Login Form

Pangi Syarwi

"Bersama Membangun Bangsa"

Analisis Politik|Pangi Syarwi: Marketing Politik (Bagian 2)

 

Identitas Buku ke 2 (Dua): Adman Nursal, 2004, Political Marketing, Strategi Memenangkan Pemilu Sebuah Pendekatan Baru Kampanye Pemilihan DPR,DPD. Jakarta: PT Gramedia.

Reading Course Pangi Syarwi    

Judul Buku

Political Marketing:Strategi Memenangkan Pemilu Sebuah Pendekatan Baru Kampanye Pemilihan DPR,DPD.

Pengarang

Adman Nursal

Penerbit

PT Gramedia

Tahun Terbit

2004

 

 

Sistematika resume bab tersebut akan disusun sebagai berikut:

1.    Positioning, Targeting

2.    Policy

3.    Person

4.    Party

5.    Presentation

6.    Puss Marketing

7.    Pull Marketing

8.    Polling and Survey

 

Satu buah buku yang cukup panjang dan padat dalam buku Political Marketing:Strategi Memenangkan Pemilu Sebuah Pendekatan Baru Kampanye Pemilihan DPR, DPD. ini sebenarnya merupakan sebuah ringkasan dari buku karya Adman Nursal. Tulisan tersebut memberi gambaran yang cukup luas,  dan sangat menarik untuk dibaca sebagai referensi dan kajian literatur yang tidak terpisah untuk memperdalam dan mempermudah penelitian penulis dalam pembuatan proposal.

Marketing politik semakin tumbuh dan berkembang di Indonesia selain Indonesia mengunakan sistem multipartai juga, di pengaruhi oleh Swim Voter, banyak pemilih di Indonesia yang selalu memilih partai yang relatif baru, dan pilihan yang selalu berubah, sekedar mencontohkan tingginya Swim Voter di Indonesia terbukkti kemenangan partai politik setiap pemilu selalu berubah, pada tahun 1999 pemenang pemilu PDI perjuangan, pada pemilu legislatif 2004 di menangkan oleh partai Golkar dan pada pemilu 2009 di menangkan oleh partai Demokrat, ini adalah realita yang membuat marketing politik semakin diterima, siapa yang bisa memenangkan marketing politik di indonesia maka besar harapan memenangkan pemilu kedepannya.[1]

Selain itu, berdasarkan catatan Wring (1996) aktivitas marketing-politik telah digunakan sejak Pemilu di Inggris pada tahun 1929. Ketika itu, Partai Konservatif menggunakan agen biro iklan (Holford-Bottomley Advertising Service) dalam membantu mendesain dan mendistribusikan poster (hlm.160). Sesungguhnya marketing politik sudah lama berjalan di Indonesia, seperti di jaman Orde Baru banyak spanduk-spanduk berisi tentang ajakan bergabung untuk mengikuti tabligh akbar atau musyawarah daerah, dipasang besar-besaran di tempat-tempat yang strategis.[2]

Tujuan ataupun misi  terakhir yang akan dicapai political marketing adalah starategi kampanye politik untuk membentuk serangkaian makna politis tertentu dalam pikiran para pemilih.  Serangkaian makna politis akan menjadi oreantasi prilaku yang akan mengarahkan pemilih untuk memilih kontestan tertentu. Makna politis inilah yang kemudian menjadi output penting political marketing yang menentukan, pihak yang mana yang akan dicoblos atau dicontreng oleh pemilih.

Dikupas secara tajam dan mendalam mengenai marketing politik. Adnan Nursal mempermudah dalam menganalisis dan mengkaji marketing politik yang diturunkan pada beberapa variabel untuk melihat dan  memperjelas marketing politik. Paling tidak penulis menangkap tulisan Adman Nursal yang  menurunkan Marketing Politik ke beberapa variabel. Paling tidak ada  9 (sembilan) elemen yang terpenting polical marketing, berbicara marketing politik tidak boleh lepas dan harus fokus dengan sembilan elemen ini, terdiri dari;  positioning, targeting, policy, person, party, presentation, push marketing, pull marketing, pass marketing, dan polling, semua yang tertulis di atas adalah elemen inti dari proses marketing politik. Dalam bab pendahuluan tersebut Adman Nursal menyingung sedikit tentang bagaimana digambarkan dalam meraih kemenangan, sangat sederhana dan mudah untuk melihat marketing politik jalan atau tidaknya  dalam memenangkan pemilu .

 

A.    Positioning, Targeting

Buku karya Adman Nursal ini, sesuai dengan judulnya Political Marketing:Strategi memenangkan Pemilu Sebuah Pendekatan Baru Kampanye Pemilihan DPR, DPD. Memang memberi pemahaman mengenai berbagai hal mendasar dan prinsip mengenai political marketing. Mulai dari menjelaskan apa itu positioning, targeting, person, party, policy, pull marketing, puss marketing mengapa orang memilih, motivasi bagi seseorang dalam menentukan pilihan, sampai pada pendekatan dalam mengiring pemilih ke bilik suara pada hari pencoblosan.

Pertama, membahas Positioning, tindakan untuk manancapkan citra tertentu kedalam benak para pemilih agar tawaran produk politik dari suatu kontestan  yang memiliki posisi khas, yang jelas mencari jendela di dalam otak pemilih. [3]

Atau semua aktifitas untuk menanamkan kesan di benak para konsumen agar mereka bisa membedakan produk dan jasa di hasilkan oleh organisasi bersangkutan. Untuk memasuki jendela otak pemilih agar semua kontestan mengandung arti tertentu yang kita mencerminkan lebih unggul dibandingkan dengan kontestan yang lain, contohnya dalam marketing politik adalah bagaimana partai demokrat ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa demokrat adalah partai yang lebih unggul dibandingkan dengan partai yang lain. Artinya membangun image dan citra di dalam otak para pemilih atau konstituen.

Targeting adalah penetapan segmen pasar yang akan di raih. Elemen 1 (Pertama); dari marketing politik adalah ”Positioning”, tindakan untuk manancapkan citra tertentu kedalam benak para pemilih agar tawaran produk politik dari suatu kontestan  yang memiliki posisi khas, yang jelas mencari jendela di dalam otak dalam pemikiran  pemilih. (Adman Nursal, 2004: 296-300).

Atau semua aktifitas untuk menanamkan kesan di benak para konsumen agar mereka bisa membedakan produk dan jasa dihasilkan oleh organisasi bersangkutan. untuk memasuki jendela otak pemilih agar semua kontestan mengandung arti tertentu yang kita mencerminkan lebih unggul dibandingkan dengan kontestan yang lain, contohnya dalam marketing politik adalah bagaimana Partai Demokrat ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa Demokrat adalah Partai yang lebih unggul dibandingkan dengan Partai yang lain. Artinya membangun imeg dan citra di dalam otak para pemilih atau konstituen.

