Login Form

Pangi Syarwi Chaniago

"Bersama Membangun Bangsa"

Pangi Syarwi Chaniago: Pemikiran Marxisme

Materialisme DialektikaKarl Marx

Materialisme adalah paham ajaran yang menekankan keunggulan faktor-faktor material atas yang spiritual dalam metafisika, teori nilai, fisiologi, epistimologi atau penjelasan historis. Ada beberapa macam materialisme, yaitu materialisme biologis, materialisme parsial, materialisme antropologis, materialisme dialektis, dan materialisme historis.

Manusia selalu terkait dengan hubungan-hubungan kemasyarakatan yang melahirkan sejarah. Manusia adalah makhluk yang bermasyarakat, yang beraktivitas, terlibat dalam suatu proses produksi. Hakikat manusia adalah kerja (homo laborans, homo faber). Jadi, ada kaitan yang erat antara filsafat, sejarah dan masyarakat. Pemikiran Karl Marx ini kemudian dikenal dengan Materialisme Historis atau Materialisme Dialektika.

Pandangan Karl Marx di atas mendapat reaksi yang beragam-ragam di Indonesia. Mengapa? Karena materialisme adalah ajaran Marxisme, yang pada dasarnya memiliki pemikiran sejalan dengan positivisme. Sesungguhnya perintis pemikiran ini bukan hanya Karl Marx, tetapi juga Friedrich Engels (1820-1895). Mereka berdua banyak mendapat inspirasi (terutama metode dialektikanya) dari filsuf Jerman yang sangat berpengaruh, yaitu GWL Hegel (1770-1831). Marx adalah tokoh pertama yang mengaitkan filsafat dengan ekonomi. Dalam perspektifnya, filsafat tidak boleh statis, tetapi harus aktif membuat perubahan-perubahan karena yang terpenting adalah perbuatan dan materi, bukan ide-ide (hal ini berbeda dengan Hegel). Jalan pemikiran Karl Marx tersebut menjelaskan pandangannya tentang teori pertentangan kelas, sehingga pada perkembangan berikutnya melahirkan komunisme.[8]

Dalam realitas, Marxisme adalah suatu gagasan yang menarik untuk dicermati dari sudut pandang sains oleh kaum intelektual dan mahasiswa. Namun bagi pemerintah dan mayoritas bangsa, Marxisme adalah ajaran sesat dan tak bermoral yang bertentangan dengan ideologi negara kita Pancasila, dan UUD 1945. Kuatnya indoktrinasi pemerintah di era orde baru menyebabkan sejumlah intelektual dan mahasiswa hanya mempercakapkannya dalam area kampus. Itu pun hanya semata-mata dalam perspektif Marxisme sebagai gagasan dalam konteks sains.

Dialectique, dialectica, dialectikesemuanya berasal dari bahasa Latin yang dijelaskan sebagai seni berdebat dan berdiskusi, yang kemudian diturunkan sebagai kebenaran dengan jalan diskusi. Dialektika ketika sampai di zaman Hegel dikonsepsikan bahwa dalam realitas ini tidak ada lagi bidang-bidang yang terpisah atau terisolasi. Semuanya saling terkait dalam satu gerak penyangkalan dan pembenaran. Dalam tinjauan lain, dialektika berarti sesuatu itu hanya berlaku benar apabila dilihat dengan keseluruhan hubungan dalam relasi yang bersifat negasi-dialektis (teas-antitesa-sintesa).

Dalam mata filsafat dialektika, terutama para penganut materialisme dialektik Marx dan Engels menganggap bahwa dalam realitas ini tidak ada sesuatu yang berdiri sendiri untuk selamanya, tidak ada sesuatu yang mutlak dan suci seperti yang dimetafisikakan oleh Hegel dengan sebutan “roh absolut”. Lebih mendetail J.W. Stalin dalam Buku “Materialisme Dialektika dan Histori” menerangkan dua prinsip pokok dari dialektika Marxis. Pertama, dialektika Marxis berlawanan dengan metafisika.

Dialektika Marxis tidak memandang alam sebagai suatu tumpukan segala fenomena atau tumpukan fenomena yang kebetulan saja, tidak berhubungan dan bebas satu sama lainnya. Namun semua fenomena alam sebagai realitas yang organik satu statis lainnya. Kedua, berbeda dengan metafisika, dalam konsepsi dialektika berpendapat bahwa alam bukanlah satu keadaan yang statis namun realitas yang terus menerus bergerak dan berubah, rontok, mati dan tumbuh kembali. Ketiga, dialektika juga menerangkan proses perkembangan bukanlah suatu proses pertumbuhan yang sederhana, di mana perubahan  perubahan kuantitatif akan menuju perkembangan yang terbuka ke arah perubahan yang kualitatif.

