periode transisi menjadi sangat krusial untuk menentukan apakah transisi akan menghasilkan demokrasi atau otoritarianisme yang baru.

 

Teori transisi, dengan demikian mengasumsikan bahwa suatu negara hanya sedang mengalami periode interval hanya memiliki dua pilihan, yaitu pilihan buruk (kembali ke otoritarianisme) atau pilihan baik (menuju demokrasi). Dengan demikian, teori transisi percaya bahwa periode interval adalah periode sementara sebelum ke periode selanjutnya yang bersifat lebih tetap.

 

Buku karya Pangi Syarwi yang berjudul Titik Balik Demokrasi berusaha menjelaskan kondisi politik yang ada di Indonesia pasca Orde Baru dengan mengunakan teori transisi. Argumen dasar  yang ingin penulis sampaikan dalam buku ini adalah bahwa periode interval pasca rejim otoriter Orba saat ini ternyata sedang menuju kearah otoritarianisme kembali. Dalam konteks ini maka buku ini perlu dibaca.

 

Argumen ini bukan tanpa dasar. Ada empat indikator yang penulis ajukan dalam buku ini yang menunjukkan bahwa Indonesia sedang menuju kearah otoritarianisme. Pertama adalah semakin lemahnya pilar-pilar demokrasi, seperti pemilu yang sekedar prosudural dan parpol yng tidak menjalankan fungsi-fungsi idealnya. Kedua, perilaku politik yang justru tidak mendukung realisasi dari demokrasi, termasuk perilaku korup para elit. Ketiga penegakkan hukum yang lemah sehingga prinsip keadilan, kesamaan dan ketertiban menjadi tidak penting, demokrasi tanpa penegakkan hukum maka akan melahirkan demokrasi kriminal. Sedangkan  yang keempat adalah lemahnya peran dan kapasitas negara dalam menjalankan fungsi-fungsinya untuk menciptakan kesejahteraan sosial, bahkan peran minimal negara relatif tidak jalan.

 

Buku ini dengan demikian, dapat membantu kita memahami kompleksitas permasalahan yang ada di Indonesia saat ini. Namun demikian, perkembangan studi demokrasi yang sangat pesat membuat asumsi-asumsi yang digunakan oleh teori transisi seperti ini mendapat banyak kritikan. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa banyak negara ternyata justru terjebak dalam periode interval itu sendiri. Hal ini memunculkan penjelasan lain, yaitu bahwa periode interval menghasilkan rejim campuran (hybrid regime) yang sepenuhnya tidak otoriter namun tidak sepenuhnya demokrasi namun semu. Singkatnya, periode interval tidak hanya menghasilkan dua melainkan tiga kemungkinan bentuk rejim, yaitu rejim otoriter, rejim demokrasi dan juga rejim campuran.

 

Dengan demikian, bagi para pengkritik teori transisi, buku ini memiliki kelemahan paradigmatik. Buku ini terjebak pada mitos bahwa rejim demokrasi dapat diwujudkan di Indonesia sehingga membutuhkan kesabaran dan ketelatenan dalam merajut rejim itu. Rejim demokrasi menjadi bayangan ideal (sekaligus harapan) bagi Indonesia yang lebih baik di masa depan. Pada sisi yang lain, penulis mengabaikan nilai dan praktek demokrasi yang mulai tertanam di masyarakat kita sehingga nada pesimis mewarnai kesimpulan analisa. Dengan kata lain, buku ini mengabaikan kemungkinan penjelasan yang lebih memadai dalam melihat realitas saat ini. Bahwa boleh jadi yang terjadi di Indonesia Pasca Orba sekarang ini adalah proses pembentukan rejim campuran yang memadukan nilai-nilai dalam otoritarianisme dan demokrasi saat yang bersamaaan.

 

Sebagai tambahan, karena buku ini merupakan kumpulan tulisan artikel penulis di media massa sejak Tahun 2007, akan lebih baik juga jika penulis memberikan benang merah yang lebih kuat sehingga pembaca memahami keterkaitan antara satu tulisan dengan tulisan yang lain.

You are here: Home Opini Pangi Syarwi Chaniago: Risensi Buku Titik Balik Demokrasi