Bagi orang orang marketing[4] elemen positioning  sangat menentukan keberhasilan pemasaran. Sebanyak 66% dari konsultan kampanye politik di Eropa Barat dan 70% dari konsultan kampanye politik di Amarika Serikat mengakui positioning  sebagai salah satu faktor yang menentukan kesuksesan kampanye. Positioning  adalah sebuah mantra yang penting bagi orang-orang pemasaran diakhir abad ke-20. ( Rhenald Kasali, 1999: 137). Posisi yang khas jelas, dan meaningful dari sebuah kontestan bersumber dari faktor- faktor pembeda yang dimiliki oleh kontestan tersebut bila dibandingkan dengan kontestan lain.

Dalam disiplin marketing, ”menempatkan” seorang kandidat atau sebuah partai dalam pikiran para pemilih disebut positioning. Atau positioning sering kali juga diartikan tindakan untuk manancapkan citra tertentu kedalam benak para pemilih agar tawaran produk politik dari suatu kontestan  yang memiliki posisi khas, yang jelas mencari jendela di dalam otak pemilih. Positioning yang efektif akan menunjukkan perbedaan nyata dan keunggulan sebuah kontestan di banding kan dengan kontestan pesaing: bahwa pesaing tidak dapat mewujudkan tawaran tawaran tertentu sebaik pihak yang mancanangkan positioning tersebut. [5]

Menurut Bainess, proses positioning adalah menentukan cara terbaik, mengambarkan kandidat atau partai terhadap segmen pemilih yang relevan. Dengan memberikan gambaran itu, para pemilih dapat dibujuk untuk memilih kandidat atau partai tertentu atau untuk mengalihkan dukungan dari pihak lain ke pihak sendiri. Masalah sentral dalam positioning yaitu menciptakan suatu image yang konsisten dan ditopang oleh berbagai produk politik. Posisi yang khas, jelas dan meaningful dari sebuah kontestan bersumber dari faktor-faktor pembeda yang dimiliki oleh kontestan tersebut bila dibandingkan dengan kontestan lain, setidaknya ada 6 yang menjadi syarat agar sebuah perbedaan menjadi berharga.

Pertama; penting (Important) perbedaan tersebut harus bernilai penting bagi para pemilih. Sebagai contoh sebuah partai politik bisa saja membedakan dirinya dengan partai lain dengan cara memberi warna merah jambu kepada seluruh atribut partai seperti bendera, seragam penggurus, posko. Walaupun berguna untuk membangun identitas sebuah partai, perbedaan dengan menggunakan merah jambu itu penting untuk kepentingan positioning. Tetapi usia kandidat presiden seperti Bill Clinton yang jauh lebih muda dari kandidat  Bob Dole mempunyai arti penting bagi sebagian pemilih.

Kedua;adalah Istimewa (distinctive) sebagai pembeda, faktor tersebut tidak dimiliki pihak lain seperti Bill Clinton berusia muda dan tidak dimiliki oleh Bob Dole. Akan tetapi satu atau beberapa faktor yang juga dimiliki pihak pesaing, masih bisa dijadikan sumber pembeda asalkan faktor tersebut diwujudkan dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan pihak pesaing. Misalnya sejumlah partai bisa saja mengkalaim partainya wong cilik.

Ketiga;superior perbedaan yang di munculkan harus memberikan suatu manfaat yang lebih baik ketimbang cara cara lain untuk menghasilkan menfaat yang sama. Dalam kasus Bill Clinton dengan Bob Dole terlihat bagia sebagian besar pemilih, untuk mewujudkan kesejahteraan Amerika, melihat kedepan lebih baik ketimbang melihat masa silam.

Kelima;dapat dikomonikasikan (Commonicable) positioning mudah dipahami pemilih dan dikomonikasikan dengan berbagai media komonikasi. New Demokrat yang pernah di gunakan oleh Bill Clinton lebih mudah dikomonikasikan untuk menunjukkan bahwa ia kandidat Partai Demokrat berjiwa muda dengan ide ide baru.

Petikan sejarah tentang kampanye pemilihan Presiden diatas mengantarkan kita pada sebuah pemahaman tentang pentingnya positioning. Bahwa ”menempatkan” citra kandidat atau partai kedalam benak para pemilih diantara tempat-tempat yang dihuni oleh citra pesaing merupakan faktor strategis dan kritikal dalam political marketing, penempatan Bob Dole sebagai ”pemimpin yang arif yang berpengalaman dan penuh pengabdian” justru tergelincir pada posisi ”pemimpin masa silam”. Sementara Bill Clinton mendapatkan keuntungan karena dipersepsikan sebagai pemimpin yang mempersiapkan Amarika menghadapi masa depan.

Konsep positioning  bertitik tolak dari kepentingan komonikasi. Menurut Rhenald Kasali (1996), positioning adalah mencari jendela dalam otak konsumen, dan untuk political marketing, adalah mencari jendela diotak pemilih. Positioning berhubungan dengan bagaimana para pemilih menempatkan tawaran politik dalam otaknya, khayalannya sehingga calon pemilih memiliki penilaian tertentu dan mengidentifikasikan dirinya dengan produk politik tertentu.

Atau semua aktifitas untuk menanamkan kesan dibenak para konsumen agar mereka bisa membedakan produk dan jasa dihasilkan oleh organisasi bersangkutan. untuk memasuki jendela otak pemilih agar semua kontestan mengandung arti tertentu yang kita mencerminkan lebih unggul dibandingkan dengan kontestan yang lain, contohnya dalam marketing politik adalah bagaimana partai demokrat ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa demokrat adalah partai yang lebih unggul dibandingkan dengan partai yang lain. Artinya membangun image dan citra didalam otak para pemilih atau konstituen.

Lalu bagaimana ”output” dari Positioning? menurut Firmazah tujuan ataupun misi  terakhir yang akan dicapai ”positioning” adalah starategi kampanye politik untuk membentuk serangkaian makna politis tertentu dalam pikiran para pemilih.  Serangkaian makna politis akan menjadi oreantasi perilaku yang akan mengarahkan pemilih untuk memilih kontestan tertentu. Makna politis inilah yang kemudian menjadi output penting ”Positioning” yang menentukan, pihak yang mana yang akan dicoblos atau dicontreng oleh pemilih sampai detik-detik mencoblos pada hari pemilu.

2. Policy

 Policy berhubungan dengan ”program kerja” yang ditawarkan para konstestan ketika terpilih kelak, menawarkan solusi terhadap permasalahan kebangsaan, memunculkan isu-isu yang diangap penting dan dapat diterima oleh konstituen, program kerja yang dapat diterima, yang menarik, mudah terserap oleh para pemilih.