Materialisme Historis Marx (Hukum Objektif Sejarah)

Materialisme historis dipahami sebagai perluasan prinsip­-prinsip materialisme dialektik pada anahsis mengenai kehidupan masyarakat, atau pengeterapan prinsip-prinsip materialismedialektik pada gejala kehidupan masyarakat. Bertolak dari proposisi bahwa yang terpenting dari filsafat adalah bukan hanya bongkar pasang makna tentang dunia namun bagaimana merubah kenyataan dunia, Karl Marx meneruskan konsistensi pemikirannya pada kasus hukum dialektika sejarah dalam masyarakat manusia. Dalam materialisme historis, Marx menjabarkan secara ilmiah mata rantai kelahiran, perkembangan dan kehancuran sistem masyarakat beserta kelas-kelas sosial dalam suatu kurun sejarah.

Marx menfokuskan pada tinjauan objektif atas corak produksi masyarakat sebagai struktur dasar masyarakat. Hubungan corak produksi yang melibatkan keselarasan antara aktivitas masyarakat berikut bahan-bahan dan perkakas yang ada sebagai basis material (faktor determinan) pembentuk sistem ekonomi masyarakat dan struktur sosial di dalamnya termasuk manivestasi hukum, politik, estetika dan agama. Totalitas produksi inilah yang menyusunmasyarakat sekaligus menjadi landasan tempat berpijak struktur-atas politik berdixi dengan pongah. [9]

Sampai pada puncak perkembangannya, ketika suatu sistem produksi yang ada mengandung kontradiksi yang melibatkan pertentangan kekuatan- kekuatan produktif dalam masyarakat kelas tanpa modal versus kelas bermodal–maka hukum sejarah berlaku dialektik. Yakni perubahan yang sesuai dialektika hukum objektif, di mana masyarakat bawah yang terperas dan terhisap akan melakukan perombakan secara revolusioner sebagai anti-tesa sistem lama menuju sistesa dalam masyarakat baru yang diperjuangkan sendiri semua kaum tertindas (proletariat).

Berakar pada kebudayaan Yunani Kuno, dan mendapat penerimaan yang meluas di abad 19, sistem berpikir ini menjadi terkenal dalam bentuk paham Materialisme dialektika Karl Marx. Para penganut materalisme meyakini model alam semesta tidak jangan kaget dan juga jangan terheran-heran dengan judul di atas mengenai Karl Marx. Sedangkan istilah dialektika memandang apa pun sebagai kesatuan dari apa yang berlawanan Pemikir dialektika akan mampu mengkonseptualisasikan ulang contoh-contoh yang dikemukakan Tanggapan ke “pemikiran karl marx”karl marx and friedrich engels believed hegel was "standing on his head," and endeavoured to put him back on his feet, ridding Hegel's logic of its orientation towards philosophical Historical materialism is a methodological approach to the study of society, economics, and history, first articulated by Karl Marx (1818-1883).

Marx himself never used the term but Hey there. Thanks for dropping by dialektika Take a look around and grab the RSS feed to stay updated. See you around, Karl Marx menerima konsep Dialektika Hegel, tetapi tidak dalam bentuk aslinya (Dialektika Ide). Kemudian dengan mengambil Materialisme dari Feuerbach, Karl Marx lalu mengubah Dialektika Ide menjadi Dialektika Materialisme, sebuah proses Meski gagasan dialektika di hubungakan dengan Hegel, namun ia sudah ada dalam filsafat sejak dulu.

Alienation

Marx telah mengembangkan teori alienasi untuk aktivitis manusia yang terletak di balik kekuasaan tindakan pribadi yang menguasai masyarakat. Dia telah menunjukkan bagaimana, aspek-aspek masyarakat kelihatan seperti semula jadi dan bebas dari pada manusia, ia sebenarnya merupakan hasil tindakan-tindakan manusia pada masa yang lalu. Bagi seorang Marxsis dari Hungari bernama Georg Lukács, teori Marx “meleburkan wajah pertubuhan-pertubuhan sosial yang kaku; ia melihat puncak-puncak bersejarah mereka dan menunjukkan bahwa ia takluk kepada sejarah dari setiap segi termasuk kemunduran bersejarah.” Marx bukan saja menunjukkan bahwa tindakan manusia pada masa lalu telah menciptakan dunia modern, tetapi juga tindakan manusia dapat membentuk masa depan yang bebas dari cabang-cabang kapitalisme.

