Login Form

Pangi Syarwi Chaniago

"Bersama Membangun Bangsa"

Pangi Syarwi Chaniago:DPR Parlente

Oleh: Pangi Syarwi Chaniago

Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) mengungkapkan bahwa selama 2011 pimpinan DPR selama menjalankan tugasnya telah menghabiskan dana Rp 48 miliar.Pengadaan percetakan kalender dinding dan meja menggunakan anggaran 2011 dengan nilai fantastis yakni Rp 1,3 miliar.Untuk parfum dan meja anggota menghabiskan Rp2,9 miliar. Rehab WC Rp2 miliar, tempat parkir Rp3 miliar, ruang Badan Anggaran Rp20 miliar. Pemborosan DPR dahsyat dan sudah sempurna.

Mengutip pendapat Komaruddin Hidayat yang mengatakan bahwa hidup sederhana tidak berarti miskin, pelit dan menyiksa diri. Sikap ini muncul justru dari pribadi yang kaya hati, kuat mengendalikan diri dan peduli terhadap sesamanya. Orang yang biasa hidup sederhana akan lebih jernih memandang dan membaca dunia sekitar karena melihatnya dengan hati yang lebih bening, tidak terhalang aksesoris untuk memancing pujian orang.

Salah satu yang menyebabkan kepemimpinan Nabi Muhammad terus dikenang, Ketika nabi Muhammad memerintahkan agar hidup tidak bermewah-mewahan, Nabi Muhamad tidur beralas daun kurma, makan sebagaimana makan ummat pada umumnya, betul-betul menerapkan gaya kepemimpinan empati, makan satu tampan dengan sahabatnya yang lain. Pemimpin terbesar yang kebesarannya tidak diukur mahkota dan singgasana, karena beliau tidak memilikinya.

Ditunggu Pemimpin Yang Hidup Sederhana

Orang yang paling penulis kagumi kesederhanaannya untuk saat ini adalah Ahmadinejat. Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu kepada masjid-masjid di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana.Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya.

Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri-menterinya untuk datang kepadanya dan menteri tersebut akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan darinya, arahan tersebut terutama sekali menekankan para menterinya untuk tetap hidup sederhana dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi, sehingga pada saat menteri-menteri berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak.Baru-baru ini dia baru saja mempunyai Hajatan Besar Yaitu Menikahkan Puteranya. Tapi pernikahan putra Presiden ini hanya layaknya pernikahan kaum Buruh. 

Contoh berikutnya Hazel  MC Callion adalah figur pemimpin politik yang sederhana dan bersahaja. Terpilih sebagai Walikota Mississauga pada tahun 1978, Sepanjang perjalanan karier kepemimpinannya sebagai walikota, ia menolak mendapatkan fasilitas sopir pribadi. Ia mengendarai sendiri mobil dinas walikota, tanpa dikawal petugas dan tanpa sopir pribadi. Yang sudah berumur lanjut namun masih mengemudikan sendiri mobil dinasnya, tanpa diikuti pengawal serta dayang-dayang protokoler. Ia melakukan banyak penghematan untuk hal-hal yang tidak perlu dan tidak esensial.

India juga punya pemimpin yang sangat sederhana yang menginspirasi elit India sampai sekarang, pemimpin sederhana bernama Mahatma Gandhi. Menginspirasi dengan kesederhanaan cara berpakaiannya. Kemana-mana ia menggunakan pakaian putih mirip ihram tanpa dijahit dan hanya dililitkan ke tubuhnya. Pakaian itu dibuat dari tenunan tangan rakyat India. Ia tidak memakai pakaian berjahit karena India belum mampu membuat pabrik yang bisa menghasilkan benang. Gandhi bertekad tidak menggunakan pakaian pabrik sebelum rakyat India mampu mendirikan pabrik tekstil sendiri. Menteri di India dan pejabat elit India sampai sekarang tetap sederhana, mobilnya tidak seperti para menteri dan Presiden di Indonesia.

Indonesia juga punya  warisan pemimpin yang sederhana. George McTurnan Kahin, Indonesianis dari Cornell University, Amerika Serikat, memiliki kesan khusus terhadap Muhammad Natsir, yang ditemuinya pada 1948 di Yogyakarta; Negarawan yang rendah hati dan bersahaja. Jas penuh tambalan yang saat itu dikenakan Natsir hampir tidak menunjukkan sosok Natsir sebagai Menteri Penerangan. Penampilan sederhana tetap dipertahankan Natsir saat menjadi Perdana Menteri (PM) pada tahun 1950-1951. Natsir juga hanya memiliki sebuah mobil pribadi bermerek DeSoto yang telah kusam. Ketika ditawari mobil sedan mewah buatan Amerika Serikat pada 1956, dengan halus Natsir menolaknya. Bung Hatta, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada tahun 1950-an, ia sangat ingin memiliki sepatu Bally sepatu bermutu tinggi saat itu. Karena tidak punya uang yang cukup, Bung Hatta menabung cukup lama untuk bisa membeli sepatu bermerek itu. Begitulah kesederhanaan para pemimpin Republik saat itu.

Defisit integritas dan kesederhanaan terjadi pada level para pimpinan baik pusat dan daerah. Lihat ke puncak, intergritas tidak ada. Lihat ke bawah, tambah kacau. Kesederhanaan dan integritas semakin mengalami defisit. Sebagai contoh, Presiden SBY menghabiskan Rp 839 juta hanya untuk urusan bajunya. Untuk penyusunan pidatonya saja, Presiden SBY pun harus menggerus dana APBN sebesar Rp1,9 milyar. Sedangkan untuk kebutuhan pengamanan pribadi, presiden SBY juga menggelontorkan uang APBN sebesar Rp52 miliar.

Rata-rata pejabat di negeri ini seperti itu. Tentu tingkah laku elit yang bermewah-mewah tidak tepat untuk sekarang di tengah-tengah kemiskinan yang mencekik rakyatnya. Mereka juga kebal dengan kritik dan tidak punya rasa malu lagi. Kalaupun ada yang rela hidup sederhana, maka perilaku orang itu dianggap anomali dalam kehidupan politik sekarang, kesederhanaan bukanlah hina, kutukan rakyat maka itulah kehinaan yang sesunguhnya.

Pangi Syarwi Adalah Penulis Buku Titik Balik Demokrasi dan Peneliti di Indonesian Progressive Institute 

You are here: Home Opini Pangi Syarwi Chaniago:DPR Parlente