Selanjutnya elemen ke-2 (kedua) dari Marketing Politik adalah ”Policy”. Pada dasarnya elemen Policy berhubungan dengan”program kerja, kebijakan, isu” yang ditawarkan para konstestan ketika terpilih kelak, menawarkan solusi terhadap permasalahan kebangsaan, menawarkan dalam sebuah kontestan pemilu untuk membawa masyarakat ke pada kehidupan yang lebih baik. (Firmanzah, 2009: 125).

Secara ideal, policy yang dijabarkan dalam program kerja yang merupakan ”jualan” utama kontestan pemilu. Pandangan ideal inilah agaknya yang menyebabkan sebagian politisi mengandalkan keunggulan policy dalam kampanye-kampanye tertentu. Tetapi sayangnya, keunggulan policy saja ternyata tidak sepenuhnya mampu mendongkrak perolehan suara. Sejumlah politisi dari beberapa Partai peserta pemilu 1998 dengan tawaran policy yang canggih, dan sebenarnya merupakan solusi dari masalah kebangsaan gagal memperoleh kursi.[6]

Banyak alasan, mengapa sejumlah Partai atau kandidat gagal menjual kebijakan kepada para pemilih. Dibagian terdahulu telah disebutkan political marketing berkaitan dengan usaha untuk membangun dan meneguhkan kepercayaan kepada para pemilih. Kebijakan yang bagus tidak otomatis mendorong para pemilih menjatuhkan pilihanya pada kontestan yang menawarkan kebijakan tersebut. Persoalanya para pemilih tidak bisa segera membuktikan tentang realisasi dari kebijakan tersebut, misalnya mengenai kompetensi, motif, dan kejujuran palaksana policy. (Gottdiener, Sudibyo, Hamad, Qodari, 2001:95) Kerumitannya semakin bertambah dengan sikap streotip para pemilih, untuk dan atas nama siapa policy itu ditawarkan? Masalah ini terkait dengan person, party dan presentasi.

Policyberhubungan dengan ”program kerja, kebijakan, isu” yang ditawarkan para konstestan ketika terpilih kelak, menawarkan solusi terhadap permasalahan kebangsaan, menawarkan dalam sebuah kontestan pemilu untuk membawa masyarakat ke pada kehidupan yang lebih baik. Policy merupakan solusi dari berbagai persoalan yang dianggap sebagai biang yang menyebabkan kehidupan tidak atau belum membaik. Policy meliputi berbagai aspek kehidupan seperti ekonomi, politik, hukum, pendidikan, sosial budaya dan sebagainya.

Secara ideal, policy yang dijabarkan dalam program kerja yang merupakan ”jualan” utama kontestan pemilu. Pandangan ideal inilah agaknya yang menyebabkan sebagian politisi mengandalkan keunggulan policy dalam kampanye-kampanye tertentu. Tetapi sayangnya, keunggulan policy saja ternyata tidak sepenuhnya mampu mendongkrak perolehan suara. Sejumlah politisi dari beberapa partai peserta pemilu 1998 dengan tawaran policy yang canggih, dan sebenarnya merupakan solusi dari masalah kebangsaan- gagal memperoleh kursi.

Banyak alasan, mengapa sejumlah partai atau kandidat gagal menjual kebijakan kepada para pemilih. Dibagian terdahulu telah disebutkan political marketing berkaitan dengan usaha untuk membangun dan meneguhkan kepercayaan kepada para pemilih. Kebijakan yang bagus tidak otomatis mendorong para pemilih menjatuhkan pilihannya pada kontestan yang menawarkan kebijakan tersebut. Persoalanya para pemilih tidak bisa segera membuktikan tentang realisasi dari kebijakan tersebut, misalnya mengenai kompetensi, motif, dan kejujuran palaksana policy. Kerumitannya semakin bertambah dengan sikap streotip para pemilih, untuk dan atas nama siapa policy itu ditawarkan? Masalah ini terkait dengan person, party dan presentasi.

Di luar masalah itu, gagalnya kampaye policy  dapat disebabkan oleh tidak bisa mengemas policy dengan canggih. Misalnya policy tersebut gagal mendapat tempat dihati para pemilih karena tenggelam diatara ratusan bahkan ribuan isu dan kebijakan dari pihak lain. Dalam lautan isu dan policy yang ditawarkan banyak pihak, sangat sulit membuat agar para pemilih memperhatikan apalagi mempercayai sebuah ide tertentu.

Sebuah partai atau seseorang kandidat politik yang berfikir strategis akan mengelola paket policy  yang akan ditawarkan dalam kampanye. Kontestan yang baik tidak akan membuang sumber daya unutk mengkomonikasikan isu-isu tanpa memperhitungkan dampaknya kepada para pemilih.

Agar efektifnya policy maka tema-tema yang disusun sebagai strategic policy harus memenuhi syarat 3 A (Absorbed, Attractive, Atributable). Syarat yang pertama attractive; atau mudah menarik perhatian para pemilih, syarat ini menghendaki cara pengucapan, keindahan kalimat, dan tampilan visual harus dapat mencuri perhatian para pemilih. Gaya penyajian tema harus jelas, sederhana, variatif tapi punya citra tertentu, pendeknya gaya penyajian tema mudah menarik perhatian panca indra.

Kedua;adalah Absorbed, bahwa secara subtantif, informasi yang disajikan mudah terserap kedalam pikiran pemilih. Subtansi pesan sebuah tema harus muda dicerna, dipahami, dan akhirnya tertanam dalam benak pemilih sesauai dengan alam pikiran pemilih.

Gagasan bahwa” kita harus memperkuat sendi-sendi budaya untuk menghadapi era globalisasi”, misalnya akan lewat begitu saja bagi sebagian besar pemilih tema ini tidak mudah masuk kedalam pikiran mereka, karena abstrak dan punya kaitan yang dapat dirasakan langsung dengan permasalahan mereka.

Ketiga adalah attributable; bahwa tema yang disampaikan harus memiliki perbedaan yang istimewa dibandingkan dengan tema-tema yang disampaikan para pesaing. Sebuah tema menjadi atributable bila seseorang pemilih mengaitkan dengan kontestan tertentu dan makna makna politis tertentu, dalam beberapa kasus, tema-tema kampanye menjadi tidak banyak mempengaruhi pemilih karena sulit untuk dibedakan, sebuah kontestan mengatakan ”korupsi harus diberantas sampai ke akar akarnya” partai yang lain juga mengatakan ”tidak ada toleransi dengan para koruptor” tema seperti ini tidak membentuk makna politis yang membedakan sehingga tidak menjadi faktor yang mempengaruhi pilihan.