Kemampuan kita untuk bekerja, untuk memperbaiki cara kita bekerja dan membina pada kejayaan-kejayaan, biasanya menghasilkan perkembangan kumulatif produktif. Satu perkembangan seperti itu adalah masyarakat kelas. Apabila masyarakat mampu untuk menghasilkan, ia juga menjadi tidak mustahil bagi sebuah kelas untuk bangkit dan membebaskan dirinya daripada keperluan untuk berusaha secara langsung dan hidup dari pengawalan tenaga pekerja orang lain.

Proses ini diperlukan untuk mengembangkan dan mengarahkan kuasa produktif, tetapi ia juga bermakna bahwa mayoritas masyarakat, kehilangan kuasa atas tenaga bekerja mereka. Maka, alienasi tenaga pekerja bangkit dengan masyarakat kelas, dan Ernst Fischer telah memberikan pengurain sangat baik mengenai cara membalikkan potensi tenaga pekerja yang tidak mempunyai batasan.

Kebangkitan kebahagian kelas di mana satu kelas mempunyai pengawasan ke atas cara-cara mengeluarkan apa yang diperlukan oleh masyarakat, telah membawa kebahagian seterusnya di antara individu-individu dan masyarakat. Bentuk-bentuk kehidupan sosial tertentu “mendesak bagian di antara dua dimensi diri, ia itu dimensi individu dan dimensi komunal,” laly menghasilkan bagian di antara kepentingan-kepentingan individu-individu dan kepentingan-kepentingan masyarakat secara menyeluruh. Namun, alienasi bukanlah keadaan manusia yang tidak dapat berubah dan yang wujud tanpa berubah dalam setiap masyarakat kelas. [10]

Aspek Alienasi

Perkembangan kapitalisme seolah-olah begitu menarik dan membawa alienasi pada skala yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Dalam Manuskrip-Manuskrip Ekonomi dan Falsafah(juga dikenal sebagai Manuskip-Manuskrip 1844 atau Manuskrip-Manuskrip Paris), Marx mengenal pasti empat cara khusus di mana alienasi dalam masyarakat kapitalis.

Hasil tenaga pekerja: Pekerja dialienasi dari pada objek yang menghasilkan karena  dimiliki dan digunakan oleh orang lain, pihak kapitalis. Dalam semua masyarakat, orang menggunakan kemampuan kreatif mereka untuk menghasilkan barang yang mereka gunakan, menukar atau menjual. Namun, di bawah kapitalisme, ini menjadi aktivitis yang dialienasi karena “pekerja tidak dapat menggunakan barang untuk menghasilkan kebutuhan hidup atau melibatkan diri dalam aktivitis produktif dan seterusnya.

Keperluan-keperluan pekerja, tanpa menduga betapa nekad, tidak memberikannya untuk mengambil apa yang tangannya telah  mereka hasilkan, karena semua barang adalah harta orang lain. Maka, para pekerja menghasilkan tanaman bernilai sambil mereka mengalami kelaparan, membina rumah-rumah yang mereka tidak akan dihuni, membina kreta-kreta yang mereka tidak mampu membelinya, menghasilkan kasur yang mereka tidak mampu memakai, dan sebagainya.

Inti Marxisme

Marxisme sebenarnya adalah suatu sintesis dari berbagai arus ideologi yang berkembang pada masa awal dan pertengahan abad ke-19. Arus-arus ini adalah pemikiran-pemikiran filsuf Jerman (Immanuel Kant, dialektika Hegel, materialisme Feurbach, teori perang kelas dari Michelet), doktrin-doktrin ekonomi Inggris dan Skotlandia dari Smith dan Ricardo, serta sosialisme Perancis (J.J. Rousseau, Charles Fourier, Henri de Saint-Simon, Pierre-Joseph Proudhon, Louis Blanc). Namun dua filsuf radikal yang sangat mempengaruhi Karl Marx adalah G.W.F. Hegel yang mengembangkan materialisme dialektis, yaitu semua kemajuan dicapai melalui konflik, dan Ludwig Feuerbach dengan bukunya, yaitu The Essence of Christianity.