Tema yang atributable juga menunjukkan pandangan khas sebuah kontestan, di negara negara demokrasi yang sudah maju biasanya terjadi dikatomi tema terhadap isu tertentu, misalnya sebuah partai tertentu menawarkan policy menurunkan pajak untuk mengatasi pengganguran, sedangkan pihak lain ingin menaikkan pajak untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, pertarungan seperti itu langsung mencerminkan perbedaan walaupun sama sama untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Memunculkan isu-isu yang diangap penting dan dapat diterima oleh konstituen, program kerja yang dapat di terima, yang menarik, mudah terserap oleh para pemilih.

3. Person

Elemen ketiga; person adalah kandidat legislatif atau eksekutif yang akan dipilih dalam pemilu, kualitas person dapat dilihat melalui tiga dimensi yaitu kualitas instrumental, dimensi simbiolis,  dan fenotipe optis, ketiga dimensi ini dikelola agar atributable.

Kemudian elemen yang ke 3 (tiga) adalah “Person” atau disebut juga figur. Ada satu hal yang tidak berbeda ketika kita berbicara tentang keberhasilan Partai Demokrat pada Pemilu 2009 dibandingkan dengan Pemilu 2004, yakni bicara tentang tokoh utamanya, figur sentral Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sosok ”Person” Susilo Bambang Yodhoyono  yang penyabar dalam menerima kritikan, santun dan bijak dalam membalas kritikan dan masukkan terhadapnya. (Ibid., hal: 206).

Secara umum dalam political marketing, kualitas dari seorang figur dapat di lihat dari tiga dimensi: kualitas instrumental, faktor simbolis, dan fenotipe optis.(Firmanzah, 2007:159).Kualitas instrumental adalah kompetensi fungsional. Kompetensi manajerial berkaitan dengan kemampuan menyusun rencana, pengorganisasian, pengendalian, dan pemecahan masalah untuk mencapai sasaran obyektif. Sementara kompetensi fungsional adalah keahlian dalam bidang-bidang tertentu yang diangap penting dalam menjalankan tugas teknologi dan sebagainya. Kualitas instrumental merupakan sebuah keahlian dasar yang dimiliki kandidat agar sukses menjalankan tugasnya.

Policyyang sesuai dengan aspirasi pemilih tidak otomatis membentuk makna politis yang menjadi referensi pemilih dalam menetapkan pilihanya. Siapa yang berbeda dibalik policy tersebut sangat menentukan pembentukan makna politis. Bahkan person atau figur kandidat seringkali menentukan keputusan pilihan dibandingkan dengan policy. Hal ini berkaitan dengan pembentukan keyakinan para pemilih, bahwa para pemilih lebih muda diyakinkan dengan menawarkan figur manusia, orang lebih mudah terinformasi oleh fakta mengenai manusia dibandingkan dengan policy .

Secara umum dalam political marketing, kualitas dari seorang figur dapat dilihat dari tiga dimensi : kualitas instrumental, faktor simbolis, dan fenotipe optis. Kualitas instrumental adalah kompetensi fungsional. Kompetensi manajerial berkaitan dengan kemampuan menyusun rencana, pengorganisasian, pengendalian, dan pemecahan masalah untuk mencapai sasaran obyektif. Sementara kompetensi fungsional adalah keahlian dalam bidang-bidang tertentu yang diangap penting dalam menjalankan tugas teknologi dan sebagainya. Kualitas instrumental merupakan sebuah keahlian dasar yang dimiliki kandidat agar sukses menjalankan tugasnya.

Kualitas kandidat juga meliputi faktor simbolis yang meliputi beberapa hal; pertama adalah prinsip-prinsip hidup yang meliputi sejumlah keyakinan atau nilai dasar yang dianut oleh seseorang kandidat seperti integritas, keterbukaan, kesetiakawanan, ketulusan, kerelaan berkorban, kebersahajaan, kepedulian sesama, dan lain lain. KeduaAura emosional adalah perasaan-perasaan emosional yang terpancar dari kandidat seperti ambisius, berani, patriotis, bersemangat, gembira, optimis, cinta kasih, ketegaran dan lain lain. Ketiga aura inspirasional adalah aspek-aspek tertentu yang terpancar dari kandidat yang membuat orang terinspirasi, termotivasi, dan tergerak untuk bersikap atau melakukan hal hal tertentu. Keempat aura sosial adalah representasi atau asosiasi terhadap kelompok sosial, misalnya seorang kandidat tertentu merupakan representasi dari kaum muda, wong cilik, tokoh agama, aktivis.

Seringkali seorang kandidat politik mempunyai citra tertentu yang kuat dan menengelamkan dimensi kualitas lainnya. Seringkali citra tertentu yang melekat menyebabkan segemen pemilih menjadi kecil, contoh seorang kandidat memiliki citra yang kuat sebagai tokoh yang intelektual sehingga unsur-unsur dimensi kualitas lainnya tengelam, akibatnya sang tokoh diangap sebagai pilihan orang-orang pintar di perkotaan karena tidak dekat dengan ”orang kebanyakan”. Padahal merujuk pada pengertian yang sebenarnya intelektual juga berkaitan dengan kepedulian terhadap kebanyakan orang.

Menang karena penampilan fisik. Tajamnya persaingan politik, boleh jadi mendorong para politisi semakin peduli dengan penampilan fisik, fakktor keindahan fisik dapat menentukan kesuksesan meraup suara. Kantor berita Reuters (31 Oktober 2003) memberitakan, menurut sebuah survey di Jepang bahwa penampilan merupakan kunci untuk meraih suara perempuan.

Schweiger (1999) juga menuturkan seorang kandidat kuat bisa kehilangan kursi lantaran kalah penampilan dibandingkan dengan kandidat lainnya, ini terjadi pada pemilu Jerman tahun 1998, ketika itu kenselir Jerman dari Partai Demokratik Kristen gagal mempertahankan kursinya dan terpaksa dilepaskan kepada Gerhard Schroder dari partai Demokrat Sosial.

Elemen ketiga; person adalah kandidat legislatif atau eksekutif yang akan dipilih dalam pemilu, kualitas person dapat dilihat melalui tiga dimensi yaitu kualitas instrumental, dimensi simbiolis,  dan fenotipe optis, ketiga dimensi ini dikelola agar atributable. Apakah benar ”Person” SBY ini kembali menjadi faktor penentu kemenangan Partai Demokrat? bahwa citra, figur dan kharisma dari seorang SBY beserta kebijakan-kebijakan SBY dipemerintahan adalah sesuatu yang berbeda dengan hasil-hasil kerja politik Partai Demokrat sebagai partai politik. Akhirnya publik tetap yakin bahwa semuanya itu adalah kerja figur SBY. Selain faktor internal partai tersebut, kemenangan Partai Demokrat juga disebabkan faktor lain. Pertama, masih adanya harapan masyarakat atas kinerja pemerintahan selama lima tahun ini.

4. Party

Elemen keempat; Party adalah produk politik partai, yang mempunyai identitas utama, aset reputasi, dan identitas estites, ketiga hal tersebut akan dipertimbangkan oleh para pemilih dalam menetapkan pilihanya.

Elemen ke 4 (empat) dari Marketing Politik adalah ”Party”. Dari perspektif manajemen operasional, party merupakan sebuah mesin politik dengan aneka kegiatan politik, tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperoleh kekuasaan atau ikut mengendalikan kekuasaan. Untuk memperoleh dan mengadalikan kekuasaan, Partai berusaha berebut simpati para pemilih dengan menawarkan policy dan person yang diharapkan sesuai dengan aspirasi pemilih. Dengan demikian Partai juga dapat disebut sebagai organisasi yang menghasilkan produk- produk politik.  (Harris P, 2008: 209).

Elemen Party adalah substansi produk politik party, Partai yang mempunyai identitas utama, aset reputasi, dan identitas estites, ketiga hal tersebut akan dipertimbangkan oleh para pemilih dalam menetapkan pilihannya. Unsur-unsur tersebut harus dikelola dengan baik wujud dari identifikasi party adalah pendukung loyal atau sering disebut partisipan politik, dalam berbagai literatur politik yang mengakar antara para pendukung dengan party. Karena berkaitan dengan sistem keyakinan, sikap dan prilaku para partisipan yang kuat, sulit sekali dirubah bila mengalami kekecewaan yang mendalam terhadap party tersebut. Dengan demikian Partai bukan  sekedar mesin yang menghasilkan produk-produk politik, melainkan juga  merupakan produk politik itu sendiri.

Dari perspektif political marketing Partai juga dapat dipandang sebagai produk politik. Pasalnya, Partai dengan berbagai atribut juga akan membentuk makna politik dalam kalangan pemilih tertentu. Banyak pemilih yang menjatuhkan pilihannya semata mata karena faktor Partai, tanpa memperhatikan apa kebijakan yang ditawarkan dengan siapa kandidat yang diajukan, hal ini terjadi saat Indonesia menganut sistem proporsional terbuka untuk pemilu sekarang yang mencontreng Partai dan calegnya.

Elemen keempat; Party adalah subtansi produk politik partai, partai yang mempunyai identitas utama, aset reputasi, dan identitas estites, ketiga hal tersebut akan di pertimbangkan oleh para pemilih dalam menetapkan pilihanya. Unsur-unsur tersebut harus dikelola dengan baik.

 Partai Demokrat didirikan atas inisiatif bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang terilhami oleh kekalahan terhormat Bapak Susilo Bambang Yudhoyono pada pemilihan Calon wakil Presiden dalam Sidang MPR tahun 2001. Partai Demokrat termasuk kekuatan politik di Indonesia yang diperhitungkan oleh banyak orang, menjadi pemenang utama pada pemilu 2009.

Partai Demokrat bersama masyarakat luas berperan mewujudkan keinginan luhur rakyat Indonesia agar mencapai pencerahan dalam kehidupan kebangsaan yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur, menjunjung tinggi semangat nasionalisme, Humanisme dan Internasionalisme, atas dasar ketakwaan kepada Tuhan yang maha Esa dalam tatanan dunia baru yang damai, demokratis dan sejahtera.

 5. Presentation

Elemen kelima;  Presentation adalah bagaimana membungkus dengan baik ketiga elemen diatas (produk, person, partai) ini disajikan dengan bungkusan semenarik mungkin, presentasi sangat penting karena dapat mempengaruhi makna politis yang membentuk dalam pemikiran para pemilih. Presentation disajikan dengan medium presentasi secara umum dapat di kelompokkan menjadi objek fisik, orang dan event.

Selanjutnya, elemen ke 5 (kelima) dari Marketing Politik adalah”Presentation” adalah bagaimana membungkus dengan baik ketiga elemen diatas (produk, person, party) ini disajikan dengan bungkusan semenarik mungkin, presentation sangat penting karena dapat mempengaruhi makna politis yang membentuk dalam pemikiran para pemilih. Presentation disajikan dengan medium presentation secara umum dapat dikelompokkan menjadi objek fisik, orang dan even. (Adman, 2004: 217)

Tentu saja presentasi tidak terpisahkan dari pesan- pesan utama yang bersumber dari subtansi produk. Pesan-pesan utama itu disajikan dengan mengunakan media tertentu tetapi presentasi yang efektif harus dilakukan dengan memanfaatkan konteks simbolis tertentu. Karena itu, media dan konteks simbolis merupakan dua komponen penting presentasi produk politik. Secara umum, media presentasi terdiri dari tiga jenis; yakni agen, efent, objek tertentu. Prihal media presentasi ini akan di bahas pada bab selanjutnya.

Elemen kelima;  Presentation adalah bagaimana membungkus dengan baik ketiga elemen diatas (produk, person, partai) ini disajikan dengan bungkusan semenarik mungkin, presentasi sangat penting karena dapat mempengaruhi makna politis yang membentuk dalam pemikiran para pemilih. Presentation disajikan dengan medium presentasi secara umum dapat di kelompokkan menjadi objek fisik, orang dan event.

Aspek penting lainnya dalam presentasi adalah pengunaan konteks simbolis yang terdiri dari beberapa hal berikut; simbol linguistik, simbol optik, simbol akustik dan simbol ruang dan waktu. Produk politik tersebut harus disampaikan kepada pasar politik  yang meliputi media massa dan influencer group sebagai pasar perantara, dan para pemilih sebagai pasar tujuan akhir. Adapun proses penyampaian produk marketing politik terdiri dari Push marketing, pass marketing dan pull marketing.

Ketiga;Proses penyampaian produk politik melalui  ”pass marketing” yaitu penyampaian produk politik kepada kelompok yang berpengaruh (influencer groups)  sebagai pasar perantara, dan para pemilih sebagai pasar tujuan akhir.Political Marketing menjadi lebih kompleks karena adanya pihak-pihak, baik perorangan maupun kelompok yang berpengaruh besar terhadap para pemilih. Kita dapat mengelompokkan influencer berdasarkan aktifitas yang mereka lakukan.

Pertama, influencer aktif, yaitu perorangan atau kelompok yang melakukan kegiatan secara aktif untuk mempengaruhi para pemilih. Mereka adalah aktivis isu-isu tertentu atau kelompok dengan kepentingan tertentu yang melakukan aktifitas yang nyata untuk mempengaruhi para pemilih. Adakalanya pesan-pesan tersebut disampaikan secara halus, dan adakalanya pesan tersebut disampaikan secara terang terangan untuk mengarahkan para pemilih untuk memilih atau tidak memilih kontestan tertentu, sebagian melakukan dengan organisasi yang rapi dan sebagian secara informal.

6. Puss Marketing

Elemen keenam; push markekting adalah penyampain produk politik secara langsung kepada para pemilih, produk politik disampaikan kepada pasar politik yang meliputi media massa dan influencer group sebagai pasar perantara, dan para pemilih sebagai pasar tujuan akhir.