Fondasi teori Marxisme terangkum dalam tiga tema besar: Pertama adalah filsafat Materialisme, asas pokok filsafat ini, berdiri tegak di atas landasan Materialisme dialektika dan Materialisme historis. Kedua, ekonomi politik. Pembahasan yang paling penting dalam masalah ini yaitu pandangan materialisme dalam teori nilai laba atau keuntungan, beserta segala yang terkait dengan hal itu; baik rentetan yang mempengaruhi kondisi sosial masyarakat, bahkan yang menyentuh dimensi agama. Ketiga; konsep ketatanegaraan dan pandangan revolusi. Namun, konsep ketiga ini dalam perkembangannya saat ini sudah berada diluar lingkup Marxisme Klasik, sehingga tidak akan dibahas dalam makalah ini.

Dalam pandangan Marxis, materi adalah tuhan itu sendiri, tiada yang mempunyai kekuatan dalam penciptaan kecuali materi. Marxisme dimulai dengan ide bahwa materi adalah esensi dari semua realitas, dan materilah yang membentuk akal, bukan sebaliknya. Hanya materilah yang merupakan esensi awal pencipta dari segenap wujud, kemudian berevolusi menggunakan teori hukum dialektika internal menuju kehidupan nabati, berevolusi lagi menuju kehidupan hewani, kemudian insani dan, pada akhirnya menciptakan karya terbesar yang mampu membedakan manusia dengan wujud lain, terciptalah logika.

Pada umumnya Marxisme muncul mengambil bentuk dari tiga akar pokok, Salah satu dari akar itu ialah analisis Marx tentang politik Prancis, khususnya revolusi borjuis di Prancis tahun 1790an, dan perjuangan-perjuangan kelas berikutnya diawal abad ke-19. Akar lain dari Marxisme adalah apa yang disebut ‘ekonomi Inggris’, yaitu analisis Marx tentang sistem kapitalis seperti yang berkembang di Inggris. Akar ketiga dari Marxisme, yang menurut catatan sejarahnya merupakan titik permulaan Marxisme, adalah ‘filsafat Jerman’.

Menurut Marx, tak ada yang disebut dengan fitrah manusia (individual human nature), yang mengacu pada suatu kumpulan karakteristik manusia secara umum dan pokok, serta karenanya juga mengacu pada sesuatu yang secara definitif konstan tidak berubah. Mengingat bahwa manusia tidak memiliki individual human nature, maka kesadaran mereka dan aspek-aspek lain seperti sosial, politik, dan proses intelektual kehidupan mereka, senantiasa berubah dan perubahan ini ditentukan oleh kondisi-kondisi materiil kehidupan (The Material Conditions of Life) dan secara spesifik oleh metode produksi.

Sebagaimana dalam Selected Writings in Sociology and Social Philosophy, Karl Marx menyebutkan, “Mode produksi dalam kehidupan materiil manusia menentukan karakter umum proses kehidupan sosial, politik, dan intelektual. Bukan kesadaran manusia yang menentukan diri mereka, melainkan sebaliknya, keadaan sosial lah yang menentukan kesadaran mereka”. Senada dengan yang dikatakan Engels, “Pikiran tidak menciptakan materi, namun materilah yang menciptakan pikiran.” Maka, untuk mengerti dan mendefinisikan sebuah filsafat, teori ataupun ideologi, menurut Marx perlu menganalisis “kenyataan sosial” yang merupakan dasar filsafat tersebut. Marxisme mewakili pertentangan yang sistematis dan fundamental dengan idealisme dalam segala bentuknya, dan perkembangan Marxisme mencerminkan suatu pemahaman materialis tentang apa yang tengah terjadi dalam realitas (kenyataan).

Pendek kata, Marxisme adalah teori untuk seluruh kelas buruh secara utuh, independen dari kepentingan jangka pendek dari berbagai golongan sektoral, nasional, dan lain-lain. Atau dengan kata lain, Marxisme terlahir dari perlawanan dan perjuangan kelas buruh melawan sistem kapitalis, dan juga mewujudkan obsesi kemenangan gerakan sosialis. Maka Marxisme bertentangan dengan oportunisme politik, yang justru mengorbankan kepentingan umum seluruh kelas buruh demi tuntutan sektoral dan/atau jangka pendek.

              

 

You are here: Home Makalah Pangi Syarwi Chaniago: Pemikiran Marxisme