Pertama;proses penyampaian produk politikmelalui ”push marketing”yaitu penyampain produk politik secara langsung kepada para pemilih, produk politik disampaikan kepada pasar politik. Pendekatan push marketing pada dasarnya adalah usaha agar produk politik dapat menyentuh para pemilih secara langsung atau dengan cara yang lebih customized (personal). (Sea dan Burton, 2001: Hal 27-31)  menyebutkan, kontak langsung dan costumezed mempunyai beberapa kelebihan. Pertama; mengarahkan para pemilih menuju satu tingkat kognitif yang berbeda dibandingkan dengan bentuk kampanye lainnya.

Politisi yang berbicara langsung akan memberikan efek yang berbeda dibandingkan dengan melalui iklan. Kedua; kontak langsung memungkinkan pembicaraan dua arah, melakukan persuasi dengan pendekatan verbal dan non verbal seperti tampilan, ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan syarat fisik lainnya. Ketiga; menghumaniskan kandidat. Keempat; meningkatkan antusiasme massa dan menarik perhatian media massa. Sentuhan langsung memungkinkan setiap pemilih melibatkan dirinya secara langsung dengan produk- produk politik. Pendekatan seperti ini disebut sebagai experiential marketing yang berintikan pada usaha agar pemilih merasakan dengan panca indra, perasaan, pikiran dan tindakan yang disampaikan oleh sebuah kontestan.

7. Pull Marketing

Elemen ketujuh; pull markting adalah penyampaian produk politik yang dimanfaatkan atau disampaikan melalui media massa. Elemen kedelapan; pass marketing adalah penyampaian produk politik kepada kelompok yang berpengaruh (influencer group).

Proses penyampaian produk politik  melalui ’pull marketing’ yaitu penyampaian produk politik dengan memanfaatkan atau disampaikan melalui instrumen media massa.’Pull marketing’ bagian dari elemen Marketing Politik dengan jangkauan media TV saja yang mencapai sekitar 80% pemilih atau sekitar 110 juta orang diseluruh Indonesia belum lagi iklan di media-media lainnya tidak mengherankan kalau serangan udara yang dilakukan oleh Partai Demokrat efektif memenangkan pemilu.

Tetapi benarkah hanya karena faktor iklan di media massa dan elektronik yang berdurasi panjang dan massif (Pull marketing) tentang kinerja dan prestasi SBY yang dibungkus melalui media massa tersebut yang menentukan keberhasilan Partai Demokrat dalam memenangkan  Pemilu  legislatif 2009.  (Harris, P. Macheiveli..9-10 hlm. 1135-1154).

Isi iklan (Baliho famlet, poster) pada hakikatnya adalah hasil konstruksi realitas dengan bahasa sebagai perangakat dasarnya. Sedangkan bahasa kalimat yang digunakan dalam visualisasi iklan bukan saja sebagai alat untuk mepresentasikan realitas, namun juga bisa menentukan relief  seperti apa yang akan diciptakan oleh bahasa iklan tentang realist tersebut, akibatnya iklan pada media masa dan TV  mempunyai peluang besar yang sangat besar untuk mempengaruhi makna dan gambaran yang dihasilkan dari realitas yang dikonstruksikan.

Kegiatan konstruksi  memang banyak mengunakan bahasa sebagai bahan baku guna membuat iklan politik, akan tetapi, bagi media bahasa bukan sekedar alat komonikasi untuk menyampaikan fakta, informasi atau opini, bahasa juga bukan sebagai alat komonikasi untuk mengambarkan realitas, namun juga menentukan gambaran atau citra tertentu yang hendak ditanamkan ke publik.

Pada sisi lain, kelompok kontra menganggap aplikasi marketing pada konteks politik justru menimbulkan kegamangan normatif dalam konteks komersialisasi politik. Mereka mendasarkan pada filosofi marketing yang bergerak pada arah pengejaran keuntungan belaka. Kondisi ini pada akhirnya akan membuat kerusakan sistem sosial yang seharusnya terdiri dari spesialisasi fungsi[7]

Adapun yang menjadi dasar dan pendorong peneliti untuk meneliti masalah ini adalah karena marketing politik adalah studi baru yang sangat fenomenal dalam pemilu. Tidak bisa di nafikan bahwa marketing politik adalah sebuah cabang baru yang baru saja tumbuh dan berkembang di tengah kekurangannya, yang banyak membutuhkan  masukan dan saran. Marketing politik adalah pendekatan baru, zaman menuntut dipakainya marketing dalam ilmu politik .

 

Iklan Politik Sebagai Bagian Dari Strategi Kampanye

 

Otto Klepper dalam bukunya Advertising Procedure, seperti yang dikutip oleh Rendra, iklan atau advertinsing berasal dari bahasa latin yaitu ad-vere yang berarti mengoperkan pikiran dan gagasan kepada pihak lain.[8] Tidak jauh beda dengan yang disampaikan oleh Wright seperti yang dikutip oleh Rendra yang menyampaikan bahwa iklan merupakan suatu proses komunikasi yang mempunyai kekuatan sangat penting sebagai alat pemasaran yang membantu menjual barang, memberikan layanan, serta gagasan atau ide-ide melalui saluran tertentu dalam bentuk informasi yang persuasif.[9]

Iklan politik mempunyai fungsi yaitu pertama untuk membujuk dan meyakinkan kalangan masyarakat untuk menentukan pilihan politiknya. Kedua untuk melakukan identifikasi atau pembedaan antara kandidat yang satu dengan kandidat yang lain. Ketiga untuk memberikan informasi mengenai apa yang disebut dengan visi (pandangan ideologis yang dijadikan sebagai acuan dalam bertindak), misi (tindakan atau praktik untuk menggunakan sumber daya kekuasaan), serta berbagai program (konsep-konsep politik yang dioperasionalisasikan sehingga dapat diukur secara matematis)[10]

 Budi Setiyono mengutip pendapat Miranty Abidin yang mengatakan bahwa iklan politik sangat berpengaruh untuk meraih suara pemilih. Keberhasilannya tentu tidak hanya ditentukan oleh iklan politik.Bantuan media partai juga menentukan sebagai sosialisasi dan kampanye partai politik. Dukungan koran partai politik memang tidak berbanding lurus terhadap hasil sosialisasi bagi setiap partai politik, tapi bagi partai-partai besar bisa dikategorikan sangat terbantu oleh koran partai politiknya, selain faktor iklan dan berita-berita televisi dan media cetak serta majalah umum.[11]

9. Polling And Survey

Elemen kesembilan dari marketing politik; polling dan survai adalah penting dijalankan dalam strategi marketing politik tujuannya adalah untuk melihat apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, supaya kita tahu sampai dimana iklan kita di terima oleh para pemilih, apa yang harus disampaikan , dan apa yang harus diubah dan apa yang harus diteruskan. Polling, riset, survai tidak bisa di pungkiri sangat penting dalam proses marketing politik .

Secara lebih spesifik dan terkait dengan produk politik dalam marketing politik yaitu: kandidat, partai, dan kebijakan, dibutuhkan sinergi strategi yang optimal, penggunaannya dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan produk politiknya. Dalam produk kandidat perseorangan misalnya, strategi push dibutuhkan untuk memperkecil jarak antara kandidat dengan calon pemilih; strategi pull digunakan untuk membentuk kesadaran dan pengenalan publik terhadap kandidat sekaligus program-program yang diajukannya; sementara strategi pass digunakan untuk memperoleh dukungan dari tokoh masyarakat untuk mobilisasi massa.

Dalam kasus produk partai, penekanan diberikan pada strategi push dan pass untuk membentuk simpati antara kader dan partai melalui aktifitas yang sekaligus melibatkan partisipasi masyarakat. Sedangkan strategi pull yang dijalankan melalui media massa digunakan untuk membentuk pemahaman mengenai program-program partai dan ideologinya. Dalam hal ini strategi pass porsinya lebih kecil untuk menarik simpatisan bagi partai melalui tokoh tertentu.

Sedangkan dalam kasus produk kebijakan, penekanan penggunaan strategi diberikan pada strategi pull dan pass. Ini dikarenakan strategi push digunakan untuk sosialisasi secara langsung, tapi hasilnya tidak terlalu relevan, sedangkan strategi pull dapat secara komprehensif memenuhi prasyarat untuk mensosialisasikan kebijakan secara menyeluruh dengan jangkauan yang lebih luas ke masyarakat. Sedangkan pendekatan strategi pass dibutuhkan karena dapat berguna juga sebagai lobi kepada tokoh masyarakat untuk menggalang dukungan terhadap kebijakan yang diusung.

Dalam ketiga pendekatan itu, pada akhirnya akan berhubungan dengan teori penilaian sosial diatas, bagaimana sebuah pesan diinternalisasikan oleh individu dan menjadikannya sebuah referensi yang berujung pada pilihan politik dan sikap politiknya untuk menentukan apakah pesan yang disampaikan melalui pendekatan-pendekatan diatas itu memang bisa menjadi referensi pilihannya atau tidak. Hal ini membenarkan salah satu tujuan dari Marketing Politik bahwa pemilih adalah obyek dari pemasaran politik, bukanlah obyek.

Inti Buku

Teori tersebut menjadi sangat penting dalam penelitian saya yang salah satu variabelnya adalah;  Positioning, Party, Policy, Person, Presentation, Pull Marketing, Puss Marketing. Dengan begitu, pendekatan ini sangat membantu sekali dalam melihat fenomena kemenangan Partai Demokrat pada pemilu legislatif khususnya faktor identifikasi person atau figur, bagaimana pengaruh tokoh sentral seperti SBY dan figur caleg dari partai Demokrat dalam mendulang suara kemenangan pada pemilu legislatif 2009 merupakan teori utama yang akan digunakan dalam menganalisis variable-variable atau indikator kemenangan sebuah partai, intinya penelitian penting dalam penelitian saya nantinya.

Penulis dapat menyimpulkan tulisan Adman Nursal, pesan dan subtansinya dapat disederhanakan yang menguraikan beberapa poin-poin penting dari sub marketing politik. Positioning –agar kreatif dan kredibel- harus dijabarkan dalam bauran produk politik yang meliputi 4P (policy, person, party, presentation). Policy, adalah tawaran program kerja jika terpilih kelak. Policy merupakan solusi yang ditawarkan kontestan untuk memecahkan masalah kemasyarakatan berdasarkan isu-isu yang dianggap penting oleh para pemilih. Policy yang efektif harus memenuhi tiga syarat, yakni meraih perhatian, mudah terserap pemilih, attributable. Person adalah kandidat legislatif atau eksekutif yang akan dipilih melalui Pemilu.

Kualitas person, dapat dilihat melalui tiga dimensi, yakni kualitas instrumental, dimensi simbolis, dan fenotipe optis. Ketiga dimensi kualitas tersebut harus dikelola agar kandidat attributable. Party, juga dilihat sebagai substansi produk politik. Partai politik mempunyai identitas utama, asset reputasi, dan identitas estetis. Ketiga hal tersebut akan dipertimbangkan oleh para pemilih dalam menetapkan pilihannya. Oleh karena itu, dalam political marketing, unsur-unsur tersebut harus dikelola dengan baik.

Presentation adalah, bagaimana ketiga substansi produk politik disajikan. Presentasi sangat penting karena dapat mempengaruhi makna pemilih. Presentasi dasajikan dangan medium presentasi. Produk politik disampaikan kepada pasar politik (political market) melalui push marketing (penyampaian produk langsung kepada masyarakat), pull marketing (penyampaian produk melalui pemanfaatan media massa), dan pass marketing (penyampaian produk kepada influencer group). Agar produk politik disampaikan tepat pada sasaran dilakukan polling dan berbagai aktivitas riset lainnya. Riset ini merupakan kebutuhan penting untuk pemetaan isu, pemetaan segmentasi dan pemetaan program.

Adnan Nursal juga menggambarkan kaitan tersebut dengan sangat baik dalam tulisan sepanjang  300 halaman itu. Ia mengawali tulisannya dengan Person sampai Pull Marketing. Person dalam tulisan tersebut berarti sama dengan figur yang mempengaruhi dalam memenangkan pemilu. Kedua Party misalnya, Nursal mengambarkan bagaimana jalan atau tidaknya mesin politik partai dalam pemilu. Terkait dengan Policy, diartikan dalam tulisan tersebut program kerja yang dijalankan oleh partai atau oleh individu kepala daerah, selama mereka kampanye bagaimana seorang tokoh politik menjual program kerja kepada masyarakat, atau dirasakan atau tidak program kerja selama menjabat oleh masyarakat.

Pendekatan marketing politik dalam Pemilu 2009 akan semakin intensif karena dukungan media massa. Saat ini industri media di Indonesia sangat maju pesat, sehingga memungkinkan digunakan secara intensif dalam marketing politik para kandidat baik perseorangan maupun kelompok. Ketiga teori yang dibahas di atas tentunya memiliki cara pandang masing-masing dalam melihat fenomena ini.

Teori Agenda Setting lebih melihat bahwa media mampu menonjolkan apa yang nantinya juga akan dianggap penting oleh khalayak. Teori Kultivasi melihat bahwa terpaan media massa termasuk marketing melalui media akan mampu menanamkan sikap dan nilai tertentu pada khalayak. Sementara Teori Spiral of Silence menunjukkan seseorang akan memerhatikan lingkungannya dalam rangka mempelajari pandangan mana yang semakin kuat dan yang mana semakin tidak populer.

Pandangan minoritas biasanya menyesuaikan diri dengan opini publik yang berkembang. Sementara media massa biasanya menjadi berpengaruh dalam pembentukan opini publik tersebut. Dengan demikian ketiga teori tersebut, cukup bisa menjelaskan realitas marketing politik partai-partai politik dalam perhelatan demokrasi .

Inti atau makna yang ditulis oleh Adman Nurzal dalam bukunya ada beberapa poin penting yang akan penulis jelaskan daalam bagian tulisan ini. Dalam kaitannya dengan pemasaran politik, penilaian sosial, yang sangat dipengaruhi bagaimana seorang individu memahami pesan yang ditangkap oleh inderanya dan akhirnya membentuk perilaku, sangat berkaitan dengan proses pemasaran politik. Bagaimana produk politik dipasarkan oleh pemasar politik, pada dasarnya adalah penyebaran pesan dalam berbagai cara pendekatan. Nursal (dalam Firmanzah, 2007) mengatakan bahwa 3 pendekatan yang dapat dilakukan untuk mencari dan memperoleh dukungan politik atau memasarkan produk politik, yaitu:

1. Push Marketing, dimana kandidat atau partai politik berusaha mendapatkan dukungan melalui stimulan yang diberikan secara langsung kepada pemilih.

2. Pass Marketing, dimana pemasaran produk politik melalui orang atau kelompok berpengaruh yang mampu mempengaruhi opini pemilih.

3.Pull Marketing, dimana pemasaran produk politik melalui media massa yang menitikberatkan pada image atau citra produk politik tersebut.

Komentar Penulis Tentang Buku

 

Adnan Nursal  dalam bukunya tersebut pada halaman 28-70 juga menjelaskan bagaimana pengaruh iklan atau Pull Marketing pengaruhnya untuk pencitraan atau image agat merebut hati pemilih di hari pencoblosan. Tidak hanya sampai disitu Adman Nursal mengemukakan bagaimana kemudian menjaga pemilih agar tetap memilih sampai pada hari atau titik pencoblosan, inilah yang dikatan oleh Adman Nursal telah berhasil membanguan Marketing politik yang hebat.

Jadi sekali lagi penulis melihat tulisan Adnan Nursal, menjalankan strategi kampanye seperti judulnya adalah strategi untuk memenangkan pemilu baik pemilu legislatif, pemilu Presiden dan pemilu kepala daerah, yang dikelompokkannya beberapa bentuk desain baru, Artinya penulis menganalisis kemenangan seseorang dalam memenangkan pemilu tidak bisa dinafikan dari bagaimana calon membangun person, membangun mesin partai, bagaimana kebijakan atau program kerja yang dijual ke masyarakat, dan bagaimana iklan untuk menyampaikan pesan-pesan sehingga pada hari H dipilih dibilik suara.

Saya  melihat dan menganalisis  tulisan diatas dalam marketing politik, politisi sebelum melangkah harus lebih dahulu memetakan dan menganalisis lingkungan, memahami perilaku pemilih, melakukan segmentasi, targeting dan positioning. Segmentasi diperlukan untuk memilah-milah pemilih berdasarkan aspek geografis, demografis atau psikografis. Dengan segmen yang jelas, maka politisi dapat melakukan targeting yaitu memilih target sasaran (pemilih) secara tepat.

Langkah-langkah di atas perlu dilakukan, agar program dan kegiatan yang akan dilaksanakan bisa berjalan efisien dan efektif. Setelah mengetahui dan memahami siapa calon pemilih, mereka perlu melakukan positoning, yaitu menyusun serangkaian simbol-simbol, slogan, jargon atau identitas tertentu yang singkat dan sederhana yang gampang menancap di benak masyarakat. Sebagai contoh bila ada orang mengatakan ”Bersama kita bisa“ pasti orang akan ingat slogan SBY waktu Pilpres 2004.

Penulis menganalisis urain tulisan yang disampaikan ditas, sebenarnya lebih menekankan pesan-pesan yang disampaikan untuk dapat diterima oleh otak kanan dan otak kiri pemilih tentang pencitraan, sampai rakyat memilih dikotak suara, berarti marketing politik sudah berhasil untuk penyampaikan pesan agar mereka dipilih. Penelitian menunjukkan bahwa orang membuat penilaian berdasarkan pada acuan atau titik referensi. Acuan internal atau titik referensi selalu ada dan mempengaruhi cara seseorang merespon pesan. Semakin penting suatu masalah bagi ego seseorang, semakin kuat acuan itu akan mempengaruhi apa yang dipahami.

 


[1] Media Indonesia. Opini. “Lakunya Marketing politik Di Indonesia akibat tingginya Swim Voter”. 23 Juni 2009

[2] Harris, P. Macheiveli. “Political Marketing and Reaventing Government”. Eroupean Jurnal Marketing Political.36..9-10 hlm. 1135-1154.

[3]Nursal,Adman.(2004) Political Marketing, Strategi Memenangkan Pemilu Sebuah Pendekatan Baru Kampanye Pemilihan DPR,DPD,Presiden, Jakarta:PT Gramedia.hlm 296-300

 

[4] Marketing adalah pemasaran, bagaimana memasarkan produk produk supaya di pilih oleh masyarakat, di Negara-Negara maju, penerapan prinsip prinsip marketing telah meluas keluar institusi bisnis. Di Amerika Serikat, ahli ahli pemasaran sangat terlibat dalam persaingan dalam memperebutkan kursi presiden maupun parlemen. Angkatan bersenjatanya membuat rencana membuat pemasaran untuk menarik minat para calon tentara. Lain pasarnya lain konsumennya sehingga muncul cabang cabang baru marketing seperti marketing not-for—profit organization (pemasaran organisasi nirlaba) dan social marketing (pemasaran sosial) dan person marketing (menciptakan citra diri untuk dipilih oleh orang).

[5]     Nursal,Adman.(2004) Political Marketing, Strategi Memenangkan Pemilu Sebuah Pendekatan Baru Kampanye Pemilihan DPR,DPD,Presiden, Jakarta:PT Gramedia.hlm 296-300

 

[6] Ibid.,hal 194

[7](Parson, 1971).

[8]Rendra Widyatama, Pengantar Periklanan, Pustaka Book Publisher, Yogyakarta, hal 13

[9] Ibid., hal 15

[10]TriyonoLukmantoro, Kontes Politik di Panggung Media Massa, Kompas, 12 Juni 2004.

[11]Budi Setiyono dan RTS Masli, Iklan dan Politik: Menjaring Suara Dalam Pemilihan Umum, AdGoal Com, Jakarta, 2008, hal 56

 

You are here: Home Makalah Analisis Politik|Pangi Syarwi: Marketing Politik (Bagian 2)